
Refald hanya menundukkan kepalanya sambil geleng-geleng kepala. Menghadapi pasukan dedemitnya yang satu ini harus benar-benar ekstra sabar. Namun tidak demikian halnya dengan Fey, istri Refald itu tidak bisa bersabar menghadapi pak Po yang bloonnya nggak ketulungan. Belum ada sejam sejak istrinya melahirkan dan si bodoh pak Po bisa-bisanya bertanya apakah masih bisa punya anak lagi atau tidak. Dasar dedemit tidak berperasaan!
“Tenanglah Honey. Kau bisa terkena darah tinggi.” Refald mencoba menenangkan istrinya sementara mbak Kun malah asyik bermain-main dengan Rhea kecil.
“Bagaimana aku bisa tenang, Refald? Aku sampai tidak habis pikir, ada ya dedemit model pasukanmu itu. Dia pikir melahirkan itu semudah buang hajat apa? Sakitnya benar-benar luar biasa. Bahkan kami para wanita juga harus berjuang nyawa antara hidup dan mati demi melahirkan keturunan para kaum adam. Aku tidak menyinggung dirimu.” Fey buru-buru meralat ucapannya supaya Refald tidak salah paham. “Bisa-bisanya si bengek itu menanyakan apakah bisa punya anak lagi atau tidak?” lanjut Fey dengan emosi yang meluap-luap.
“Kau seperti tidak tahu pak po saja, Honey. Begitulah dia …”
“Kenapa kau malah membelanya?” sengal Fey semakin marah. Sekarang ganti Refald yang kena imbas omelan Fey juga.
“Aku tidak membelanya, Honey. Pak Po memang bodoh, mana dia tahu seperti apa rasanya melahirkan. Mungkin dia begitu senang karena ia punya anak dan bisa jadi, dia ingin memiliki anak yang banyak.” Refald menyampaikan apa yang dirasakan pak Po sebagai seorang laki-laki yang baru saja menjadi ayah seperti dirinya.
“Kalau begitu dia saja yang melahirkan!” bentak Fey pada pak Po. Mana berani Fey membentak Refald tanpa alasan yang jelas. Bisa-bisa Refald memakannya hidup-hidup.
“Benarkah saya bisa melahirkan, Ratu? Bagaimana caranya?” Tanya pak Po sok polos lagi.
“Diam kau!” bentak Fey dan Refald bersamaan.
Seketika pak Po langsung ciut karena sepertinya ia telah salah bicara. Baik Refald ataupun Fey sedang kesal padanya.
“Pak Po, jika kau bisa melahirkan sendiri, kenapa kau menikah?” Tanya mbak Kun mencoba mencairkan suasana ketegangan yang sedang terjadi disini.
__ADS_1
“Karena aku mencintai Divani, sama seperti raja mencintai ratu.” Pak Po menatap sendu wajah istrinya. Dan jawaban pak Po lumayan membuat Fey dan Refald tertegun juga.
“Syukurlah pak Po masih bisa mengerti apa itu cinta. Sudahlah Honey, jangan marah lagi. Aku harus segera melakukan ritualku. Kasihan Divani.” Refald menatap mesra istrinya supaya Fey tidak marah lagi. Fey sendiri terdiam dan menuruti suaminya.
Itulah kenangan yang diingat Divani didetik-detik terakhir ia berubah menjadi seperti suaminya. Meski saat itu ia sudah bukan manusia lagi, tapi Divani masih bisa memberikan ASI eksklusif untuk Rhea. Bahkan istri pak Po yang tadinya buta, langsung bisa memlihat lagi. Pak Po dan Divani selalu menjaga dan melindungi Rhea kecil, membesarkannya layaknya keluarga normal lainnya.
Sampai akhirnya Rhea dewasa dan kini telah menikah dengan seorang pangeran tampan yang luar biasa. Ditambah lagi, putrinya memilki mertua yang begitu menyayanginya melebihi dirinya sendiri. Sekarang sudah tidak ada lagi yang dikhawatirkan Divani, ia hanya berharap dan berdoa, semoga Rhea akan terus hidup bahagia.
Setelah puas memeluk Fey, Rhea beralih memeluk ibunya sendiri. Saat itulah Rhea langsung menangis untuk meluapkan semua amarah yang terpendam dalam hatinya.
“Jangan menangis, Sayang. Ini hari bahagiamu dengan pangeran yang kau cintai. Harusnya kau tertawa, bahkan aku ingin melihatmu melompat-lompat saking senangnya. Jangan merusak riasan wajah cantikmu dengan air mata, Sayang. Tersenyumlah, sudah waktunya kau bahagia setelah apa yang sudah kalian alami bersama.” Divani mengusap-usap lembut rambut indah Rhea.
“Jelaskan padaku, Ibu. Apa yang terjadi? Kenapa kalian membuat sandiwara ini. Aku dan Rey benar-benar ….”
“Lebih dari itu, Ibu. Bahkan matipun aku tidak rela jika suamiku menjadi milik wanita lain yang ternyata wanita itu adalah aku sendiri.” Rhea masih berlinang air mata saat mengingat pertemuanya dengan Rey. Bahkan jantungnya masih berdetak kencang kala Rey mengatakan kalau suaminya itu sudah mengucapkan sumpah pernikahan dengan wanita lain selain dirinya. Betapa sakit hati Rhea mendengar kata-kata itu keluar dari mulut orang yang dicintainya, sakitnya bahkan masih terasa sampai sekarang.
“Rhea, bukan hanya dirimu saja yang terkejut dengan semua hal yang sudah terjadi. Kami sebagai orangtua juga terkejut melihat masa depat yang akan kau lalui bersama dengan Rey jika kalian benar-benat menikah. Sebab itulah ayah mertuamu harus mencarikan solusi untuk mengatasi masalah yang menghambat kebahagiaan kalian dimasa depan.”
“Aku tidak mengerti apa maksud, Ibu. Jelaskan, Ibu … apa … aku dan Rey tidak akan bisa bahagia?” entah kenapa Rhea merasa sedih.
“Dulu iya, tapi sekarang … kalaian sudah melewati amsa-masa itu.”
__ADS_1
“Sungguh aku masih belum paham apapun, Ibu.” Rhea menatap penuh harap wajah cantik mertuanya.
“Malam dimana kakak angkatmu menikah dengan Jakson, Refald mengajakku kesuatu tempat yang jauh dari tempat tinggal kalian disini.” Fey mulai mengenang masa saat Refald menculiknya dan menghilang dari pandangan semua orang.
“Kenapa kau membawaku kemari?” Tanya Fey saat ia berada disebuah tempat yang dipenuhi dengan salju. “Kita harus menghadiri pernikahan Jakson dan Rara.” Fey mengira suaminya ini hanya ingin berduaan dengannya.
“Sudah ada Rhea dan Rey yang mewakili kita, Honey.” Refald menggenggam erat kedua tangan istrinya. Mereka berdua kini saling berhadapan.
“Refald, aku tahu … kita baru saja bertemu, dan kita juga sama-sama ingin menyalurkan hasrat rindu kita berdua. Tidak bisakah kita menundanya sampai pernikahan Rhea dan Rey terlaksana. Sudah waktunya putra putri kita bahagia.” Fey menatap wajah Refald.
“Bukan itu masalahnya, Honey. Ada hal yang lebih penting dari pernikahan Rey dan Rhea.” Refald menundukkan kepalanya dan menatap kedua tangan Fey yang ia pegang. “Aku memang sangat sangat merindukanmu, bahkan aku ingin menghentikan waktu selama mungkin agar bisa berduaan saja denganmu. Tapi … bagaimana bisa aku bersenang-senang denganmu sementara anak-anak kita menderita jika Rey dan Rhea menikah sekarang.”
Fey sangat terkejut mendengar kalimat terkahir yang dikatakan Refald padanya soal masa depan Rey dan Rhea. “Apa yang kau lihat dari mereka?” tanya Fey dengan nada sedikit gemetar.
Refald tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Ia masih terus menatap kedua tangan Fey yang masih digenggamnya.
“Katakan Refald, apa … yang akan terjadi pada mereka berdua? Jelaskan padaku?” tanya Fey sekali lagi berharap suaminya ini mau memberitahunya.
“Sesuatu … yang amat sangat menyakitkan Honey, bahkan lebih sakit dari kematian,” jawab Refald lirih dan Fey langsung tertegun.
Entah kenapa … tubuh Fey serasa lemas, tapi ia tetap penasaran tentang apa yang akan terjadi sebenarnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***