Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 124


__ADS_3

Pernyataan mbak Kun yang membuat ia terus menundukkan kepala hingga detik ini masih meninggalkan misteri bagi Fey. Namun, istri Refald itu mulai menyadari sesuatu hal dan ia langsung memegang perut ratanya dengan ekspresi tercengang tak terkira.


Jangan-jangan ... mata Fey terbelalak menatap mbak Kun dan juga Arka yang masih diam tak bersuara. Hanya saja, Arka tak menunduk seperti yang dilakukan istrinya. Sebaliknya, ia tetap berdiri tegak dan memandang sekeliling sambil mengamati sesuatu.


"Mbak Kun ... kau ... apa ... kau tahu kalau aku ...." Fey tak sanggup meneruskan kalimatnya. Bahkan iapun sampai bicara terbata-bata.


"Iya, Ratu. Seperti halnya Ratu, awalnya hamba juga terkejut, tapi ... itu ... ehm ... merupakan suatu hal yang paling membahagiakan bagi kami semua, para dedemit pasukan Raja. Akhirnya, setelah berabad-abad lamanya, akan lahir calon kaisar penguasa di dunia lain, beliau adalah ... janin yang ada dalam kandungan anda, Ratu."


Fey langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Perkataan mbak Kun, sungguh mengejutkan dirinya. Sekilas, Fey baru ingat kalau Refald memang pernah bilang bahwa anak keduanya akan jauh luar biasa darinya. Dan sekarang sudah terbukti, belum lahir saja, aura anak ini sudah bisa menundukkan mbak Kun.


Meski rasa terkejutnya masih belum bisa hilang, Fey tetap berusaha mengontrol dirinya untuk tidak terlalu terbawa emosi. Sebab, bukan saatnya ia harus terharu mengingat ada hal genting yang harus ia selesaikan, yaitu mengeluarkan Refald dan Leo yang terjebak dalam pusaran medan magnet. Feypun memutar otak untuk membuat kepala mbak Kun kembali menegak.


"Atas nama anak yang ada dalam kandunganku, aku perintah kau untuk mengangkat kepalamu, mbak Kun!" tegas Fey dan seketika mbak Kun langsung menengadahkan kepalanya menatap Fey sambil berkaca-kaca.


"Kau menangis?" tanya Fey heran.


"Hamba ikut bahagia, Ratu. Selamat atas kehamilan kedua, Ratu." Wajah mbak Kun terlihat terharu bahkan kini ia sudah mulai mengucurkan air mata. Tentu saja apa yang dilakukan mbak Kun ini membuat Fey jadi semakin bingung.


"Sudahlah mbak Kun, jangan menangis begitu, ini bukan saatnya menangisi janin yang ada di dalam rahimku. Sekarang kita harus segera mengeluarkan suamiku. Apa kau punya cara?" Sebenarnya Fey juga tak bisa membentuk rasa bahagianya, tapi keselamatan Refald, adalah yang utama sekarang.


Mendengar kata-kata Fey, mata mbak Kun tiba-tiba terbelalak seolah mulai menyadari sesuatu. "Gawat!" geram mbak Kun. Iapun menoleh pada suaminya yang juga menoleh ke arah mbak Kun. "Arka!" Mata mbak Kun menatap tajam suaminya.

__ADS_1


"Aku tahu, aku akan membawa rekan-rekanku untuk menolong mereka. Kau urus yang di sini." Arka menggenggam sejenak tangan mbak Kun untuk menenangkannya. Setelah itu, Arka langsung menghilang seketika meninggalkan sejuta pertanyaan untuk Fey.


"Ada apa, mbak Kun? Kemana perginya Arka? Apanya yang gawat?" Fey jadi ikutan cemas. Ia hanya berharap semoga tidak ada hal buruk terjadi pada orang-orang yang dicintainya.


"Arka ... pergi menyelamatkan pangeran Rey dan Rhea, Ratu. Pak Po dan Divani juga dalam bahaya. Mereka berempat, terjebak dalam pusaran medan magnet dan ...."


"Dan apa?" Fey sudah tidak bisa bersabar lagi. Matanya bahkan sampai memelototi mbak Kun.


"Mereka ... sedang menghadapi musuh yang sesungguhnya."


Dari nada suara mbak Kun, sepertinya, situasi serta kondisi putra dan menantunya lebih genting dari apa yang dialami Refald dan Leo. Kalau seperti ini, Fey jadi bingung, siapakah yang akan ia selamatkan lebih dulu.


Fey terdiam karena bimbang. Apakah ia harus menyelamatkan Refald ataukah putranya. Yang jelas, ia tak mungkin menyelamatkan semua ya dalam waktu-waktu yang bersamaan. Ditambah lagi, Rey masih dalam mode manusia biasa. Jadi, ia tidak bisa diandalkan. Fey semakin kalut dan ia tak bisa berpikir dengan jernih. Namun, entah mengapa mendadak ada sebuah dorongan kuat yang meminta Fey untuk memilih menyelamatkan suaminya terlebih dulu ketimbang yang lain.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Fey.


"Itulah masalahnya Ratu, saya juga tidak tahu," ujar mbak Kun sedih


Tubuh Fey langsung lemah lunglai mengetahui bahwa mbak Kun pun tak tahu cara untuk mengeluarkan suaminya. Fey terus memutar otak sampai akhirnya, ada sebersit ide muncul dikepalanya.


Rupanya, apa yang ada dipikiran Fey, sehati dengan Shena. Bila Fey memungut sebuah batu lumayan berukuran besar, maka Shena mengaitkan akar-akar pohon untuk dijadikan sebuah tali panjang. Keduanya saling menatap dan menganggukkan kepala masing-masing berharap cara yang mereka ambil ini berhasil mengeluarkan para suami-suami mereka.

__ADS_1


Mbak Kun pun hanya takjub, melihat aksi kedua wanita tangguh ini. Walau tidak tahu apa yang mereka berdua rencanakan, begitu melihat batu dan tali itu, mbak Kun langsung berpikir bahwa tidak ada salahnya jika mencoba cara yang ada dipikiran Shena dan Fey.


"Semoga cara ini berhasil, Kak?" ujar Shena saat ia mengikat akar-akar pohon itu dengan kuat agar bisa menjadi tali panjang.


"Bagaimana kau bisa memikirkan cara sama, seperti yang kupikirkan?" tanya Fey penasaran.


"Entahlah, Kak. Aku hanya berpikir, kalau magnet itu menarik benda- benda yang terbuat dari besi. Batu dan kayu, tak berpengaruh di sini. Jadi, jika kita melemparkan tali ini ke dalam medan magnet yang ada di sana, kita bisa menarik mereka keluar dari medan itu," jawab Shena dan apa yang ia pikirkan memang benar.


Medan magnet ini tak menelan pohon, tanah ataupun bebatuan yang ada disekitarnya. Artinya, benda- benda ini tak ikut terpengaruh oleh medan magnet Bumi.


"Dan ..." giliran Fey yang bicara. "Agar tali ini bisa sampai di medan magnet itu tanpa harus kita dekati adalah pertama, mengaitkan batu diujung tali akar-akar ini." Fey memegang ujung tali milik Shena dan mengaitkan batu pada talinya. "Lalu yang kedua, kita lemparkan tali ini ke dalam medan magnet itu ..." Mata Fey menatap tajam mata Shena setelah ia selesai mengaitkan batunya diujung tali.


"Dan yang melemparkannya agar tepat sasaran ... tentu saja ..." Fey dan Shena berbicara bersamaan dan sama-sama menghadap mbak Kun yang berdiri bengong karena ditatap dua wanita berwajah mencurigakan.


"Kenapa firasatku jadi tidak enak?" gumam mbak Kun. Tapi ia jadi merasa aneh saat melihat Shena. "Tunggu! Hei, Nyonya? Kau bisa melihatku?" tanya mbak Kun terkejut karena Shena menatap kearahnya.


Feypun ikut terkejut dan jadi ikutan menatap Shena dengan sejuta rasa penasaran yang memuncak. Shena hanyalah manusia biasa yang tak bisa melihat makhluk astral tak kasat mata kecuali Fey membantunya. Namun, jika Shena sekarang bisa melihat mbak Kun, itu jadi sangat aneh.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2