Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 120 Dugaan Shena 2


__ADS_3

Fey dan Shena berhenti disebuah tepian sungai yang aliran sungainya mengalir lumayan deras. Shena duduk diam diatas batu besar untuk melepas penat setelah menempuh perjalanan lumayan jauh sambil mengamati gerak gerik Fey yang sedang membersihkan pakaiannya akibat lumpur hisap.


"Kenapa kau terus memandangiku, Shena. Apa ada yang ingin kau katakan? Utarakan saja, jangan dipendam di dalam hati," ujar Fey sambil terus membersihkan pakaiannya. Meski noda lumpurnya tidak bisa sepenuhnya hilang, setidaknya Fey bisa bergerak bebas tanpa harus terhalang oleh beratnya lumpur jika sudah mengering.


Shena tersentak mendengar ucapan Fey seakan tahu apa yang ada dalam isi hatinya. Istri Leo itu bangun dari posisinya yang ada di balik punggung Fey lalu berjalan mendekat kearah kakak iparnya.


Shena ikutan jongkok tepat disamping Fey sambil berkata, "Kakak, apa ... Kakak tidak merasakan sesuatu?" tanya Shena agak ragu.


"Merasakan apa maksudmu?" Fey balik bertanya sambil terus membersihkan pakaiannya.


Saat ini Fey hanya memakai kaos dalam tanpa lengan dan leging hitam ketat warna hitam yang selalu ia kenakan saat memakai gaun. Tubuh ramping dan berisi Fey jadi terlihat. Untung mereka berada di dalam hutan, jadi Fey bisa tenang meskipun jika Refald tahu, suaminya itu pasti marah besar karena ia terlihat sangat seksi sekarang.


"Merasakan, kalau ada sesuatu yang berbeda di tubuh, Kakak?" tanya Shena hati-hati supaya tidak menyinggung perasaan Fey.


Deg!


Mendengar pertanyaan Shena, seketika aktivitas Fey langsung terhenti. Ia menatap Shena yang juga sedang menatapnya.


"Kau tahu?" Fey balik bertanya dengan hati was-was kalau-kalau Shena mengetahui apa yang terjadi dengan Fey sekarang. Untuk sesaat keduanya saling pandang dengan perasaan masing-masing.


Akhirnya, Shena menyadari bahwa dugaannya memang benar. Mulut Shena langsung menganga dan spontan ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Kakak, kau ...." Shena tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Fey menunduk lesu, pasrah akan hal yang membahagiakan tetapi juga memalukan ini. "Yah, tertawalah! Aku sudah berlatih untuk menerima olokan darimu ataupun yang lainnya ....," belum juga Fey selesai bicara Shena sudah menabraknya dengan pelukan hangat sehingga membuat Fey jantungan.


"Selamat ya, Kak! Yeei, aku ... akan punya keponakan lagi!" seru Shena menggebu-gebu. Raut wajahnya terlihat berbinar-binar senang dan itu malah membuat Fey jadi kikuk dan bingung harus berkata apa.


"Kau tidak mengejekku?" tanya Fey.


Ekspresi Shena yang tadinya senang langsung berubah heran. "Mengejek?" Shena memicingkan matanya menatap Fey. "Apa yang kakak pikirkan? Ini kabar yang membahagiakan bagi keluarga besar kita. Setelah sekian lama, akhirnya Rey bakalan punya adik? Ini sesuatu yang harus dirayakan, Kak? Bukan diejek?"


"Kalau Rey masih berumur 5 tahun, hal seperti ini memang patut dirayakan, Shena. Masalahnya, aku sudah bukan ibu muda lagi. Diusiaku yang sekarang, harusnya aku menimang cucu, bukanya malah punya anak lagi?" nada suara Fey terdengar sedih dan itu membuat Shena langsung tertegun. Istri Leo itu mulai paham apa yang dirasakan kakak iparnya.


"Siapa yang peduli? Kakak dianugerahi keturunan lagi. Dan itu adalah sebuah hadiah terindah yang diberikan Tuhan untuk Kakak dan kak Refald. Lagian wajah kalian selalu awet muda dan masih pantas memiliki anak lagi. Takkan ada yang berani mengejek Kakak hanya karena Kakak hamil diusia yang tidak muda lagi. Justru sebaliknya, percayalah keluarga besar kita akan sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Kakak. Jika sampai ada yang mengejek Kakak, aku pastikan akan ku sumpal mulut orang itu dengan sandal." Shena menatap sendu wajah kakak iparnya.


"Terimakasih Shena, kaulah satu-satunya orang yang mengerti dan memahami bagaimana perasaanku saat ini. Sejujurnya, aku sangat malu. Diusiaku yang sekarang, kenapa aku malah hamil lagi. Namun, Refald sangat bahagia dengan kehamilan keduaku ini. Sebab, sebelum kami berpisah dulu, ia sudah pernah memberitahuku kalau ini akan terjadi."


"Wah, daebak. Aku bisa mengerti betapa senangnya kak Refald. Pantas, wajahnya terlalu terlihat sumringah sejak kedatangannya kembali. Ternyata ini ...." Shena terlihat ikut bahagia. "Kakak tidak perlu malu, seandainya saja bisa, aku pasti ingin hamil lagi seperti kakak. Masalahnya, Leo sudah tak mau punya anak lagi karena ia sudah cukup dipusingkan dengan ulah ketiga anaknya, yang entah kenapa semuanya mirip dia sifatnya." Shena tertawa dan Fey pun juga ikut tertawa bersama Shena mengingat betapa stresnya Leo saat anak-anaknya bikin ulah.


"Kau benar, Yeon, Bima, dan Lea benar-benar anak-anak yang super. Untung Yeon bisa ditangani oleh Refald, Bima sepertinya lebih patuh padamu daripada dengan Leo, dan Lea, ia patuh pada kakek dan neneknya. Tapi kenapa Lea tidak ikut datang kemari? Aku sangat merindukan gadis tengik itu." Fey tersenyum mengingat salah satu keponakannya. Dan satu-satunya anak perempuan dikeluarga Leo.


"Dia sibuk dengan kuliahnya di Jerman, Kak. Katanya ia sendiri yang akan menemui kakaknya, Rey nanti. Apa Kakak tahu? Setiap hari aku harus mendengar gerutuan Leo akibat ulah anak-anaknya sendiri. Padahal dulu dia ngebet ingin punya banyak anak, baru 3 saja dia sudah menyerah." Lagi-lagi Shena tertawa bersama Fey mengenang kembali Leo yang harus darah tinggi menghadapi kenakalan ketiga anaknya. Kalau sudah begitu, Leo kalang kabut dan meminta bantuan Refald untuk membantu mengatasi ulah anak-anaknya.

__ADS_1


Untuk sesaat, Fey bisa melupakan kegalauan soal kehamilan keduanya dan menjadi lebih rileks saat mengenang masa-masa muda mereka. Inilah yang dibutuhkan Fey saat ini, dengan begini janin yang ada dalam kandungan Fey tidak panik lagi dan Fey tak merasakan keram lagi.


"Begitu, kita semua keluar dari tempat ini. Kita harus mengadakan pesta yang meriah, Kak. Aku yakin, orang pertama yang paling antusias menyambut kehadiran anak kedua kakak adalah bibi Mei."


"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Fey heran.


"Kerena inilah yang paling diinginkan bibi Mei. Beliau sudah lama menantikan cucu lagi. Kini keinginannya sudah terkabul, aku yakin dialah orang yang paling bahagia menyambut kehadiran cucu kedua mereka."


"Masa, sih? Darimana kau bisa tahu?"


"Aku mendengar sendiri percakapannya dengan ibu tepat didepan mataku saat pesta kehamilan keduaku dulu. Ah, kakak tidak bisa datang karena suatu hal. Makanya, Kakak tidak tahu?"


"Oh iya?" Fey tersenyum, rupanya yang dikatakan Refald itu benar.


Tidak akan ada yang mengejeknya atas kehamilan keduanya ini. Sebaliknya, keluarganya pasti senang mendengar kabar bahagia ini.


"Apa kau sudah tidak lelah? Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan lagi?" tanya Fey pada Shena. Kali ini, giliran dia yang jadi bersemangat.


"Ayo! Kita selamatkan suami-suami kita!" Shena bangkit berdiri dan membantu Fey ikut berdiri juga.


Dua wanita tangguh ini berjalan bersama untuk menyelamatkan Leo dan Refald yang masih terjebak didalam pusaran medan magnet.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2