
Mata semua orang langsung tertuju pada Biyanca yang berlari ke arah keluarganya berada. Napasnya tersengal-sengal dan ekspresinya menunjukkan kecemasan yang amat sangat.
"Ada apa, Bii? Apanya yang gawat?" tanya Byon jadi ikut cemas.
Biyanca menatap tajam mata Byon sambil berkata, "Rey dan Rhea ...," Biyanca mencoba mengatur ulang napasnya supaya bisa bicara.
"Ada apa dengan mereka?" Byon jadi ikutan ngos-ngosan melihat istrinya bicara setengah-setengah seperti itu.
"Mereka ... mereka berdua ... menghilang! Keduanya tidak ada di kamarnya!" seru Biyanca. Napasnya masih saja naik turun.
"Apa?"
Mendengar hal itu Byon dan Dilagara langsung panik, keduanya bergegas berlari secepat kilat ke kamar pasangan pengantin itu untuk memeriksa kondisi kamar mereka. Dan benar saja, sudah tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada jendela terbuka dan tirai putih yang bergoyang-goyang karena tertiup angin sepoi-sepoi.
"Kemana mereka? Apa ada yang melihat mereka pergi dari sini?" tanya Byon tapi tak ada satupun yang menjawab.
Pengawal Byon dan Dilagara yang berjaga juga tidak ada yang melihat Rey ataupun Rhea keluar dari kamar.
Semua menjadi panik. Sebab, beberapa anggota keluarga besar Byon dan Dilagara menghilang tanpa sebab. Ditambah lagi sampai detik ini, tidak ada kabar dari Refald ataupun Leo. Ini sungguh aneh.
Dari sini, baik Byon maupun Dilagara jadi mulai berpikir, jangan-jangan apa yang dikhawatirkan Fey dan Shena itu benar. Saat ini kemungkinan besar Leo dan Refald serta cucu-cucu dua orang besar ini sedang menghadapi bahaya tak terduga diluar sana. Itulah kenapa Fey dan Shena bersikukuh menyusul suami-suami mereka.
Sayangnya, tersadarnya Byon dan Dilagara sudah terlambat. Begitu kedua ayah mertua Shena dan Fey berlari menuju kamar Rey, Shena dan Fey juga berlari menyelinap keluar istana. Bahkan Fey mengancam akan membunuh penjaga yang menghalangi jalannya. Kabar menghilangnya Rey dan Rhea sudah tak membuat kaget Fey, sebab sebelum Refald pergi, suaminya itu sudah memberitahunya kalau Rhea mengetahui posisi dalang dibalik kekacauan pesta resepsi pernikahannya. Menantunya itu, pasti sedang berhadapan dengan orang itu sekarang.
"Dimana Fey dan Shena?" tanya Byon semakin khawatir karena dua menantu mereka ikutan raib juga.
__ADS_1
"Mereka ... pergi menyelinap keluar Tuan besar," jawab salah satu pengawal Byon.
"Kenapa kalian tidak menghalanginya?" teriak Byon marah.
"Mereka mengancam akan membunuh kami semua bila menghalangi jalan mereka, Tuan." Pengawal itu membela diri.
"Sial!" Byon mengepalkan tangannya sendiri. "Kenapa mereka bertindak gegabah begitu? Apa yang sedang mereka pikirkan? Aku akan menyusul mereka! Kalian semua tunggu di sini!" Byon hendak melangkah pergi, tapi langsung dihalau oleh kakak iparnya.
"Kau tidak bisa pergi sendiri. Kita akan pergi bersama," ujar Dilagara menatap tajam mata adik iparnya.
"Aku akan ikut dengan kalian. Aku tidak akan membiarkan menantu kesayanganku dalam bahaya," seru Biyanca. Ia berdiri tepat dihadapan Byon.
"Aku juga!" Meiliana ikut bersuara. Entah sejak kapan ia sudah berdiri di samping suaminya. "Aku juga tidak bisa berdiam diri di sini sementara putra dan menantuku serta seluruh keluarganya dalam bahaya. Aku akan ikut dengan kalian."
"Dan membiarkanmu mengalami kesulitan sendiri?" sela Meiliana. "Tidak Byon. Kita satu keluarga. Kita harus menghadapi kesulitan ini bersama-sama. Daripada kita saling terpisah satu sama lain, alangkah baiknya kalau kita berkumpul dan menghadapi kesulitan ini bersama-sama. Banyak orang lebih baik daripada sendiri." Meiliana menatap seluruh anggota keluarganya yang juga sudah berkumpul jadi satu setelah mendengarkan teriakan Byon tadi. "Bagaimana menurut kalian, apa kalian setuju denganku?"
"Kami setuju!" jawab semuanya kompak tanpa ragu sedikitpun. "Akan lebih baik kalau kita tidak berpencar lagi."
Byon langsung lemas karena kalah voting. Ia hanya tidak ingin menjaga dan melindungi keluarganya sana seperti yang dilakukan Refald dan Leo.
"Aku setuju dengan mereka Byon. Lebih baik kalau kita tetap bersama. Lagipula, sudah waktunya kita beraksi untuk menunjukkan siapa keluarga besar kita sesungguhnya." Dilagara manatap satu persatu seluruh anggota keluarga besarnya. Ia merasakan ada aura semangat 45 yang keluar dari dalam tubuh mereka. Adrenalin mereka seakan tertantang untuk membantu mengatasi apa yang sedang dialami keluarga Leo dan Refald.
Sepertinya, tak ada gunanya Byon menentang keputusan mereka. 1 lawan banyak, jelas saja kalah telak. Mau tidak mau Byonpun menerima keputusan yang diambil seluruh keluarga besarnya.
"Kita masih punya satu masalah jika kita semua keluar dari pelindung istana ini." Byon mengingatkan.
__ADS_1
Seakan tahu apa yang dikhawatirkan Byon, Dilagara hanya tersenyum sinis. "Huh, itu masalah mudah." Ayah Refald itu mengeluarkan sebuah bulpoin hitam dan langsung menuliskan 2 huruf besar di tangan kanan seluruh anggota keluarganya satu persatu, tak terkecuali Byon sendiri.
"Apa ini?" tanya Byon tidak mengerti. Ia mengamati huruf berinisial BD yang dituliskan Dilagara ditangan kanannya.
"Itu adalah simbol dari keluarga Byon dan Dilagara. Dengan simbol itu, kita tahu siapa saja anggota keluarga besar kita yang asli begitu kita semua keluar dari sini. Kau tak perlu mengkhawatirkan makhluk pengkloning itu." Dilagara tersenyum puas.
Byon pun mengangguk setuju. Daridulu, ayah Refald ini memang jenius. Tak heran jika ia terpilih menjadi leader anggota SWAT yang paling ditakuti musuh. Sebab, dalam keadaan segenting apapun, bawaannya selalu tenang seperti sekarang ini.
Byonpun juga tak mau kalah, sebagai gembong mafia yang pernah ditakuti di dunia, ia juga harus menunjukkan eksistensinya. "Baiklah, kalian semua! Gunakan senjata yang kalian punya. Dan serang siapa saja yang terlihat mencurigakan. Kita tidak boleh berpencar dan harus tetap bergandengan tangan dengan pasangan kita masing-masing seperti yang selalu dikatakan Refald. Saat ini, mungkin dia dan Leo sedang mengalami kesulitan dan kita harus bersatu padu menyelamatkan mereka. Kalian mengerti!" Teriak Byon dengan lantang dan siap berperang melawan hal yang tidak ia ketahui jika mereka berada diluar istana nanti.
"Siap!" Teriak seluruh keluarga Byon dan Dilagara itu kompak layaknya densus 88 yang hendak beraksi menggerebek *******.
"Kau siap, Bii?" tanya Byon pada istrinya.
"Tentu saja, aku juga sudah menegang senjata api milikmu." Biyanca menunjukkan pistol gold nya. Keduanya saling melempar senyum.
"Anggap saja ini nostalgia kita, Mei. Pegang tanganku dan jangan pernah dilepaskan." Dilagara juga tak mau kalah dari Byon
"Tentu, akan kubasmi siapapun yang sudah berani mengganggu ketenangan keluargaku!" seru Mei dengan lantang tapi tetap terlihat anggun. Kakak Biyanca ini memang kharismatik sekali. Dalam kondisi apapun keanggunannya tak pernah hilang dari dirinya.
Byon menggandeng erat tangan Biyanca begitu pula dengan Dilagara dan istrinya diikuti oleh pasangan lainnya. Semuanya kompak berjalan bersama menuju pintu keluar istana Refald untuk menyelamatkan anak dan cucu mereka yang sedang terjebak dalam pusaran medan magnet bumi.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1