Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 117


__ADS_3

Kalau yang dilawan itu iblis jahat atau mafia terkejam di dunia, baik Refald ataupun Leo, masih bisa mengalahkan mereka semua dengan kekuatan dan kekuasaan yang mereka miliki. Masalahnya adalah, yang mereka hadapi ini bukan makhluk astral ataupun manusia biasa, melainkan kekuatan alam. Tak ada manusia manapun di dunia ini bisa melawan betapa ganas dan besarnya kekuatan alam semesta sehebat apapun orang itu. Hal inilah yang membuat Refald serta yang lainnya agak sedikit mengalami kendala meskipun Refald sudah mengetahui solusinya.


Hanya saja, semuanya membutuhkan waktu, kesabaran, dan juga kepercayaan. Saat ini, Refald hanya bisa berharap istrinya dapat melakukan sesuatu untuknya dan juga semua yang terjebak di sini agar terlepas dari jeratan pusaran medan magnet.


"Lalu ... apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah ini murni karena fenomena alam atau ada yang sengaja memanipulasi semua ini?" tanya Rhea lagi. Ia mulai khawatir kalau ia dan keluarganya terjebak di sini dalam jangka waktu lama dan tak bisa diprediksikan kapan mereka bisa keluar dari pusaran ini.


"Itulah yang aku tidak tahu, Sayang. Semoga saja ini memang fenomena alam yang langka. Dan bukan ulah manusia ataupun makhluk astral lainnya." Rey memeluk tubuh Rhea agar istrinya ini tak perlu khawatir.


"Aku punya firasat kita akan terjebak di sini dalam kurun waktu lama Rey," ujar Rhea dalam dekapan suaminya.


"Lama atau sebentar, bagiku tidak masalah asal kau tetap bersamaku, Rhea. Kita akan terus bersama-sama menghadapi fenomena alam ini berdua. Masih untung kita terperangkap di hutan. Jadi, kita bisa memanfaatkan apa yang ada di dalam hutan ini untuk bertahan hidup sampai fenomena langka ini berakhir. Seandainya kita terperangkap di gurun. Aku tak bisa membayangkannya."


"Benar juga. Hutan sudah menjadi kehidupanku sehari-hari. Semoga saja, ini segera berakhir." Rhea tersenyum menatap wajah tampan Rey yang langsung membalas senyumannya.


Sejujurnya, sampai detik ini Rhea masih merasa cemas, untungnya ada Rey dan kedua orangtuanya disini sehingga rasa cemas Rhea sedikit berkurang mengingat ia tak terjebak sendiri, melainkan terjebak bersama-sama dengan orang yang ia sayangi. Namun tak dapat dipungkiri, baik ia dan yang lainnya tak mungkin hanya bisa diam saja tanpa melakukan apa-apa. Pasti ada cara yang harus ia lakukan agar bisa secepatnya keluar dari tempat ini. Sayangnya, Rhea tak tahu apa yang harus ia lakukan.


"Kalian semua tidak akan semudah itu, bisa keluar dari tempat ini," ujar seseorang dari kejauhan dan Rey tahu siapa pemilik suara itu. Rhea sendiri juga terkejut karena suara itu membuat tubuhnya langsung langsung terbujur kaku.


Pak Po dan Divani juga langsung bergerak cepat mendekat kearah tempat Rhea dan Rey berdiri. Pasangan dedemit itu langsung pasang badan untuk melindungi putri dan menantu mereka.

__ADS_1


***


Sementara di istana Refald tempat Shena dan yang lainnya berada, Fey mulai merasakan ada sesuatu mengganjal hatinya. Entah kenapa, tanpa alasan jelas, istri Refald itu terlihat gelisah.


Sejak kepergian suaminya beberapa jam lalu, hati Fey sungguh gundah gulana. Ia berjalan mondar mandir kesana kemari dibalkon lantai 2 yang menghadap langsung ke area pengunungan tempat suami dan yang lainnya berada. Matanya tak lepas dari pegunungan itu.


Shenapun juga merasakan hal sama seperti yang dirasakan kakak iparnya. Keduanya sama-sama risau karena memikirkan suami-suami dan anak-anak mereka yang hingga detik ini tidak ada kabar sama sekali.


"Kakak, apa tidak sebaiknya kita menyusul mereka? Aku benar-benar merasa ada yang tidak beres di sana. Aku ... seolah mendengar Leo memanggil-manggil namaku. Apa ini cuma perasaanku saja? Tapi aku yakin aku mendengar suara Leo." Shena memulai pembicaraan setelah beberapa waktu terdiam karena terlalu serius bergelud dengan pikirannya sendiri.


"Ehm, akupun juga begitu Shena. Aku tak bisa menghubungi seluruh pasukan dedemit Refald. Pasti sedang terjadi sesuatu dengan mereka. Hatiku sama sekali tidak tenang di sini. Ayo kita susul mereka! Aku akan melindungimu." Fey menggandeng tangan Shena yang langsung mengangguk setuju dengan usulan kakak iparnya. Tak perlu menunggu waktu lama, mereka berdua langsung menuruni tangga menuju pintu keluar.


Namun, belum sempat keduanya sampai mendekati pintu keluar, tiba-tiba saja ayah mertua Shena dan Fey datang menghadang dan mencegah kepergian menantu-menantu mereka.


"Kalian tidak boleh kemana-mana. Tetaplah di sini sampai Refald dan Leo kembali," tambah Byon tak kalah protektif dari kakak iparnya.


"Ayah, Paman, biarkan kami berdua lewat. Kami harus menyusul suami-suami kami. Kami yakin, mereka pasti sedang dalam masalah," Fey memohon pada ayah mertua dan pamannya.


"Itu benar, Ayah." Shena ikut meyakinkan Byon. "Tolong izinkan kami pergi. Aku merasa Leo sedang membutuhkanku. Tolonglah, Ayah." Mata Shena berbinar-binar meminta Byon tak menghalanginya pergi dari sini.

__ADS_1


Awalnya, Byon sedikit goyah melihat mata tulus Shena, tapi ayah Refald berusaha mengingatkan Byon akan janji yang sudah mereka ucapkan pada Refald dan Leo saat keduanya tak ada di sini.


"Tolong jaga Shena Ayah," ujar Leo sebelum ia pergi bersama dengan Refald. "Apapun yang terjadi pada kami, jangan biarkan Shena pergi dari istana ini sampai kami kembali," tandas Leo lagi.


"Kemungkinan besar kami memang akan mengalami kesulitan, tapi tolong pastikan kalau tidak ada seorangpun yang boleh keluar dari istana ini. Sebab, makhluk pengkloning itu bisa saja masih ada dan menyamar sebagai kalian lagi jika ada yang keluar dan merusak pelindung yang sudah kubuat." Refald sangat serius dengan ucapannya.


Itulah pesan dari Refald dan Leo untuk Byon dan Dilagara agar tak membiarkan siapapun keluar dari istana ini, terutama Fey dan Shena.


"Maaf Shena, kau tetap tidak boleh keluar dari istana ini. " nada suara Byon terdengar sedih.


"Jika memang mereka sedang dalam kesulitan, Refald pasti menghubungi kami semua," sahut Dilagara. "Sampai detik ini, kami tidak mendapat kabar apapun dari mereka. Artinya, mereka semua pasti baik-baik saja."


"Apa Ayah, yakin?" tanya Fey. Ganti dia yang menatap lurus mata ayah mertuanya. "Apa Ayah tidak merasakan sesuatu seperti yang kurasakan sekarang?"


"Bukan begitu, Fey. Terlepas dari apa yang sudah kita alami bersama, bisa saja kau sedang tertipu oleh halusinasi yang belum tentu terjadi. Percayalah pada suamimu. Kami sudah berjanji pada Refald dan Leo untuk tetap menahan kalian berdua di sini apapun yang terjadi. Jika memang yang kau rasakan itu benar, maka biar kami saja yang menyusul mereka." Ayah Refald menyakinkan Shena dan Fey agar tidak mengkhawatirkan suami-suami mereka.


"Sekarang, kembalilah ke kamar kalian. Tempat ini, adalah tempat teraman yang Refald berikan untuk kita. Aku yakin, mereka semua akan kembali dalam keadaan hidup," ujar Byon. Belum sempat Shena dan Fey buka suara lagi, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan ibu mertua Shena.


"Gawat!" Teriak Biyanca tiba-tiba.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2