
Mendengar pertanyaan ayahnya, Rhea bingung harus menjawab apa. Sebab, ayahnya ini lemot sekali, Rhea tidak yakin kalau pak Po bakal mengerti penjelasan darinya. Berbicara dengan pak Po, harus siap mengalami tekanan batin. Mengetahui hal itu, Reylah yang angkat bicara menggantikan istrinya yang bingung harus berkata apa.
“Tadi itu cuma akting saja Ayah, aku berpura-pura bertengkar dengan Rhea,” jelas Rey singkat. Ia berharap, pak Po cepat tanggap.
“Kenapa?” tanya pak Po.
Padahal jawabannya sudah pasti untuk mengetahui manakah pak Po yang asli dan yang palsu. Namun ayah Rhea ini dengan polosnya masih bertanya alasan kenapa Rey dan Rhea pura-pura bertengkar bahkan sampai melakukan adegan menampar wajah polos pak Po segala.
“Ayah, Rey melakukan itu untuk mengetahui manakah ayah yang asli. Baik ayah ataupun kloningan ayah, sama-sama menyebalkan sekali. Kami jadi bingung dan sudah tidak bisa bersabar lagi. Alasan kenapa Rey menggampar wajah Ayah, itu karena dia tahu, Ayah tidak mungkin berani membalas perbuatan Rey pada Ayah dan walaupun dia menyakiti Ayah. Sebab, bagaimanapun juga, Rey adalah putra dari raja yang Ayah ikuti selama ini,” terang Rhea panjang lebar.
Entah ayahnya ini mengerti apa tidak maksud ucapannya. Satu pak Po saja sudah bikin puyeng kepala, apalagi kalau ada dua?
“Ooh, makanya kau langsung menyerang kloninganku tadi, sebab dia berani melukai suamimu?” ujar pak Po
“Tepat sekali, Ayah.” Rhea bernapas lega karena ayahnya mengerti penjelasannya
“Tapi kenapa?” tanya pak Po lagi dan seketika membuat Rhea jadi darah tinggi.
“Apanya yang kenapa?” mata Rhea melotot menatap wajah polos ayahnya. Sudah Rhea duga, ayahnya ini tak semudah itu mengerti.
“Kenapa kalian bertengkar dan menggamparku dengan kearas!” ekspresi pak Po masih terlihat heran.
“Kan sudah kubilang Ayah, untuk mengetahui manakah ayah yang asli dan yang palsu!” Rhea hampir saja menjerit. “Ayah mengerti bahasaku tidak, sih?” lama-lama Rhea emosi juga.
Pak Po terdiam sebentar untuk mencerna kata-kata putrinya. Sedangkan Di, hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia sudah tak keget lagi dengan sikap polos dan bloonnya pak Po. Meskipun begitu Di tetap cinta mati sama pak Po. Kalau Rey, jangan ditanya, mati-matian ia menahan tawa agar tidak muncrat keluar. Sebagai gantinya, ia menyembunyikan tawanya dengan menundukkan kepala.
__ADS_1
“Astaga, jangan-jangan aku salah memusnahkan mekhluk astral, apakah yang kumusnahkan tadi … adalah yang asli?” gumam Rhea lirih.
“Tidak Sayang, memang dialah ayah mertuaku yang asli. Kau tidak salah, sudah jelas sekali. Inilah pak Po yang sebenarnya, selalu saja bikin kita sakit kepala.” Rey ingin tertawa lagi tapi ia tidak tega. Sebloon dan sebodoh apapun pak Po, salah satu pasukan dedemit Refald itu adalah mertuanya dan Rey harus tetap menghormatinya sebagai mertua, bukan sebagai bawahannya.
Untunglah Rhea sedikit terhibur mendengar ucapan suaminya. Namun, tiba-tiba saja, Rhea tersentak dan merasakan sesuatu. Sesuatu itu benar-benar mengusik hati dan perasaannya solah ia pernah merasakana aura yang seperti ini. Seketika Rhea berlari ke dekat jendela dan mengmati pegunungan yang terhampar luas di depan matanya. Berkali-kali Reha memicingkan mata untuk menegamati aura meresahkan itu benar-benar ada di area pegunungan itu.
“Ada apa, Sayang? Apa yang kau lihat?” tanya Rey jadi cemas, sebab istrinya tiba-tiba saja bersikap aneh seperti itu.
“Aku merasakan sesuatu. Aku yakin aku pernah mengenali aura semacam ini, tapi aku tidak tahu … apa itu?” jawab Rhea masih menatap tajam pegunungan itu.
“Apa kau yakin?” tanya Rey sekali lagi.
Kemungkinan besar, aura yang dirasakan istrinya adalah milik dalang dibalik serangan yang dilakukan para monster bertopeng ini. Jika benar begitu, orang itu harus segera dimusnahkan juga agar tak lagi mengganggu ketenangannya dengan Rhea. Sayangnya, Rey tak bisa menggunakan kekuatannya sekarang sehingga ia tidak dapat melakukan apa-apa. Rey merutuki dirinya sendiri karena disaat genting begini, kekuatannya malah hilang. Ia merasa menjadi orang yang paling tidak berguna di sini.
“Kalian semua tunggu disini, aku harus membereskan orang yang sudah membuat kekacauan di pesta resepsi pernikahanku dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan perbuatannya! Beraninya dia cari gara-gara denganku!” geram Rhea penuh amarah.
“Rhea, jangan! Kau tidak boleh pergi ke sana sendirian, tunggu aku Sayang!” teriak Rey dengan lantang tapi terlambat, Rhea sudah terlanjur terbang tinggi menuju pegunungan itu seorang diri. “Wuah, daebak. Istriku keren sekali, sejak kapan dia bisa terbang secepat itu?” gumam Rey takjub dan juga juga cemas.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pangeran?” tanya Divani juga ikut mencemaskan putrinya, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa sebelum mendapat titah dari pangeran ataupun rajanya. Hal itu juga beralku untuk pak Po.
“Ibu, tolong ikuti Rhea, aku khawatir padanya. Cepatlah, Ibu!” seru Rey pada Divani.
“Lalu … bagaimana dengan anda sendiri?”
“Aku aman selama ada ayahku disini, Ibu. Aku mohon lindungi Rheaku.” Wajah Rey terlihat serius.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu,” istri pak Po itu langsung menghilang hanya dalam satu kedipan mata.
“Kenapa Ayah masih di sini?” tanya Rey yang heran karena ayah mertuanya tidak ikut pergi bersama istrinya.
“Titah banginda rajam adalah saya harus terus melindungi anda, Pangeran. Apalagi, anda sekarang sedang tidak memiliki kekuatan, bisa saja iblis jahat lain mengincar nyawa anda.”
“Ayah, Rhea sedang dalam bahya sekarang, kenapa kau tidak mencemaskannya? Dia putrimu, Ayah! Aku baik-baik saja karena ayah dan ibuku pasti melindungiku.”
“Sudah ada Divani yang melindunginya.”
“Kalau begitu cepat pergi susul ibu, Ayah.”
“Tidak bisa! Saya tidak akan meninggalkan anda sendirian di sini.”
“Aku tidak sendiri, keluargaku ada besamaku.” Rey setengah berteriak. Ia tidak tahu harus biacar apalagi. Selain bloon, pak Po juga keras kepala sekali.
“Tetap saja, saya tidak bisa meninggalkan anda apapun yang terjadi.”
Rey menutup wajahnya dengan kedua tangan, kali ini ia benar-benar ingin marah tetapi tidak tahu harus ia lampiaskan kepaada siapa. “Kalau begitu, bawa aku ke tempat Rhea sekarang juga!” tandas Rey, ini sudah menjadi keputusan mutlaknya.
“Tidak bisa, Pangeran, di sana terlalu berbahaya.”
“Kalau begitu … Ayah harus memilih, tinggalkan aku disini dan susul ibu, atau … bawa aku ke tempat Rhea sekarang juga!” mata Rey menatap tajam pak Po yang berdiri bingung ditempatnya.
Dua hal itu sama-sama membahayakan Rey. Para iblis diluar sana sedang mengincar Rey karena menantunya itu sedang dalam mode menjadi manusia biasa. Dan pak Po, tidak mau mengambil resiko. Keselamatan Rey, jauh lebih penting dari apapun.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***