Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 70 Amarah Rey dan Yeon


__ADS_3

Tidak salah lagi, bayangan hitam itu adalah makhluk mengerikan yang diceritakan Yeon pada Leo tadi, yaitu adalah naga. Wujudnya mirip seperti makhluk mitologi yang banyak dikenal orang dalam ragam budaya. Citra naga di peradaban timur, terutama di Tiongkok, dianggap sebagai sosok yang bijaksana dan agung layaknya Dewa.


Naga adalah satu-satunya hewan mitos yang menjadi simbol Shio. Hiasan berbentuk naga juga sangat lekat dengan budaya Jawa, umumnya terdapat digamelan, pintu candi dan gapura sebagai lambang penjaga. Itulah sedikit gambaran tentang naga yang Leo dan Shena ketahui. Begitu melegenda sekali sosok makhluk besar dengan wujud ular bersayap ini sehingga keberadaannya menjadi mitos tersendiri.


Terlepas dari semua itu, yang menjadi pertanyaan besar dalam benak Leo sekarang adalah? Benarkah sosok naga yang ada dihadapannya ini nyata? Ataukah hanya khayalan semata? Sebab, sebagai makhluk mitologi, rasanya tidak mungkin bila naga masih ada dizaman modern seperti sekarang ini. Saking shocknya Leo, ia tidak sadar kalau mobilnya sudah berhenti bergerak dan naga itu sedang mengitarinya di udara.


“Leo, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Shena gugup, panik dan juga takut. Tubuhnya serasa mati rasa dan ia tidak bisa bergerak sama sekali. Ia masih belum bisa memercayai semua ini walau naga itu memang ada di depan mata kepalanya.


Leo terdiam. Ia tahu tidak mungkin baginya dan Shena melarikan diri dari tempat ini apalagi dengan kondisi Bima sedang tak sadarkan diri. Kalaupun mereka bisa kabur, hanya dalam hitungan detik, naga yang berbentuk ular bersayap itu pasti langsung menangkapnya dengan mudah. Leo tidak punya cara lain lagi selain menyerah, bukan dalam artian kalah, tapi untuk mencari tahu siapa dan apa motif naga ini melakukan semua ini pada keluarganya.


“Sayang, tinggalkan Bima disitu, aku akan mengalihkan perhatian naga ini, cepat hubungi Rey dan Yeon supaya kembali kemari,” ujar Leo lirih supaya naga itu tidak mendengar pembicaraannya dengan Shena.


Mata suami Shena itu terus menatap tajam naga yang terbang mengelilinginya. Wujud naga itu benar-benar besar melebihi raksasa. Ini pertama kalinya dalam hidup Leo, ia melihat monster sungguhan tepat dihadapannya.


Shena mengerti maksud Leo dan ia segera mengambil ponselnya. Namun, belum sempat Shena mengontak nomer Rey, tiba-tiba saja naga itu bergerak cepat melahap mobil yang ditumpangi Leo dan Shena berserta Bima kedalam mulut besarnya tanpa peringatan terlebih dulu. Hanya dalam hitungan detik, Leo dan kaluarganya telah hilang ditelan oleh naga hitam itu.


Makhluk berwujud ular bersayap itupun terbang tinggi dan menghilang tanpa jejak meninggalkan lokasi dimana Leo dan Shena tadi berada sebelum sang naga melahapnya. Kini, satu keluarga itu sedang dalam tangkapan makhluk mitos yang melegenda dan dibawa pergi entah kemana. Tidak ada yang tahu bagaimana kondisi Shena, Leo dan Bima sekarang.


Rey merasakan ada sesuatu yang buruk. Tanpa alasan yang jelas, ia langsung mengerem dadakan laju mobilnya sehingga kepala Yeon hampir saja membentur dasbor mobil.


“Apa yang kau lakukan? Kau bisa menyetir, tidak sih? Sini, biar aku saja yang nyetir. Kau membuatku hampir kehilangan nyawa sebelum waktunya.” Yeon ngedumel kesal pada sepupunya karena telah hampir membuatnya celaka. Sementara Rey benar-benar merasa khawatir dan tidak peduli dengan ecehan Yeon.


“Kita putar balik,” ujar Rey sehingga membuat Yeon bingung.

__ADS_1


“Hah, memangnya kenapa?”


“Entahlah, hatiku tidak tenang, aku takut terjadi sesuatu dengan paman Leo dan yang lainnya.”


“Tapi Ayah sedang dalam perjalanan kerumah sakit sekarang, kau bilang kita sudah tidak punya waktu lagi. Ada apa dengamu?” tanya Yeon. Ia sama sekali tidak tahu apa yang ada dipikiran Rey sekarang.


“Entahlah Yeon, aku sungguh tidak tenang. Aku mengkhawatirkan paman Leo. Berhenti bicara atau kusumpal mulutmu dengan sandal. Kau berisik sekali!” ujar Rey kesal. Ia memutar balik mobilnya dan melaju kencang menuju kearah Leo pergi.


Benar dugaan Rey, putra Refald itu berhenti tepat ditempat naga hitam tadi melahap Leo dan yang lainnya beserta mobilnya. Rey menemukan salah satu spion kaca mobil yang dikendarai Leo tergeletak begitu saja ditengah jalan. Wajah Rey memucat dan tubuhnya langsung menegang. Seketika ia berteriak sekencang-kencangnya hingga awan hitam datang menyelimuti Rey dan sekitarnya.


“Aaaaarrrrgghhhh!” teriak Rey dengan penuh emosi seakan ia tahu apa yang sudah menimpa Leo dan keluarganya.


Dengan kepalan tangan yang amat sangat kuat, Rey sudah tidak bisa lagi menahan semua ini. Mata merahnya menyala dan ia hampir saja kalap. Namun, disaat bersamaan ia melihat bayangan Rhea yang mengatakan bahwa ia tidak boleh marah, jika tidak maka Rey akan kehilangan kekuatannya.


Melihat sekelebat bayangan wanita yang amat dicintainya. Rey terduduk lunglai. Ia merutuki dirinya sendiri yang lemah karena tidak bisa melindungi orang-orang yang dicintainya.


Sementara Yeon hanya bisa terperangah tanpa berani bicara. Pasalnya, ia masih tidak percaya dengan semua hal aneh yang terjadi disni. Tidak mungkin kalau ayah dan ibu serta adiknya hilang juga seperti yang lainnya. Dan pelakunya, siapa lagi kalau bukan sang naga yang sempat menyerangnya tadi.


Dalam situasi seperti ini, Yeon harus memikirkan satu cara untuk memancing naga itu muncul dihadapannya lagi. Matanya masih menatap lurus kejalan. Ia marah, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ini diluar kemampuannya, tapi Yeon tidak bisa terima jika sampai naga itu menyakiti ayah, ibu dan juga saudaranya. Apapun akan Yeon lakukan untuk membalas perbuatan naga itu walau ia harus bertaruh nyawa.


“Kak, Rey. Bangunlah, kau hanya buang-buang waktu saja jika terus seperti itu.”


“Diam kau! Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini!”

__ADS_1


“Aku tahu, bukan hanya kau saja yang kehilangan! Aku juga. Aku jauh lebih marah darimu. Paman dan Bibi serta kekasihmu mungkin masih bisa melindungi diri karena mereka bukan manusia biasa. Tapi ayah, ibu dan adikku ... mereka sangat lemah, Bima sudah sekarat seperti itu, apa kau bisa membayangkan bagaimana keadaan keluargaku sekarang?”


“Lalu aku harus apa? Tertawa?” teriak Rey sambil berdiri menatap Yeon. “Aku bahkan tidak bisa melampiaskan api kemarahanku. Apa kau tahu betapa tersiksanya aku? Aku punya kekuatan tapi tidak bisa kugunakan?”


“Itulah maksudku, gunakan kekuatanmu dan akulah yang akan menjadi umpan.” Yeon menatap tajam mata kakaknya.


“Apa maksudmu?” tanya Rey.


“Aku akan menjadi umpan untuk memancing kedatangan naga itu kemari.” Yeon menjelaskan maksud ucapannya.


“Tapi ... bagaimana caranya? Kita bahkan tidak tahu ada dimana makhluk besar itu sekarang.”


“Kita memang tidak tahu ada dimana si ular bersayap itu, tapi dia tahu keberadaan kita. Kita tidak perlu bersusah payah mencarinya, biar dia sendiri yang datang kemari.”


“Caranya?” tanya Rey menatap tajam mata adiknya.


Yeon tidak langsung menjawab, muncul guratan senyum dari sudut bibirnya. Sepertinya putra sulung Leo itu tahu bagaimana cara mendatangkan naga itu kemari tanpa perlu bersusah payah mencarinya kesana kemari.


BERSAMBUNG


***


Lanjut nggak ya? Viuh ... yang nulis juga ikutan tegang gaes. Semangatin aku dong, biar bisa lanjut lagi sampai nanti malam. Ayooo halu bersamaaa!

__ADS_1


__ADS_2