
Dalam dekapan Refald, Fey mencoba memahami kejadian demi kejadian yang sudah ia lalui selama ini. Sungguh ia sangat terkejut mendengar fakta bahwa nenek Haida yang ia ajak bicara dan diskusi bersama, ternyata adalah Arka, dan Fey sama sekali tidak mengetahui hal itu. Ditambah lagi, rupanya Refald sudah kembali sebelum ritual terakhir Rhea dilakukan. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa? Apa alasan Refald tidak langsung menemuinya setelah ia kembali? Dan malah menyamar sebagai dirinya untuk menemui Rara. Fey sungguh merasa buruk sekarang.
"Honey," panggil Refald. Ia bisa mendengar semua pertanyaan yang ada dibenak Fey.
"Jelaskan padaku semuanya, Refald. Kenapa kau tidak menemuiku setelah kau kembali, dengan begitu Rhea tidak perlu repot-repot melakukan ritual berbahaya itu dan Rara tidak akan menjadi sasaran iblis jahat untuk menggagalkan ritual Rhea." mata indah Fey menatap tajam Refald.
"Karena ... yang bisa keluar hanya aku saja Honey ... seluruh pasukanku masih belum bisa keluar sampai Rhea menyelesaikan ritualnya. Dan yang menyalakan lilin itu kembali, adalah aku. Barulah pak Po dan yang lainnya bisa muncul. Tidak ada yang boleh tahu kedatanganku sebelum ritual Rhea selesai dilakukan walaupun ia gagal. Jika sampai ada yang tahu kalau aku sudah kembali, maka aku akan menghilang dan menjadi butiran debu. Apa itu yang kau inginkau, Honey?"
"Tidak, tentu saja tidak! Maafkan aku Refald. Aku tidak tahu kalau pengorbananmu untuk kami semua begitu berat. Bisa melihatmu kembali seperti ini sudah cukup membuatku bahagia. Jangan pergi lagi. Sekarang aku mengerti semuanya. Aku ... aku tidak tahu harus berkata apalagi sekarang. Semua ini benar-benar membuatku terkejut." Fey merengkuh tubuh Refald dan memeluknya dengan sangat erat.
"Tenang saja, Honey. Mulai sekarang, kita tidak akan terpisah lagi. Aku janji. Kau tidak harus bilang apa-apa karena aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Kita sudah kembali bersama. Kita akan melalui hari-hati bersama, selamanya." Refald mencium mesra kening istrinya sambil tersenyum penuh makna.
"Raja, sampai kapan saya harus menyaksikan adegan romantis kalian? Kapan giliran saya?" tanya seseorang dari balik punggung Refald dan Fey tahu suara siapa itu.
"Arka," seru Fey. Matanya terbelalak karena perlahan, Arka keluar dari raga nenek Haida yang sebenarnya, sudah meninggal 3 tahun lalu.
"Iya, Ratu." Arka menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau adalah Arka? Bukannya nenek Haida?"
__ADS_1
"Karena tidak boleh ada yang tahu, Ratu. Hampir saja pangeran Rey juga menyadarinya, tapi saya berhasil mengelabuhinya dengan membiarkan diri saya dihajar para iblis jahat yang mencoba menyerang saya tepat dimalam Rara dan Jakson melakukan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan sehingga menyebabkan Rara berbadan dua sekarang. Pengeran Rey datang menolong saya dari gangguan iblis jahat itu."
"Apa?" Fey terkejut lagi, entah kenapa setiap penjelasan yang keluar dari mulut suaminya ataupun dari Arka, selalu sukses membuatnya terkejut.
Fey mencoba mengingat-ingat kejadian yang dimaksud Arka beberapa waktu lalu, dan itu memang masuk akal. Pantas saja, wajah Rey terlihat aneh saat itu. Bahkan putranya itu hanya bicara dengan Rhea melalui sambungan telepon. Padahal sebelumnya, ia ingin selalu ada di dekat Rhea dengan semangat api cinta yang menggebu-gebu.
Kalau tidak salah, Rey pernah bilang akan menemani Rhea karena nenek dan kakaknya belum juga pulang kerumah padahal sudah larut malam. Inikah yang terjadi sebenarnya? Arka bermaksud menumpas para iblis jahat yang menyerangnya tapi karena Rey tiba-tiba muncul, Arka pura-pura kalah.
"Sejak saat itu, saya tidak bisa sering-sering bertemu dengan Rhea dan yang lainnya. Sebab, dari pertempuran sengit itu sebenarnya saya sudah mati. Namun pangeran Rey membantu jiwa saya agar terkunci didalam raga setidaknya sampai ritual Rhea selesai dilakukan tanpa dia tahu kalau saya hanya jiwa pengganti. Kalau kata orang-orang, mungkin saya termasuk sejenis zombi atau mayat hidup. Begitulah kira-kira. Saya tidak bisa keluar dari raga ini kecuali raja dan pangeran sendiri yang membuka kuncinya."
Lagi-lagi Fey melongo, tapi ia mengerti sekarang. Ini sungguh luar biasa. Fey akhirnya tahu kenapa tadi Refald meletakkan kedua tangannya diatas tubuh nenek Haida. Ternyata, Refald membuka kunci agar Arka bisa keluar dari raga ini.
"Temui pujaan hatimu Arka, mbak Kun sudah lama merindukanmu. Sisanya, biar aku yang urus. Terimakasih atas semuanya, kau sudah melakukan yang terbaik." Refald menepuk pelan bahu Arka.
"Sama-sama, Raja. Kalau begitu saya permisi dulu." Arka menundukkan kepalanya dan langsung menghilang meninggalkan Fey dan Refald berdua saja di goa ini.
Refald menatap wajah Fey yang masih bengong dan langsung menciumnya tiba-tiba. Tentu saja Fey tersentak dicium dadakan seperti itu walau itu adalah suaminya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Fey.
__ADS_1
"Menciummu," jawab Refald santai. "Habisnya, kau menggemaskan sekali Honey. Sampai kapan kau terus saja shock begitu?"
"Masih bagus aku cuma shock, Refald. Setidaknya, aku tidak pingsan. Sungguh, aku sama sekali tidak menyangka, banyak hal aneh penuh misteri terjadi di sekitarku, tapi bodohnya aku ... aku sama sekali tidak tahu."
"Honey, alasan lain kenapa aku bisa cepat keluar sebelum waktunya, itu karena ... kekuatan cintamu yang begitu besar padaku, rasa rindumu padaku, dan juga perasaan yang kau rasakan padaku. Hal itu mendorong kuat tubuhku untuk segera keluar dari sangkar. Tulisanku yang kutulis diatas selembar daun, itu adalah tanda aku mulai bisa kembali.
"Ingin rasanya memberitahumu supaya kau menyuruh Rhea melakukan latihan ritualnya malam itu juga, tapi aku tidak bisa melakukannya. Akhirnya, aku mencoba memanipulasi mimpi Rhea dengan memberitahu apa yang akan dilakukan Rara. Untungnya menantu kita itu pintar. Ia datang ke danau tepat waktu dan aku sudah memberitahumu tadi bagaimana kelanjutannya." Penjelasan Refald kali ini sangat panjang, lebar dan tinggi, tapi cukup membuat Fey mengerti.
"Jadi, itukah sebabnya aku tidak bisa tidur malam itu dan amat sangat merindukanmu? Namun, aku tidak menyadari, kalau orang yang aku rindukan telah kembali."
"Ehm, aku kembali Honey. Aku mencintaimu." Refald mencium mesra istrinya dan meluapkan seluruh rasa yang ia punya.
"Aku juga mencintaimu, suamiku Refald." Fey tersenyum senang menatap wajah tampan Refald.
"Ayo kita temui menantu kita sekarang, sudah saatnya ia mengetahui semuanya. Setelah itu, kita adakan upacara pemakaman untuk nenek Haida. Para penduduk kota mengira, nenek Haida tiada setelah ia selesai menunaikan tugas terakhirnya."
Fey mengangguk setuju. Tanpa peringatan, Refald memeluk Fey dan menghilang dari tempat ini. Keduanya muncul di kamar Rey dimana sudah ada Rhea yang masih belum sadarkan diri sedang terbaring lemah diatas tempat tidur putranya.
***
__ADS_1