
Dua pasang suami istri yang merupakan pasukan dedemit Refald itu bertarung bersama melawan makhluk kloningan yang menyerupai mereka semua. Karena Rey menggunakan cara ekstrem yang romantis habis, Divani dan pak Po bisa menghabisi mereka dengan mudah meskipun para kloningan dirinya dan pak Po mencoba menghalau langkah mereka yang terus saja menyerang kloningan Rey dan Rhea saat mereka berciuman.
"Rey, apa ini? Kenapa kita harus berciuman seperti ini?" Rhea mencoba melepaskan diri dari Rey tapi suaminya itu terus menarik wajahnya mendekat ke wajah Rey.
"Sudahlah, ayo berciuman saja Sayang. Nanti akan aku jelaskan, jangan lupa untuk bernapas, oke!" Rey mencium Rhea lagi tanpa memberikan celah pada Rhea untuk bicara lagi.
Keduanya terus beromantis ria sementara ayah dan ibu Rhea berperang membasmi para makhluk pengkloning itu.
"Hadeuh, nasibku ... disaat dua sejoli itu beradu kasih, aku dan Divani malah beradu tangan dan menghancurkan kepala musuh," gerutu Ezi alias pak Po.
"Jangan banyak mengeluh, Ezi. Sudah tugas kita melindungi pangeran dan putri kita!" Seru Divani sambil menghancurkan kepala monster pengkloning yang meniru wajah Rey dan Rhea saat berciuman mesra dihadapannya.
"Tapi aku, kan juga ingin, Di? Sudah lama juga ... kita ... ehm ... anu ... itu ...." pak Po saling menunjuk-nunjuk jari telunjuknya sendiri tanpa berani melanjutkan kalimatnya.
"Baiklah, begini saja ... kalau kita sudah menyelesaikan semua ini, aku akan menciummu seperti Rey mencium Rhea. Kau setuju?" tawar Divani agar suaminya itu tidak terus-terusan mengeluh.
"Benarkah?" seru pak Po jadi semangat. "Oke! Kalau begitu akan aku hancurkan mereka semua! Tapi kau harus menepati janjimu, Di!" Pak Po langsung melesat pergi menyerang semua makhluk pengkloning itu dengan membabi buta.
Entah setan jenis apa yang merasuki pak Po hingga dia jadi kakao begitu. Untuk sesaat, pak Po jadi tak terlihat bloon lagi. Sebaliknya, dia jadi keren sekali.
Sayangnya, langkah pak Po tiba-tiba saja dihadang oleh Divani palsu dan Divani yang asli dihadang oleh pak Po palsu. Baik pak Po ataupun Divani,sebenarnya sudah tahu kalau hal seperti ini bakal tejadi. Karena itu, pak Po mengatakan hal yang tidak dimengerti oleh kloningan-kloningan mereka.
"Bunga," ujar pak Po dan Divani asli secara bersamaan ditempat yang berbeda begitu mereka berhadapan dengan kloningan mereka masing-masing.
Para kloningan pak Po dan istrinya, sama-sama bingung dan mereka hanya saling pandang karena tidak mengerti. Tentu saja mereka hanya kowah kowoh karena yang tahu lanjutan kata 'bunga' hanyalah Ezi dan Divani saja.
__ADS_1
"Tidak ada yang menjawab, berarti kalian semua palsu!" Seru Divani asli dan langsung menghancurkan kepala pak Po palsu menjadi butiran debu. Ia pun melanjutkan menyerang Rey dan Rhea palsu juga.
Selama Rey dan Rhea asli terus berciuman, Divani bisa menghancurkan kloningan itu dengan mudah. Kini, pasangan Rey dan Rhea palsu tinggal sedikit. Ditambah lagi, ia juga harus melawan para kembaran suaminya. Namun, istri pak Po bisa mengatasi makhluk kloningan itu karena ia selalu mengucap kata 'bunga' sebelum menyerang. Jika tak ada sahutan, maka sudah dipastikan, pak Po yang ada dihadapannya adalah pak Po palsu.
Hal serupa juga dilakukan pak Po ketika ia dihadang oleh kloningan-kloningan Divani. Iapun mengucap kata 'bunga' sebelum ia menyerang dan karena tidak ada yang menjawabnya, maka pak Po langsung menghancur leburkan Divani yang sudah pasti makhluk kloningan itu.
Meskipun para Divani-Divani palsu tersebut mencoba menggoda pak Po dengan berbagai macam cara, tak satupun dari mereka bisa melanjutkan kata yang diucapkan pak Po. Dengan begitu, tanpa ragu Ezi langsung menghancurkan kepala Divani palsu karena mereka tak tahu kata sandinya. Seperti yang ada di depan pak Po sekarang ini, ia berhadapan dengan Divani yang menatap tajam ke arahnya.
"Bunga," ujar pak Po untuk memastikan apakah Divani ini palsu atau asli.
"Kuning," ujar Divani palsu itu asal tebak.
Karena jawaban Divani satu ini hampir mendekati benar, pak Po jadi ragu. Ia bimbang dan hampir saja terkecoh jika saja Divani asli tidak cepat-cepat menghancurkan kepala Divani palsu sebelum makhluk itu menggigit pak Po.
"Mau itu kuning atau bukan, jawabannya salah Ezi," jangan bimbang lagi!" Seru Divani asli dan iapun pergi lagi menyerang makhluk kloningan yang tersisa.
Begitu Rhea berdiri dihadapan pak Po, iapun mengatakan satu kata, sama seperti yang tadi ia ucapkan untuk memastikan apakah pak Po yang berdiri dihadapannya ini asli atau palsu.
"Bunga," ujar wanita cantik itu.
Pak Po tak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat ke arah Divani dan terus ada saja menatap wajah cantik jelita istrinya.
Karena tak ada sahutan, Divani mengira bahwa pak Po yang berjalan mendekat kearahnya, adalah pak Po palsu. Hampir saja Divani hendak melayangkan tinjunya ke wajah Pak Po, tapi aksinya ia urungkan tepat di depan hidung suaminya ketika pak Po mengucapkan satu kata yang sesuai dengan apa yang diharapkan Divani.
"Marigold," ujar pak lirih sambil garuk-garuk kepala.
__ADS_1
Meski sangat terkejut, Divani tak menyangka suaminya itu masih mengingat hal yang bisa membuatnya jatuh hati pada pak Po hingga detik ini.
"Kau ingat, Ezi?" tanya Divani tak percaya.
"Kebetulan, Di. Kan tadi monster terakhir bilang
warna kuning. Tadinya aku kira bunga yang dimaksud adalah bunga matahari, tapi ternyata bukan, jadi kujawab 'marigold', eh ternyata benar. Padahal aku asal tebak loh. Beneran, aku kira bunga matahari. Dan para makhluk pengkloning itu tak satupun menjawab matahari."
Senyum mengembang disudut bibir Divani langsung lenyap setelah mendengar ucapan pak Po. "Dasar bodoh!" gumam Divani kesal.
Setelah memastikan semua makhluk pengkloning itu sudah berhasil dimusnahkan semuanya, Rey pun mengakhiri ciumannya. Kepala pangeran dedemit itu menunduk sambil mengatur napasnya. Ini adalah ciuman terlama yang pernah dilakukan Rey dengan Rhea, dan rasanya ternyata ... wauuw, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sangat ekstrim dan tak biasa.
Rhea sendiri juga kehabisan kata-kata. Rhea benar-benar dimabuk kepayang oleh suaminya yang ternyata, bisa mesum juga. Tak dapat dipungkiri, ciuman maut Rey ternyata bikin candu Rhea.
"Darimana kau belajar menciumku seperti itu?" tanya Rhea yang napasnya masih naik turun.
"Ini alami, Sayang. Mungkin sudah mengalir
dengan sendirinya meskipun aku baru pertama kali ini mencium seorang wanita dengan durasi yang sangat lama. Kau tahu Sayang? Aku ingin berciuman lama seperti tadi."
"Kau ini mulai ngelantur kemana-mana. Kita masih belum bisa bersenang-senang meskipun ayah dan ibu berhasil mengalahkan para monster itu. Setelah ini adalah, kita harus cari jalan keluar dari sini."
"Tak semudah itu Rhea," sela Irene yang sejak tadi diam saja mengamati jalannya pertempuran. "Saat kau melintasi gerbang perbatasan magnet bumi dan meninggalkan pusaran magnetnya, maka ... kau akan terlempar ke lintasan waktu yang terjadi di masa lalu. Bukan di masa sekarang," terang Irene.
"Apa maksudmu?" tanya Rhea tak mengerti.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***