
Setelah selesai memberi pertolongan pertama pada Rey dan memastikan bahwa Rey baik-baik saja, Rhea teringat akan apa yang ia curi dengar dari pembicaraan antara Fey dan kakaknya Rara tadi. Saat itu, ia lebih memilih fokus menenangkan Rey agar tidak sampai kehilangan kekuatannya sehingga Rhea terpaksa mengabaikan Rara walau ia sempat terkejut atas pengakuan yang diutarakan kakak angkatnya pada ibu mertuanya. Sebenarnya, Rhea tidak ingin percaya, tapi rasa penasarannya benar-benar tidak bisa dibendung lagi.
"Rey, bisakah aku minta tolong?" tanya Rhea agak sedikit ragu.
"Katakan Sayang, apapun pasti bakal aku lakukan untukmu." Rey mengusap lembut pipi Rhea.
"Antarkan aku ke rumah bibi Riska, sekarang juga."
Rey diam dan terus mengamati Rhea yang sudah mulai berkaca-kaca. Tanpa berbicara, Rey menggenggam erat tangan Rhea dan mencium punggung tangannya.
"Aku mau mengantarmu, tapi kau harus janji satu hal padaku," ujar Rey. Matanya tak pernah berhenti melihat Rhea.
"Apa?"
"Apapun yang terjadi disana nanti, kau harus kuat. Jangan lemah dan juga ... jangan coba-coba mencampuri urusan yang bukan urusanmu."
"Kita lihat saja nanti." Rhea tidak berani janji.
"Kalau begitu, aku tidak mau mengantarmu."
"Ya sudah, aku bisa kesana sendiri." Rhea beranjak bangun dari tempat duduknya, tapi Rey langsung menarik tangan Rhea hingga jatuh terduduk dipangkuan Rey.
"Berani kau melangkahkan kaki dari hadapanku, maka aku akan menikahimu di detik ini juga," ancam Rey.
"Kau mengancamku?"
"Aku menawarkan Sayang, bukan mengancam."
"Apa bedanya?"
" Ya bedalah," kilah Rey.
"Apa cuma itu ancaman yang bisa kau berikan padaku?"
__ADS_1
"Ada, kita bisa bikin banyak anak sekarang."
Rhea menghela napas panjang. Dalam keadaan seperti ini, Rey masih bisa mengajaknya bercanda. "Apa cuma itu? Tidak ada lagi?"
"Kau bersedia, ayo kalau begitu."
"Reyyy! Aku sedang tidak ingin bercanda."
"Aku serius Sayang. Berjanjilah padaku, baru kuantar kau kesana."
"Kau menyebalkan sekali!" Rhea sedikit kesal karena Rey mulai bersikap jahil lagi padanya.
"Dan kau menggemaskan sekali, Sayang." Rey mencubit salah satu pipi kanan Rhea dengan tangan kirinya karena tangan kanannya terluka.
"Hentikan, Rey! Sakit, tahu!" Rhea melepas paksa tangan Rey lalu mengusapnya.
"Habis, sungguh aku gemas sekali padamu. Aku sama sepertimu Sayang, tidak pernah main-main dengan apa yang pernah aku ucapkan. Kau mau berjanji, atau kita bikin anak sekarang," Rey menempelkan dahinya di dahi Rhea.
"Baiklah, aku janji." Sepertinya, tidak ada pilihan lain lagi bagi Rhea selain menuruti ucapan Rey. Sebab kalau tidak, Rey bisa berbuat yang tidak-tidak.
***
Riska sangat terkejut melihat kedatangan Fey malam-malam kerumahnya, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah ternyata Fey tidak datang sendirian. Ia datang bersama dengan wanita yang paling ia benci, yaitu Rara.
"Ada apa Nyonya Refald? Kenapa kau membawa wanita ular itu kemari?" tanya Riska menyongsong kedatangan Fey.
"Panggil putramu kemari, cepat!" bentak Fey marah dan Riska sangat terkejut melihat Fey tiba-tiba saja marah tanpa sebab begitu. Namun, Riskapun langsung memanggil Jakson agar segera datang kemari.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Fey tanpa basa basi. "Apa benar janin yang ada dalam kandungannya itu anakmu? Kau melakukannya?" tandas Fey sambil menatap tajam mata Jakson.
Mulut Riska langsung menganga lebar saking terkejutnya. "Apa yang baru saja anda katakan, Nyonya? Janin? Janin siapa?"
"Rara hamil 2 Minggu, aku sudah memeriksa keadaannya. Sekarang aku hanya ingin memastikan, apakah putramu yang melakukannya," jelas Fey pada Riska.
__ADS_1
"A-apa? Benarkah itu Jack?" tanya Riska dengan nada gemetar. Ingin sekali ia tidak memercayai kabar ini, tapi jika Fey yang mengatakannya, itu artinya benar.
Jakson tidak segera menjawab, ia terkejut melihat Rey dan Rhea datang bersamaan. Diluar dugaan, Jakson tertawa terbahak-bahak sehingga membuat semua orang yang ada disini jadi saling pandang satu sama lain.
"Aku menyuruhmu untuk menjawab pertanyaanku, bukannya tertawa!" geram Riska.
"Ma, bukankah kau sendiri yang bilang kalau Rara itu adalah wanita ular berbisa? Apa kau percaya pada ucapannya? Bisa saja anak yang dikandungnya bukan anakku. Kalian semua tahu seperti apa perangai Rara yang sangat suka mempermainkan perasaan pria."
Jawaban Jakson sungguh mencengangkan semua orang. Tidak ada yang menyangka kalau pria yang terlihat polos ternyata tak sepolos penampilannya. Rupanya, Jakson jauh lebih licik dari Rara.
"Apa yang baru saja kau katakan? Ini anakmu! Aku hanya berhubungan denganmu. Tidak ada yang lain." Rara membela diri.
"Apa buktinya?" sebuah tamparan keras mendarat dipipi Jakson.
plak!
Dan tamparan itu, ternyata berasal dari tangan Riska. "Sejak kapan kau berubah jadi bajiingan begini, ha? Apa kau ingin melihatku mati muda?"
"Ma! Jika benar dia anakku, lalu kenapa? Kalian tidak menyetujui hubungan kami, kan? Dan kau!" Jakson menatap tajam Rara dan menunjuk wajah wanita itu dengan marah. "Kau juga tidak punya niat untuk melanjutkan hubungan ini, bukan? Sebab aku adalah pangeran palsu. Jadi, jangan harap aku mau bertanggungjawab atas janin yang kau kandung itu. Karena kita, sudah tidak punya hubungan apa-apa," tandas Jakson dan tegas. Sama sekali tidak ada keraguan pada setiap kalimat yang ia ucapkan.
Rhea sudah shock berat melihat dan mendengar seperti apa sebenarnya Jakson ini. Ia benar-benar tidak bisa percaya bahwa laki-laki yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri bisa bersikap seberengsek itu.
"Kak, kenapa kau lakukan itu? Apa maksud dari semua ini? Jelaskan padaku?" tanya Rhea sambil menahan air matanya agar tidak tumpah. "Bukankah kau mendekati kakakku karena kau juga ingin dia berubah menjadi lebih baik? Tapi kenapa sekarang ...." Rhea tidak sanggup meneruskan kalimatnya, tubuhnya hampir saja oleng jika saja Rey tidak langsung menangkap tubuh Rhea tepat waktu.
"Sayang, sudah kubilang ... jangan ikut campur?" ujar Rey lirih. "Kau harus memerhatikan kondisimu juga, jangan sampai kau jadi drop begini. Ingatlah apa yang akan kau lakukan setelah ini, Sayang." Rey memeluk Rhea agar ia tidak oleng lagi. Rey sangat tahu seperti apa perasaan yang dialami wanita pujaan hatinya ini.
"Bagaimana aku bisa diam saja Rey, kak Jakson tidak mau mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia lakukan?" Rhea sudah mau menangis tapi ia berusaha keras menahannya.
Bukan Rara yang Rhea khawatirkan, tapi bayi yang tidak berdosa itulah yang menjadi pikiran Rhea. Sudah bisa dilihat seperti apa masa depan janin yang dikandung Rara karena ayahnya yang tak mau mengakuinya.
"Kasihan bayi itu," gumam Rhea lirih dan mulai menyeka air matanya. Sedangkan Rey terus menatap tajam kekasihnya dengan sejuta kekhawatiran diwajahnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
****