
Rhea sedang berdiri diatas balkon kamar Rey sambil menikmati rembulan yang sedang bersinar di langit-langit malam. Lama juga Rhea menatap bulan itu seakan mengajaknya bersua tanpa suara. Kebetulan malam ini masih bulan purnama sehingga cahayanya bersinar terang menerangi bumi dan alam sekitarnya.
"Sedang apa kau disini, hm? Bukannya tidur malah mematung di bawah sinar bulan," ujar Rey dari belakang. Tangan nakalnya mulai melingkar erat di pinggang Rhea.
"Bulan itu terlihat indah sekali, Rey." Rhea mulai mengungkapkan isi hatinya. "Aku sangat menyukai bulan purnama. Selama aku tinggal dihutan dulu. Aku suka pergi ke puncak bukit hanya untuk melihat bulan yang bersinar terang. Cahaya temaram bulan itu membuat hatiku tenang sekaligus penasaran kala mengingat masa lalu."
"Masa lalu?" tanya Rey bingung.
"Ehm, dulu ... dibawah sinar bulan yang indah itu, aku selalu bertanya-tanya, seperti apa wajah calon suamiku kelak. Dalam rasa bimbang yang menyerang, muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuatku risau. Apakah dia nanti mencintaiku atau tidak? Apakah nanti kami bahagia atau tidak, apakah aku juga bisa mencintainya atau tidak? Semua pertanyaan itu ... aku tanyakan pada bulan purnama yang bertengger santai diatas sana." Rhea menyandarkan tubuhnya ditubuh Rey dan merasakan kehangatan tubuh laki-laki kekar dibelakangnya. Keduanya, sama-sama menikmati betapa indahnya cahaya bulan.
"Lalu, apa bulan itu memberikan jawaban yang kau inginkan?" tanya Rey ditelinga Rhea.
"Iya, baru saja bulan itu menjawab, kalau suamiku itu tampan dan sangat luar biasa keren. Semua wanita jatuh hati padanya. Namun, suamiku ini hanya mencintaiku seorang. Kini, kami berdua sudah hidup bahagia. Dan aku ... sangat mencintainya. Aku sungguh-sungguh sangat mencintai suamiku melebihi nyawaku sendiri." Sebuah kecupan manis mendarat mulus di pipi lembut Rhea semakin mengeratkan pelukannya.
"Bulan itu memang berkata benar. Hanya saja, aku sedikit sedih sekarang." Rey semakin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa kau sedih? Kita sudah bersama-sama sekarang?"
"Aku sedih karena seharusnya, malam ini kita sudah menjadi pengantin baru dan kita bisa menikmati malam yang syahdu. Tapi hilangnya kedua orang tua kita tanpa meninggalkan jejak, membuat pernikahan kita tertunda sampai mereka semua muncul kembali. Seluruh pasukan ayah juga menghilang. Para orangtua kita langsung melupakan kita begitu mereka kembali bersama." suara Rey terdengar lirih dan ada sedikit rasa kecewa didalamnya.
"Perpisahan ayah dan ibu, terjadi gara-gara kita, Rey. Sebagai anak, kita harus mengerti dan memahami perasaan mereka dan memberi ruang bagi 2 insan itu untuk mengobati rasa rindu yang menyelimuti ayah dan ibu. Kita tidak bisa memaksa mereka menikahkan kita sekarang."
"Kau benar, asal kau selalu bersamaku seperti ini, aku tidak keberatan walau pernikahan kita sedikit tertunda. Kita akan menunggu mereka semua kembali." Rey menggendong tubuh Rhea tanpa izin dan membawanya masuk ke dalam kamar. "Sekarang, ayo kita tidur. Aku akan memelukmu supaya tubuhmu jadi hangat." Rey tersenyum menatap wajah Rhea yang juga tersenyum padanya.
Keduanya masuk ke kedalam kamar tanpa tahu kalau sejak tadi, sudah ada dua orang yang mengawasi pergerakan mereka diam-diam dari balik pohon mangga yang ada dihalaman rumah Rey. Mereka berdua menunggu kesempatan untuk melancarkan aksinya sesuai dengan yang diperintahkan.
__ADS_1
"Hadeuh, kenapa harus kita yang melakukannya?" ujar salah satu orang itu pada rekannya. Ia menggunakan teropong untuk mengamati gerak-gerik Rey dan Rhea.
"Sudah, kau jangan protes! Ikuti saja!" sahut rekannya.
"Apa kau yakin semuanya bakal berhasil sesuai rencana?"
"Tentu saja, aku sudah memasukkan obat tidur dan obat penenang kedalam minuman mereka sesuai anjuran yang diberikan dokter. Tidak bakal ada yang curiga. Kita tunggu mereka berdua terlelap dulu, baru kita masuk."
"Apa tidak apa-apa? Bagaimana kalau Rey curiga? Dia kan manusia super.
"Si dokter-dokteran itu sudah memprediksi semuanya, kita tinggal melaksanakan perintahnya saja. Mereka berdua tidak akan mati hanya karena minum obat tidur dan obat penenang. Kalau kau takut, mundur saja sekarang. Biar aku sendiri yang melakukannya."
"Apa kau ingin mereka membunuhku hidup-hidup? Aku bukannya takut, aku hanya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi setelah ini."
"Aku sudah tidak sabar melihat Rey jadi gila!" salah satu orang itu mengepalkan kedua tangannya sambil tersenyum licik.
***
Keesokkan paginya, Rey mulai terjaga, tapi ia masih enggan membuka matanya dan ingin memeluk tubuh Rhea yang dari semalam tidur dalam dekapannya. Namun, tubuh yang ia cari-cari ternyata tidak ada. Menyadari hal itu, Rey langsung membuka mata dan benar dugaannya. Rhea tidak ada dikamar ini.
"Sayang, kau dimana? Kenapa kau tidak membangunkanku kalau kau sudah bangun duluan?" tanya Rey sambil mengamati sekelilingnya tapi tidak ada sahutan dari Rhea.
Terpaksa Rey turun dari tempat tidur dan berjalan pelan menuju kamar mandi untuk memeriksa apakah Rhea ada di dalam.
"Sayang, apa kau didalam?" tanya Rey di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Namun, tetap saja tidak ada jawaban. Rey sudah tidak sabar lagi, iapun membuka pintu kamar mandi dan ternyata tidak ada siapapun didalamnya.
"Kemana perginya, Rhea?" gumam Rey penasaran. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri tanpa merasa curiga sedikitpun.
Setelah rapi dan berganti pakaian, Rey turun dan langsung menuju dapur. Ia yakin Rhea pasti ada di dapur dan sedang menyiapkan sarapan untuknya. Biasanya, hal itulah yang dilakukan Rhea selama ia tinggal disini.
"Sayang, kenapa kau ...." Rey tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena ternyata orang yang ia cari tidak ada juga ditempat ini. Yang ada cuma asisten rumah tangga yang biasa mengurus rumah. "Dimana Rhea, Bi?"
Wanita paruh baya yang dipanggil Rey dengan sebutan 'Bibi' itu menoleh pada Rey.
"Loh, saya pikir nona Rhea masih belum bangun dan masih bersama anda, Tuan muda. Sejak tadi, saya tidak melihatnya disekitar sini," terang bibi itu.
"Apa?" Rey memicingkan matanya.
Tiba-tiba saja ia jadi was-was dan khawatir dengan Rhea. Rey pergi mengelilingi rumah ini untuk mencari keberadaan Rhea dan mencoba mendengar pikiran kekasihnya. Namun, Rey tidak bisa mendengar apa-apa yang artinya, Rhea berada diluar jangkauannya.
"Ada dimana kau, Sayang?" gumam Rey antara bingung, cemas dan juga khawatir.
Rey takut terjadi sesuatu pada wanita yang dicintainya karena tiada angin ataupun hujan, Rhea mendadak menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Buru-buru, Rey mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Rhea, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Namun Rey mendengar suara nada dering ponsel Rhea yang ternyata, ponsel kekasihnya itu masih ada didalam kamar. Berarti, Rhea pergi tanpa membawa ponsel.
"Ada apa ini?" Rey benar-benar khawatir sekarang.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1