
Ayah mertua Rey sama sekali tidak bergemimg dari tempatnya. Dan itu membuat Rey semakin heran, sudah tahu kalau putrinya sedang dalam bahaya, tapi pak Po malah terlihat santai disini, dan menahannya untuk tidak pergi.
“Ayah, dengarkan aku.” Rey menatap tajam pak Po. “Istriku … wanita yang amat aku cintai dan tak lain adalah putri Ayah sendiri … sedang dalam bahaya besar di sana. Sebagai suaminya, tak mungkin aku membiarkan Rhea bertarung sendirian meskipun aku tak bisa membantunya. Setidaknya, aku ingin melihat wanitaku baik-baik saja. Tolong … biarkan aku pergi menyusul Rhea. Jika Ayah khawatir dengan keselamatanku, maka tetaplah bersamaku dan lindungi aku, tapi jangan halangi aku untuk selalau berada disamping istriku.” Mata Rey berbinar terang untuk meyakinkan ayah mertuanya agar Rey diiizinkan menyusul Rhea yang jinni sudah berada di sebuah hutan rimba.
Awalnya, pak Po ragu, tapi mata Rey jelas memancarkan ketulusan cintanya terhadap Rhea dan entah kenapa, seketika membuat otak pak Po tak kongslet lagi. Sebelum mengambil keputusan, pak Po meminta izin pada Refald tentang apa yang akan ia lakukan untuk membawa Rey ke tempat Rhea berada saat ini. Mengetahui itu, Refald langsung mengizinkan keputusan yang pak Po ambil tanpa syarat apapun seolah ikut memastikan bahwa tidak akan terjadi hal-hal yang berbahaya lagi.
“Baiklah, Pangeran. Pegang tangan saya.” Pak Po mengulurkan tangan kanannya dan dengan cepat, Rey menerima uluran tangan mertuanya. Keduanya langsung menghilang dalam sekejap menuju tempat Rhea berada.
Sementara Refald sendiri, menghimbau semua para tamu undangan menuju kamar mereka masing-masing untuk beristirahat sejenak setelah mengalami serangkaian kejadian panjang yang menguras emosi jiwa. Refald tidak ingin melibatkan keluarga besarnya lagi karena ia akan menangkap sendiri orang yang menjadi dalang dari semua kekacauan yang terjadi. Semua orang termasuk Leo berserta keluarganya, pergi mengikuti arahan sang tuan rumah dan menuju kamar yang sudah disediakan untuk semuanya.
“Kau yakin tak butuh bantuanku, Kak?” tanya Leo sebelum ia ikut pergi kekamarnya bersama Shena.
“Yang kau hadapi ini bukan mafia, Leo. Kau tak bisa ikut campur lagi. Istirahatlah dengan Shena di dalam, sisanya biar aku dan pasukanku saja yang membereskan semua ini.”
“Ya sudah, tapi … apa kau melihat Yeon dan Bima? Aku tidak melihat putraku itu dimana-mana. Padahal, sebelumnya tadi mereka ada di sini.” Leo mengamati sekeliling untuk mencari kedua putranya, tapi hasilnya nihil.
“Gawat!” seru Refald dan ia langsung mengerahkan seluruh pasukan dedemitnya untuk mencari keberadaan Bima dan Yeon, sebab kedua keponakannya itu tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Sepertinya … ada yang sudah menculik mereka berdua. “Segera berpencar dan temukan kedua kepoanakanku dalam keadaan hidup. Cepat hubungi aku begitu kalian mengetahui dimana keberadaan mereka. Cepat pergi!” teriak Refald dengan api kemarahan yang besar. Ia merasa kecolongan karena tak mengawasi Yeon dan Bima lebih ketat. Refald segera bergegas pergi, tapi Leo menghalangi langkahnya.
“Bawa aku bersamamu!” tandas Leo.
__ADS_1
“Ini berbahaya Leo, yang kau hadapi ini bukan manusia. Kau bisa terluka!” Refald menolak.
“Apa kau pikir aku bisa tenang disini sementara kedua putraku dalam bahaya di luar sana? Ayah macam apa aku membiarkan putranya begitu saja sementara aku berlindung di sini tanpa mereka!” seru Leo pada Refald. “Manusia atau bukan, aku tidak akan pernah memaafkan mereka yang mencari gara-gara denganku. Beraninya mereka menculik putra-putraku! Ajak aku bersamamu atau aku hancurkan tempat ini!” Leo sangat serius dengan ucapannya.
Refald tak punya pilihan lain, ia mengenal betul seperti apa Leo, adiknya ini sangat keras kepala dan tak suka dibantah. Dengan pertimbangan yang matang, Refaldpun akhirnya membawa Leo bersamanya menuju kesuatu tempat yang bisa membuat Refald memantau segala situasi yang terjadi area ini.
“Honey, kau tunggu disini bersama Shena. Aku akan segera kembali begitu semua urusan selesai, secepatnya.” Refald memegang lembut pipi Fey.
“Apa … sebaiknay kau ikut denganmu?” tanya Fey. Ia agak keberatan jika REfald harus pergi sendirian tanpanya.
“Sebagai tuan rumah, harus ada salah satu dari kita yang menetap disini untuk menemani para tamu undangan kita. Aku tidak akan lama, percayalah padaku. Akan aku temukan dua keponakan bengalku itu dan membereskan orang-orang yang berani mengacaukan pesta pernikahan putra -putri kita.” Refald emncium mesra kening Fey. Mata istri Refald itru berkaca-kaca karena perasaanya tidak enak.
Namun, yang dikatakan Refald memang benarm tidak mungin ia meningggalkan semua orang ada di istana ini begitu saja. dengan hati yang berat, terpaksa Fey menyetujui ucapan suaminya berharap semuanya bisa terselesaikan dengan baik.
“Hati-hati …” ujar Shena agak sedikit khawatir.
“Ehm, tunggu kedatanganku kembali dan sambut aku dengan mesra nanti,” ujar Leo masih sempat-sempatnya sok mesra dengan Shena.
“Sudah, sana pergi!” Shena mendorong tubuh suaminya sebelum Leo melantur kemana-mana.
__ADS_1
“Kau tidak ingin menciumku?” Leo masih saja bisa minta jatah begitu.
“Nanti kalau kau sudah kembali dan membawa pulang kedua putra kita, aku akan menciumimu sepusanya.” Lama-lama Shena kesal juga dengan suaminya yang nggak ada akhlak ini.
“Sedikit saja!” rayu Leo.
“Tidak mau!” bentak Shena langsung. “Kak Refald, bawa suamiku secepatnya pwergi dari sini, sebelum tensi darahku naik,” pinta Shena pada Refald.
Suami Fey itu hanya tertawa dan menatap lembut wajah istrinya. “Dah, Honey. Sampai jumpa lagi.” Refald tersenyum penuh pesona pada Fey yang diam tanpa ekspresi seolah enggan merelakan kepergian suaminya.
Entah kenapa hati Fey tidak tenang. Tapi … tak ada yang bisa ia lakukan. Fey hanya berharapa semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi.
Refald langsung menarik kerah Leo dari belakang sebelum adiknya ini bertindak semakin menjengkelkan. “Kak! Tunggu sebentar, napa? Aku harus mendapatkan ciuman dulu dari Shena!” berontak Leo.
“Dia tidak mau menciummu! Kenapa kau memaksanya?” Mungkin Refald juga tidak sadar kalau ia sendiri sedang menyeret paksa Leo keluar dan membawa adiknya bertelepati menuju tempat yang sudah Refald tandai.
“Kakaknya saja tukang paksa, gimana adiknya? Dasar duo somplak!” gumam Fey sambil menatap kepergian suami dan adik iparnya.
Hanya dalam hitungan detik, Refald dan Leo tiba di sebuah tempat yang lokasinya berada di tengah hutan rimba. Namun, seorang raja yang luar biasa seperti Refald, ternyata masih bisa terkecoh oleh alam. Begitu Refald dan Leo sampai ke dalam hutan, tubuh Refald langsung lemas dan ia terjatuh ke tanah bersama dengan Leo yang tadi sempat ia bawa bertelepati bersama.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***