
Fey hanya tersenyum melihat ulah jahil suaminya. Refald sama sekali tidak berubah, sejak dulu hingga sekarang, ia suka membuat orang kesal. Namun itulah Refald, sang raja dedemit yang kini semakin kuat dan tak tertandingi. Saat dua orang payah ayah dan anak itu sibuk berdebat, Fey maju melangkah mendekati Rhea yang terlihat bingung dengan hadirnya Refald disini.
"Ada apa Rhea, apa kau baik-baik saja?" tanya Fey lemah lembut. Ia duduk di samping Rhea.
"Ibu ... apa yang aku lihat ini nyata? Ayah ...." Rhea tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia takut kalau ini hanya mimpinya saja.
"Ini nyata, Sayang. Semuanya sudah kembali. Sebentar lagi ayahmu juga akan sampai. Ibu dan bibimu, mbak Kun juga sedang ada dirumah sakit menunggui Rara."
"Ayahku? Apa yang terjadi padanya, Ibu? Memangnya ayah pergi kemana?"
"Tidak terjadi apa-apa, hanya saja ia harus terpaksa pergi mencari oleh-oleh untuk kita." Fey membelai lembut rambut hitam pekat menantunya. Meski Rhea masih terlibat bingung. Ia tetap berusaha tenang sambil mencerna semua yang terjadi.
"Ayahku melempar ayah mertua jauh ke udara entah tak tahu dimana rimbanya," ujar Rey dan itu membuat Rhea menatapnya. Awalnya Rhea terkejut tapi entah kenapa Rhea merasa itu bukanlah hal aneh lagi baginya.
"Lebih sadisnya lagi, Ayah sengaja meminta ayah mertua membawakan oleh-oleh untuk kita semua." Rey menambahkan lagi sambil melirik ayahnya sebagai wujud balas dendam karena tari sudah dikerjai.
"Hooo, kau pandai mengadu pada istrimu rupanya, ha? Belajar darimana kau?" Refald melipat lengan bajunya hingga siku dan bersiap-siap mencincang Rey.
"Aku lupa belajar dari siapa? Entah dari paman Leo atau dari Ayah sendiri.
"Aku tidak pernah mengadu pada Fey seperti yang kau lakukan itu! Sekarang, kau mau diapakan?"
"Ayah bersikap tidak adil pada ayah mertua." Rey bersikukuh membela mertuanya sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Itu terjadi tidak disengaja." Refald membela diri.
"Tetap saja, ayah masih suka menjahili siapapun termasuk putramu sendiri."
__ADS_1
"Itu memang sudah sifatku, tanya saja ibumu?"
Rey ingin berdebat lagi, tapi Fey langsung melerai keduanya. "Sudah-sudah, hentikan perdebatan tidak penting kalian! Ayahmu memang seperti itu, Rey. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, ingin sekali aku menjadikannya pepes ikan. Ayahmu memang pandai sekali membuat orang kesal. Jadi kau tidak perlu kaget dan berdebat dengannya." Fey beralih menatap suaminya. "Dan kau Refald, jelaskan pada putra putri kita apa yang terjadi sebenarnya supaya Rhea tidak terus-menerus merasa bersalah.
Refald mengangguk pelan dan mulai menjelaskan semua fakta sebenarnya seperti yang ia terangkan pada Fey tadi tanpa ada yang ditutupi termasuk kematian nenek Haida yang terjadi pada 3 tahun lalu. Tentu saja Rey dan Rhea terkejut mendengar fakta tersebut. Rhea langsung menangis dipelukan Fey sedangkan Rey hanya berdiri diam terpaku.
"Pantas saja, aku tidak pernah melihat paman Arka. Ternyata dia ... adalah nenek ... Haida?" tanya Rey sambil menatap ayahnya.
"Ehm, aku sudah menyiapkan upacara pemakamannya. Para penduduk kota juga ikut berduka. Mereka mengira, nenek Haida tiada setelah menyelesaikan tugas terakhirnya memandu ritual terakhir Rhea." Refald mendekat pelan ke arah menantunya yang masih shock.
Rhea bahkan tidak bisa bicara apa-apa saking terkejutnya mengetahui siapa yang selama ini ada disisinya, dan orang itu ternyata ... Arka. Paman yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Pantas saja nenek Haida terlihat begitu menyayanginya melebihi cucunya sendiri. Ternyata ini alasannya.
"Kaulah yang akan membantu upacara pemakaman nenek Haida sesuai tradisi dikota ini, Rhea. Harusnya ini dilakukan oleh Rara, tapi kakakmu itu masih belum sadar dari komanya. Jadi, kaulah yang harus melakukannya. Apa kau siap?"
"Siap, Ayah." suara Rhea terdengar gemetar. Ia juga mulai berlinang air mata. Suasana mendadak jadi penuh duka. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bersuara.
"Tentu," ujar Refald dan ia langsung melirik putranya.
Reypun mengerti dan ia langsung mendekat ke arah Rhea. Rey menggendong kekasihnya ke dalam dekapannya. Sedangkan Refald meraih tangan Fey dan menggenggamnya dengan erat. Mereka berempat langsung meluncur kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Rhea berlari dan langsung memeluk erat ibunya yang berubah wujud menjadi manusia. Tangis haru keduanya langsung pecah begitu keduanya berpelukan. Ibu dan anak ini saling melepas kerinduan yang sudah terpendam selama 3 tahun lamanya.
"Kau tidak apa-apa, Sayang. Kau sudah dewasa sekarang." Divani memegang kedua pipi putrinya sambil berlinang air mata.
"Ibu," ujar Rhea dan ia menangis dipelukan ibunya. Akhirnya, ia bisa bertemu kembali dengan ibunya dan ia sungguh terkejut, tidak ada satupun yang menua diantara mereka semua. Rhea merasa kalau ia sedang berkumpul dengan rekan sejawatnya sendiri.
"Kau semakin cantik saja Sayang. Ayahmu pasti senang bertemu denganmu, begitu juga dengan mbak Kun." Divani membelai lembut rambut putrinya.
__ADS_1
"Dimana bibi, Ibu? Aku tidak melihatnya."
"Ia pergi dengan Arka, mungkin mereka berdua sedang meluapkan rasa rindu yang sudah mereka pendam selama 3 tahun terakhir ini."
Rhea langsung mengerti dan matanya teralih pada ruang ICU dimana didalamnya ada Rara yang terbaring lemah disana. Melalui kaca jendela luar, Rhea menyaksikan betapa buruknya kondisi Rara. Apalagi, kakak angkatnya itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Belum lagi masalah hidup yang harus ia tanggung sendiri. Dan sekarang, Rara kuga harus mengalami koma disaat seperti ini. Air mata Rhea terus mengalir melihat betapa mirisnya hidup Rara. Bahkan Rhea tak bjsa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Bagaimana dengan janin yang dikandung kakak, Ayah?" tanya Rhea masih berlinang air mata.
"Bagaimana menurutmu, Di?" Refald bertanya pada Divani karena dialah yang membantu menghidupkan Rara kembali.
"Janinnya baik-baik saja, Raja. Sebab, Jiwanya masih ada didalam saat saya memasukkan lilin itu," terang Divani.
Refald mengangguk. "Kau jangan khawatir, Rhea. Kakakmu dan janinnya baik-baik saja. Kita hanya menunggu dia sadar kembali. Ah ... satu lagi, Ayahmu sudah ada diluar, kau ingin menyambutnya?" tanya Refald.
Tentu saja, Rhea langsung berlari keluar untuk melihat ayahnya. Semua orang termasuk Rey juga ikut keluar untuk menyambut kedatangan pak Po. Namun, semuanya langsung melongo melihat cara pak Po datang dan apa yang ia bawa. Mata Refald langsung menyala terang menahan geram. Salah satu pasukan dedemitnya yang satu itu benar-benar suka sekali bikin ulah. Refald sampai meninju kepalan tangannya sendiri saking emosinya. Ia hendak melangkah maju untuk mencincang pasukannya yang bloon itu, tapi langkahnya dicegah oleh Fey.
"Jangan, Suamiku." Fey meraih tangan Refald sehingga sang raja dedemit itu mengurungkan niatnya.
"Kau tidak lihat, Honey? Lihat ulah pak Po? Berani sekali dia?"
"Pasti ada alasannya, kita dengar dulu penjelasanya!" Fey berusaha menenangkan suaminya. Sebenarnya, Fey juga geram. Tapi ia tidak boleh gegabah dalam menghadapi apa yang dilakukan pak Po sekarang. Sebab, Fey masih menjaga perasaan Rhea dan Divani.
BERSAMBUNG
***
Pak Po ... siap-siap ya ... Rajamu mulai beraksi .. hehehe. Apa yang dilakukan pak Po ya?
__ADS_1