Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 98 Bapernya pak Po


__ADS_3

Kedatangan seseorang yang tidak lain adalah Divani, ibu dari Rhea sendiri, membuat istri Rey itu langsung berlari memeluk ibunya. Ia sangat merindukan wanita cantik berdarah Norwegia yang anggun dan baik hati ini. Apalagi, sekarang adalah hari spesialnya bersama Rey untuk memulai sebuah kehidupan baru sebagai pasangan suami istri. Tentu saja, Rhea sangat membutuhkan kedua orangtuanya untuk mendampinginya.


“Ibu …,” seru Rhea.


Tak terasa, air mata Rhea membasahi wajah cantiknya karena terlalu bahagia. Ia tak hanya bisa menikah dengan pria yang dicintainya, tetapi … seluruh keluarganya dan keluarga suaminya kini sudah kembali bersatu selamanya. Dan pastinya, tidak akan ada kata perpisahan lagi.


“Selamat datang kembali dan selamat untuk pernikahan kalian berdua. Aku tak bisa memberikan apa-apa selain dukungan dan doa restu supaya kalian bisa terus hidup bahagia selamanya.” Divani melepas pelukan putrinya dan membantu mengusap sisa bulir air mata Rhea. “Ini hari bahagiamu, Sayang. Jangan menangis, oke! Tersenyumlah, kini kau berhak bahagia.” Divani bahagia melihat betapa cantik dan menawannya Rhea saat ini. Ia juga tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya ketika melihat putri semata wayangnya kini sudah menjadi istri dari putra rajannya sendiri.


“Terimakasih Ibu, kami tidak menginginkan apapun selain doa restu dari kalian semua,” ujar Rey dari balik punggung Rhea dan Divani langsung menundukkan kepalanya. Meskipun status Rey kini adalah menantunya, Rey tetaplah seorang pangeran yang harus ia hormati.


“Saya serahkan putri saya kepada anda Pangeran, tolong jaga dia baik-baik.” Mata Divani mulai berkaca-kaca melihat gadis kecil mungilnya, kini sudah bukan milik Divani lagi. Melainkan milik suaminya seutuhnya.


“Aku berjanji padamu, Ibu. Aku akan selalu membahagiakan Rhea, dan tidak akan pernah kubiarkan dia mengeluarkan air mata lagi setelah ini. Ini janji seorang pangeran Mirza Anta, putra dari raja Mirza Banta. Ibu bisa pegang kata-kataku,” ujar Rey sungguh-sungguh dan Rhea semakin terharu melihat ketulusan cinta suaminya terhadap dirinya.


“Terimakasih banyak Pangeran, kami sepenuhnya percaya pada anda. Tidak ada pria manapun di dunia ini, yang cocok bersanding dengan Rhea selain anda, Pangeran. Suatu kehormatan besar bagi keluarga kami karena anda bersedia menerima Rhea apa adanya. Bahkan terlihat jelas, cinta yang anda miliki untuk Rhea begitu besar dan dalam. Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti kalian selama-lamanya.” Divani semakin bahagia karena putrinya terlihat senang. Pancaran wajah Rhea berbinar terang saat menatap wajah suaminya.


“Jangan berkata begitu, Ibu. Rhea adalah hidupku. Disetiap napasku ini, hanya ada nama Rhea seorang. Aku sangat beruntung bisa memiliki Rhea seutuhnya. Terimakasih atas kepercayaan yang ibu berikan padaku. Mulai hari ini, Rhea adalah tanggungjawabku. Ibu dan ayah, tak perlu risau lagi soal Rhea.”


Mendengar kalimat Rey yang diucapkan pada ibunya, Rhea langsung memeluk tubuh Rey seketika tepat didepan Divani. “aku mencintaimu, Pangeranku. Sangat mencintaimu,” seru Rhea.


“Aku juga, Sayang. Tapi … bisa kau lepaskan pelukanmu? Aku malu ...,” gurau Rey.


Wajah suami Rhea itu tak terlihat malu sama sekali. Rhea tersadar kalau masih ada ibunya disini. Iapun melepaskan pelukannya dan menundukkan wajahnya tanpa berani melihat Divani yang sangat shock berat. Ternyata, putri lugunya, berubah seliar ini bila ada didekat Rey. Namun, sebagai sesame waniat dewasa yang sudah berkeluarga, Divani mencoba memaklumi perasaan putrinya. Siapapun, pasti akan melakukan hal sama bila memiliki suami seperti Pangeran Rey yang selalu ingin dipeluk dan dicintai sepenuh hati.

__ADS_1


“Dimana ayah, Ibu? Kenapa aku tidak melihatnya?” tanya Rey mencairkan suasana walau ia sebenarnya sangat ingin bermesraan bersama Rhea.


“Raja dan ratu sedang dalam perjalanan kemari, mungkin sebentar lagi sampai …”


“Bukan orangtuaku, Ibu. Kalau itu aku sudah tahu, maksudku … ayah mertuaku. Pak Po …”


Divani terdiam, sesekali ia menoleh ke belakang. “Dia … sedang ada dibalik pintu itu, Pangeran.”


Rey mengikuti arah petunjuk ibu mertuanya. “Apa yang sedang ayah lakukan dibalik pintu? Kenapa tidak masuk kemari?” tanya Rey bingung.


“Sepertinya, suamiku sedang menangis karena tak kuasa melihat anda dan juga putri kesayangannya, kini sudah sah menjadi pasangan suami istri yang bahagia.”


“Oh, iya? Kenapa bisa begitu?” Rey dan Rhea saling pandang, ingin tertawa tapi mereka tidak tega.


Rey mencoba memahami kondisi ayah mertuanya yang saat ini sedang mengalami kebaperan tingkat dewa bahkan sampai tak sanggup bertemu dengannya. Untuk sesaat, Rey jadi berpikir, suatu saat nanti, ia pun pasti akan merasakan hal sama seperti yang pak Po rasakan sekarang. Sebab, ia juga akan menjadi seorang ayah dan hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mengetahui kabar kehamilan Rhea.


“Apa yang kau lakukan disini, pak Po? Dan kenapa kau menangis?” tanya seorang wanita anggun.


“Harusnya kau bahagia, pak Po? Ini hari spesial putrimu, kenapa kau malah baper begitu? Lihat aku, aku baik-baik saja dan sangat bahagia,” tambah seorang pria tampan yang berdiri disisi wanita anggun tadi.


Bila di dengar dari suara mereka, Rey tahu dan hafal siapa pemilik suara tersebut. Siapa lagi kalau bukan suara kedua orang tuanya, raja dan ratu dedemit alias Refald dan Fey.


“Akhirnya, mereka sudah datang,” ujar Rey tersenyum. Iapun berjalan pelan menuju kearah kedua orangtuanya berada.

__ADS_1


“Bagaimana saya tidak beper, raja?” ujar pak Po. “Anakku sudah menjadi milik putra kalian berdua. Dia sudah bukan milik kami lagi. Tinggalah aku dan Divani saja sekarang.” Pak Po mengusap air matanya dan itu membuat Fey ingin tertawa tapi trenyuh juga.


Dasar dedemit tukang baper, batin Fey sambil menyembunyikan senyumnya dibalik punggung Refald.


“Kau terlalu hiperbola pak Po? Putrimu itu menikah, bukan dujual? Kau tetap ayahnya meskipun dia sekarang menajdi bagian dari keluargaku! Dasar kau ini!” decak Refald kesal.


“Apa yang anda katakan, Raja? Saya tidak sedang menjadi kipper dalam olahraga sepak bola? Saya sedang beper Raja, BA-PER!” isak pak Po.


Refald menutup matanya dengan satu tangan. “Bicara denganmu membuatku darah tinggi saja, pak Po? Siapa yang mengatakan kalau aku itu kiper sepakbola, ha? Hiperbola! Artinya, kau itu lebay sekali! Dasar bodoh! Bagaimana bisa aku punya anak buah sekaligus besan model dirimu? Haish!” Refald kesal dan ia langsung berlalu pergi begitu saja meninggalkan semua orang yang sejak tadi menahan tawa mendengar pembicaraan antara Refald dan pak Po.


“Kau ini! Kenapa kau tidak pintar-pintar, sih? Apa kau ingin kujadikan manusia lagi?” sengal Fey ikutan kesal karena telah membuat suaminya jadi badmood begitu. Feypun juga pergi menyusul suaminya.


“Memang apa salah saya, Ratu? Saya baru tahu kalau ada kipper sepakbola lebay?” terika pak Po pada Fey dan pastinya Fey semakin dongkol dan memilih tak menggubris ocehan pak Po.


Pak Po sendiri sangat terkejut saat melihat Rey tiba-tiba sudah ada dihadapannya menggantikan posisi kedua orangtua Rey barusan. “Alamak, Pangeran! Anda bikin kaget saya saja,” ujar pak Po dengan tingkah lucunya.


BERSAMBUNG


***


Aku kasih visual pak Po yang bening banget, hehehe ….


__ADS_1


dilihat dari sudut manapun, pak Po tetep stay cool banget ya, hehe


__ADS_2