
Rey pergi menemui Yeon yang sedang sibuk melihat data-data kuliahnya di depan layar komputer. Sudah lama juga ia tidak melihat adik sepupunya semenjak Rey memutuskan pindah ke kota kecil tempatnya tinggal sekarang.
"Aku dengar, semalam kau baru saja keluar dari hotel prodeo. Apa yang dikatakan paman Leo? Sampai kapan kau terus seperti ini?" tanya Rey begitu ia berdiri dihadapan Yeon yang sok sibuk sendiri.
"Kenapa kau kemari?" tanya Yeon cuek. Ia tidak kaget kalau kakak sepupunya tiba-tiba saja datang meski tidak pernah diundang.
"Kau tidak merindukanku?"
"Tidak! Yang aku rindukan adalah paman Refald."
"Sayang sekali, padahal aku membawa pesan penting dari ibuku. Dia bilang kau sama sekali tidak bisa dihubungi. Makanya aku datang kemari. Siapa yang kau buat babak belur kali ini?"
"Bukan urusanmu. Urus saja dirimu sendiri dan tinggalkan aku. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun." usir Yeon. ia masih belum mau menatap wajah Rey.
"Datanglah kerumah kami jika kau sudah merasa lebih baik, ibu ingin bicara 4 mata denganmu."
"Soal apa?" cetus Yeon.
"Mana aku tahu? Tanyakan sendiri pada ibuku!"
"Kau kan bisa baca pikiran?"
"Tidak untuk keluargaku. Aku bahkan tidak bisa membaca pikiranmu. Saat ini, aku hanya bisa membaca pikiran satu orang saja."
"Siapa?"
"Siapa lagi? Kakak iparmulah!"
"Oh, kalian sudah bertemu rupanya. Pantas kau menghilang."
"Kau belum jawab pertanyaanku tadi?"
"Ayah tidak bilang apa-apa," jawab Rey singkat.
__ADS_1
Rey tidak menyahut lagi. Ia menatap Yeon penuh arti. Fey sangat mencemaskan Yeon setelah Shena memberitahunya kalau Yeon ada dipenjara. Adik sepupunya ini sering sekali membuat ulah dan mencari gara-gara dengan siapa saja yang membuatnya kesal. Kali ini, orang yang ketiban sial terkena imbas pelampiasan Yeon adalah putra rekan bisnis Leo sendiri.
Dan baru semalam, Leo bisa membebaskan putranya. Tentu saja harus menggunakan jaminan dan Yeon tidak mengulangi perbuatannya lagi. Leo dan Shena dibuat kualahan menghadapai Yeon semenjak Refald tidak ada. Hal itu karena satu-satunya orang yang bisa mengatasi kenakalan Yeon hanyalah Refald seorang.
"Yeon, berhentilah berbuat ulah. Meski kau mati sekarang, Ayah tidak akan bisa menemuimu. Tidak untuk saat ini."
"Kenapa paman pergi tanpa bilang dulu padaku?" Bentak Yeon marah sampai ia tidak sadar kalau ia sudah berdiri. Melihat reaksi Yeon, Rey jadi mengerti alasan ia terus saja membuat pusing Shena dan Leo.
"Ia tidak ingin kau ikut dengannya. Dia lebih menyayangimu daripada aku. Mengertilah Yeon, kami semua juga sedang berusaha untuk mengembalikan ayah kembali. Semua ini salahku, limpahkan saja semua arahmu padaku, tapi jangan sakiti paman Leo dan bibi Shena lagi."
"Tapi setidaknya, bilang dulu padaku. Aku merasa paman tidak adil. Dia pamitan pada kalian semua. Tapi tidak padaku." Yeon berjalan mendekat ke arah dinding kaca ruangannya dengan perasaan kesal setengah mati.
"Jika ayah pamitan padamu, kau pasti merengek minta ikut dengannya. Jangan bersikap seperti anak kecil lagi. Hentikan semua kekacauan yang kau buat. Kalau kau ingin memukulku, pukul saja. Aku tidak akan melawan."
Mana mungkin Yeon bisa melakukan itu pada kakaknya, Leo bisa membunuhnya. Yeon menatap lurus dinding kaca yang ada dihadapannya sambil memikirkan banyak hal.
Sudah 3 tahun lamanya, Refald belum juga datang menemuinya. Yeon selalu memendam perasaan ini. Ia tidak bisa menyalahkan siapapun, yang membuatnya marah hingga sekarang, Refald tidak berpamitan padanya saat dia pergi.
Kapan kau kembali, Paman? ucap Yeon dalam hati.
"Siapa wanita itu?" tanya Yeon, tapi ia seperti mengenal gadis itu.
"Dia istriku. Kakak iparmu," jawab Rey setelah ia berdiri disamping Yeon dan mengikuti arah pandang adik sepupunya yang tertuju pada siapa lagi kalau bukan Rhea.
"Apa? Jadi gadis itu ... kakak iparku?" mata Yeon terbelalak.
"Kenapa kau terkejut begitu, apa ... kau mengenalnya?"
Yeon tersenyum penuh arti dan tiba-tiba saja Bima muncul memanggilnya nama panggilan Rhea yang lain.
"Iran!" seru Bima mengagetkan Rey. "Kau Iran, kan?"
"Bagaimana Bima tahu nama panggilan Rhea yang lain?" tanya Rey terkejut.
__ADS_1
"Huh, kemana saja kau? Dulu kami bertiga sering hiking bersama, tapi 3 tahun lalu tiba-tiba saja dia menghilang. Jangan-jangan ...." Yeon tidak bisa melanjutkan kalimatnya setelah menyadari fakta paling mencengangkan dalam hidupnya.
"Haish, sial!" Rey langsung menghilang dari hadapan Yeon untuk mencegah Bima yang berlari kerah Rhea.
"Berani menyentuhnya, akan aku buat kau jadi daging panggang!" ancam Rey dengan kilatan api kemarahan. Ia bahkan mendorong tubuh adik Yeon ini hingga membentur dinding.
"Bima!" Seru Rhea dari balik belakang punggung Rey. "Kau pasti Bimashena, kan? Dimana Leon?"
"Disini!" ujar Yeon yang baru saja keluar dari lift yang kebetulan ada di belakang Rhea berdiri.
Tentu saja Rhea menoleh kebelakang dan tersenyum melihat teman lamanya berkumpul jadi satu disini. Sedangkan Rey, jangan ditanya lagi. Matanya sudah melotot sejak tadi. Ia sangatlah syok melihat Rhea mengenal dekat kedua adik sepupunya. Kerena Rey bisa membaca pikiran Rhea, ia jadi semakin stres, karena selama Rey tinggal di Swiss Bima dan Yeon sering menghabiskan waktu untuk hiking bersama-sama.
"Ini tidak mungkin," gumam Rey.
"Apanya yang tidak mungkin? Aku juga terkejut melihat Iran ada disini dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata dia adalah kakak ipar kami." Yeon tersenyum setelah ia berdiri tepat di hadapan Rey dan Rhea.
"Apa?" teriak Bima dari arah belakang. Ia berjalan cepat menghampiri semuanya. "Kau bilang apa tadi? Siapa yang jadi kakak ipar kita?"
"Iran, dia kakak iparmu sekarang," terang Yeon sambil tersenyum puas dan itu membuat Rhea dan Rey jadi bingung. Sedangkan Bima menatap Rey dan Rhea secara bergantian.
"Tidak! Pasti ada yang salah, kenapa jadi begini? Padahal aku ingin menyatakan cinta padamu begitu aku menemukanmu, kenapa kau malah jadi Kakak iparku!" rengek Bima dan tentu saja Rey langsung memiting kepala adiknya dengan sangat kuat.
"Beraninya kau menyukai kakak iparmu sendiri, ha? Kau mau cari mati?" Rey tidak mau melepas pitingan tangannya di leher Bima.
"Kau saja yang mati? Mana aku tahu kalau dia kakak iparku? Lagian aku tidak pernah melihat kalian bersama. Aku pikir yang jadi kakak iparku bukan dia, kau kan pacarnya banyak! Hmmm ...." teriak Bima sebab mulutnya langsung dibekap oleh Rey.
"Diam kau! Sini, aku habisi kau sekarang juga." Rey menyeret paksa adiknya ke suatu tempat dan menjauh dari Rhea.
Sedangkan Rhea tak bisa berkata-kata karena terlalu shock melihat apa yang sedang terjadi disini.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
Detail part ini ada di novel baru yang menceritakan kisah Yeon. Tunggu saja, mulai bulan depan aku rilis novel Mas Samurai, setelah itu baru Biyanca dan Byon di bulan yang sama. Kalau tidak ada halangan, aku rilis juga novel tentang Yeon dan novel-novel baruku yang lain. Waduh maruk amat ya ... Hehe ...
tapi aku memang lagi pengan nulis banyak novel untuk menghibur kalian semua. Terimakasih sudah mendukung semua karya-karyaku. Terus semangatin aku ya ... love you all ...