
Kata-kata yang keluar dari mulut Fey membuat Refald jadi tertegun. Meskipun di dunia istana sentris ini Fey tak mengenal siapa Refald, tetap saja gejolak cinta keduanya terus membara dan takkan bisa dihilangkan meskipun mereka berada di zaman yang berbeda.
Perasaan cinta itu, dapat Fey rasakan ketika berdekatan dengan Refald. Percikan-percikan cinta yang Fey rasakan tak bisa ia kendalikan. Ditambah lagi, Refald begitu tampan. Siapapun wanita yang ditatapnya seperti itu, pasti akan meleleh hatinya.
Dengan telaten, Fey alias Putri Candra Kirana, mengusap dan membersihkan luka-luka Refald menggunakan selendangnya. Tatapan mata Refald tak pernah sekalipun berpaling dari wajah cantik Fey. Seperti halnya Leo, iapun rela dipukuli setiap hari asal diperlakukan istimewa oleh Fey seperti ini. Setiap sentuhan lembut tangah istrinya membuat hati Refald berbunga-bunga. Seketika rasa sakit akibat luka-lukanya menghilang tak berbekas.
Dilihat dari segi manapun juga, Fey tetaplah cantik. Rambut hitamnya yang panjang dengan balutan kebaya khas zaman dahulu semakin menambah kesan elegan istrinya yang ternyata adalah putri tercantik di dunia ini.
Melihat pesona istrinya yang menawan, Refald jadi sangat rindu dengan kemesraan mereka bila sudah berkencan di dalam hutan. Refald rindu wajah sumringah Fey saat ia menggendong istrinya terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Entah mengapa sekelebat kenangan itu muncul dibenak Refald.
"Aku mencintaimu Honey," gumam Refald lirih dan tentu saja Fey bisa mendengarkan gumaman itu karena jarak mereka sangat dekat. Namun, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi situasi canggung ini.
Haruskah aku membalas kata cinta orang ini sementara aku memiliki tunangan? batin Fey mulai bergejolak.
Di dunia ini, Fey berpesan sebagai tunangan Pangeran Inu Kartapati. Sedangkan di zaman modern, Fey adalah istri Refald. Seorang raja dedemit yang sangat kuat dan ditakuti oleh musuh-musuhnya.
Fey tidak tahu apakah Refald sadar atau tidak, tangan orang yang menurutnya asing tetapi tidak asing ini memegang lembut perut ratanya sambil memejamkan mata seolah sedang merasakan sesuatu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Fey karena merasa Refald sedikit lancang.
"Maaf ... aku ... hanya ingin memastikan, putra kedua kita baik-baik saja," jawab Refald sambil tersenyum.
"Apa?" pekik Fey terkejut. "Kau bilang apa?" Kini matanya memelototi suaminya.
__ADS_1
"Saat kita berdua terlempar ke dimensi ini, kau tengah sedang berbadan dua, Honey." Refald sudah tak sungkan lagi memanggil putri Candra Kirana yang tak lain adakah istrinya sendiri dengan sebutan Honey.
Dan bagai tersihir, Fey sendiri juga tak keberatan meskipun memang ia merasa ada yang aneh dengan dirinya.
"Ada apa ini? Benarkah aku ... tapi ... bagaimana bisa? Aku hamil? Sekarang? Disaat aku sudah punya tunangan? Yang benar saja? Aku bahkan tak pernah tahu seperti apa wajah tunanganku. Bagaimana bisa aku hamil? Dan anak ini ... "
"Anakku?" sela Refald cepat. "Akulah yang bertanggung jawab atas janin yang kau kandung. Meskipun dalam dunia ini kau adalah tunangan orang lain, tapi di dunia modern kau adalah istriku. Kita bahkan punya putra pertama yang sudah menikah. Dan janin yang ada diperutmu ini adalah anak kedua kita," terang Refald.
Fey tercengang dan juga sedikit shock. ia tidak tahu harus berkata apa. Baginya ini sungguh diluar nalar akal sehatnya. Sayangnya, kenyataannya memang seperti itu. Fey adalah istri Refald dan itu tak bisa diubah. Sekeras apapun Fey menyangkal, ia tak bisa melawan fakta ini.
Refald memberanikan memeluk pinggang Fey dan sekali lagi merasakan janin yang ada dalam kandungan istrinya. Sejujurnya, sentuhan Refald ini membuat jantung Fey semakin berdetak dengan kencang. Harusnya ia marah, emosi dan juga tak bisa menerima semua ini. Namun jauh dilubuk hatinya yang terdalam, ia merasa sangat bahagia karena rasa cintanya terhadap Refald telah mengalahkan segalanya.
"Apa yang kalian semua lakukan disini?" Tanpa dinyana-nyana, terdengar suara seorang wanita paruh baya datang dari balik semak-semak.
"Terimalah salam dari keponakanmu ini, Biku. Hamba lupa kalau ini adalah wilayah Biku." Fey mengatupkan kedua telapak tangannya tanda memberi hormat pada Biku Gandasari alias bibinya sendiri.
"Bangunlah, Putri. Kau pasti sudah lama menungguku. Aku baru saja selesai bertapa jadi tak bisa langsung menemuimu begitu kau sampai di sini. Aku kira ada penyusup tadi." Wanita yang dipanggil Fey dengan sebutan Biku ini membantu Fey berdiri.
Refald berbalik arah menatap pertapa sakti itu dan hendak ikut bersimpuh dihadapannya. Tapi Biku Gandasari itu langsung melarangnya karena ia tahu siapa Refald sebenarnya.
"Tidak Yang mulia, anda adalah calon raja dikerajaan kami nanti. Tak sepantasnya anda bersimpuh di depan saya." Biku itu langsung membungkukkan badannya tanda memberi hormat pada Refald dan tentu saja membuat sang raja dedemit itu agak sedikit bingung begitu pula dengan Fey. "Selamat datang di gunung Wilis, Yang mulia Mirza Banta," ujar Biku Gandasari.
"Tolong bersikaplah biasa Biku. Anda lebih tua dari saya. Izinkan saya juga memberi hormat pada anda." Refald hendak membungkuk, tapi lagi-lagi dicegah oleh Bibi Putri Candra Kirana ini.
__ADS_1
"Tidak yang mulia, meskipun saya lebih tua dari yang mulia, tetap saja anda adalah raja kami semua. Suatu kehormatan bagi kami anda bisa berkunjung kemari."
"Sebentar-sebentar, aku tidak sedang berkunjung, aku terlempar kemari bersama istriku yang di dunia ini berubah jadi keponakan Biku. Hanya aku dan adik-adikku saja yang tak berubah menjadi siapapun disini. Dan juga ... bagaimana Biku tahu gelarku?"
"Saat saya bertapa, kami diberitahu kalau Yang mulia sudah tiba di zaman ini. Itulah kenapa saya harus mengakhiri pertapaan untuk menyambut kedatangan Yang mulia." Biku Gandasari yang tak lain adalah bibi dari Fey ini bersimpuh tanda memberi hormat pada Refald.
Tentu saja hal itu, membuat Fey terbelalak tak percaya. Orang asing yang ia anggap hanya sebagai rakyat jelata biasa, ternyata adalah seorang raja yang dihormati oleh Bikunya yang terkenal paling sakti di sini. Jika seorang pertapa sakti saja bisa tunduk dan hormat pada Refald, bisa dibayangkan betapa hebat dan luar biasanya Refald yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Biku, tolong bangunlah! Meskipun aku adalah orang yang anda bilang tadi, tetap saja di dunia ini aku tak punya kekuatan apapun. Sebab aku yakin, jauh di sana ... kakek buyutku pasti masih hidup dan belum menurunkan ilmunya pada keturunannya. Itulah mengapa aku tak bisa menggunakan kekuatanku. Aku hanya kaum sudra di zaman ini."
"Tidak Yang mulia, kakek buyut anda sudah lama tiada. Alasan kenapa Yang mulia tidak bisa menggunakan kekuatan itu karena kekuatan tersebut masih terkunci karena Yang mulia memasuki Medan magnet bumi. Tapi bila kunci itu dibuka, maka Yang mulia beserta yang lainnya bisa kembali ke dunia kalian dan menghilangkan Medan magnet tersebut."
"Benarkah?" Refald langsung berbinar senang mendengar kalimat yang ternyata adalah solusi dari masalah ini. "Bagaimana caranya? Sejujurnya, kami semua sudah melenceng jauh dari cerita. Aku khawatir, kami semua akan terjebak dalam dunia ini selamanya. Meskipun bagiku itu bukan masalah karena ada istri dan calon anakku disini." Refald beralih menatap Fey yang langsung tersipu malu untuk pertama kalinya semenjak ia bertemu dengan Refald di dunia ini.
"Yang mulia bisa menggunakan kekuatan itu lagi, tapi ... untuk membuka kunci agar kekuatan tersebut bisa digunakan, Yang mulia harus melakukan serangkaian ritual panjang tepat dimalam bulan purnama, seluruh rangkaian ritual itu harus segera diselesaikan. Jika tidak, saya tak bisa membantu lagi."
"Kapan bulan purnama itu? Dan ritual apa yang harus aku lakukan? Katakan Biku." Refald terlihat sangat antusias mendengarkan titik terang dari permasalahan yang ia hadapi sekarang.
"Dua hari. Dan malam ini ... ritual pertama harus segera Yang mulia laksanakan." Biku Gandasari itu menatap wajah Refald dan Fey bersamaan.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1