Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 126


__ADS_3

Sementara di sisi lain, Rey dan Rhea juga sedang berusaha melawan semua musuh yang didatangkan Irene. Karena mereka semua berada di dalam pusaran medan magnet, maka Rey cs masih bisa beruntung. Karena musuh-musuh mereka juga tak bisa menggunakan kekuatannya.


Jadi, bisa dikatakan, ini hanya pertempuran jumlah, 4 lawan tak terhingga. Bedanya, musuh akan mengecoh Rey cs dengan menyamar sebagai wajah-wajah mereka. Namun, Rey dan yang lainnya, sudah memiliki cara untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu seandainya Rey cs ini dikloning lagi.


"Sayang, kau ... tetaplah berada dibelakangku. Kelemahan makhluk pengkloning itu ada pada wajahnya. Begitu mereka mendekat, kita hancurkan kepalanya."


"Ehm, aku tahu. Kita juga harus hati-hati." Rhea mulai berjalan mundur ke belakang Rey. Ia menoleh pada ibunya dan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Mata Rhea tak sengaja menemukan sebuah batang pohong kayu besar dan ia hendak mengambil batang kayu tersebut tapi dihadang oleh Rey.


"Jangan, Sayang. Jangan gunakan senjata apapun. Kalau kau pegang senjata, maka makhluk itu juga akan memegang senjata."


"Maksudmu, kita akan melawan mereka dengan tangan kosong?" tanya Rhea.


"Ehm, mereka adalah makhluk peniru. Jadi mereka akan menirukan apa yang kita lakukan. Tapi kau tenang saja, Sayang. Aku rasa ... inilah saatnya menggunakan keahlianku, sebagai murid kesayangan paman Leo. Kalau cuma pertarungan fisik. Aku ... takkan kalah dengan mudah." Mata Rey menajam menatap Irene.


Rey rasa ... Irene tahu seberapa kuat Rey baik dulu, ataupun sekarang walaupun ia tak menggunakan kekuatan supranaturalnya. Sebab, salah satu hobi Rey selain menjadi playboy sewaktu berada di Swiss adalah ... berkelahi dengan banyak orang bahkan gengster kelas kakap sekalipun.


Tentu saja masalah utama perkelahian mereka adalah wanita. Banyak gengster yang tidak terima kalau wanita yang disukainya, jatuh kedalam jebakan cinta Rey. Padahal Rey hanya tebar pesona saja, tak lebih dari itu karena ia memegang teguh pesan dari Leo.


Salah satu wanita yang terjerat akan pesona Rey adalah Irene. Wanita keturunan iblis itu nekat melakukan semua ini hanya karena ia terlalu terobsesi pada Rey yang memang ketampanannya selalu bisa bikin leleh hati wanita yang melihatnya. Bahkan Irene bertindak nekat sampai sejauh ini.


"Ezi, berhati-hatilah, ingat sandi yang harus kau ucapkan saat aku ...."


"Aku mengerti, Di. Kau tenang saja. Aku kesal sekali dengan mereka. Awas saja kalau sampai ada yang meniru wajah tampanku!" ujar pak Po dengan ekspresi kesal tapi terlihat makin lucu.


Divani hanya menghela napas panjang. Ia tidak yakin pak Po mengerti apa yang dia ucapkan. "Ezi ... kapan kau jadi pintar," gumam Di lirih.


"Kau bilang apa?" tanya pak Po.

__ADS_1


"Lupakan, aku tidak bilang apa-apa," decak Divani cuek.


"Kenapa kau menyuruhku berputar-putar?"


"Siapa yang menyuruhmu berputar-putar, ha? Selain bloon, kau budeg juga! Sudahlah! Konsentrasi sana! Kita tak bisa menggunakan kekuatan kita, dan yang kita hadapi adalah monster penghisap darah. Jangan sampai kau tergigit oleh mereka."


Tidak ada sahutan, Ezi alias pak Po hanya diam menatap makhluk-makhluk didepannya. Sampai akhirnya pak Po mengatakan sesuatu yang membuat Divani menjadi darah tinggi.


"Di ... pertanyaan yang kau tanyakan padaku sebelumnya, bolehkah kujawab sekarang? Kelamaan kalau menunggu tahun depan. Kita keburu keluar dari sini."


Sudah kuduga, ia bakal lemot, batin Divani sambil memejamkan mata menghadapi betapa oonnya suaminya itu.


"Aku tidak tahu sebenarnya otakmu itu terbuat dari apa? Terserah kau mau jawab kapan. Aku sudah tidak peduli. Minggir! Kau yang berdiri dibelakangku!" pinta Divani dengan paksa.


"Kenapa?"


"Aku tidak yakin kau bisa menang melawan mereka."


Entah pak Po ini terlalu penurut atau karena memang dia bloon akut makanya ia mengiyakan apa saja yang dikatakan Divani. Pasangan suami istri ini memang benar-benar berbeda dengan pasangan yang lainnya. Mereka berdua sangatlah bertolak belakang dalam segala hal, tapi tetap saling setia dan terus bisa bersama hingga sekarang.


Musuh sudah mulai bergerak mendekati Rey cs. Tentu saja, pergerakan mereka tak lepas dari perintah Irene.


"Lumpuhkan mereka semua, tapi jangan sampai dibunuh," ujar Irene pada anak buahnya.


"Huh, tanpa kau perintahpun kami tahu apa yang harus kami lakukan. Yang kami inginkan adalah tubuh pangeran dan istrinya." Salah satu pasukan monster bertopeng itupun berbicara dengan Irene. Sepertinya, hanya dia yang diizinkan bicara. Sedangkan yang lainnya tidak.


"Terserah, tapi jika kau menyakiti Rey maka akan kupastikan kalian takkan bisa berada di dunia fana ini lagi selamanya." Ancaman Irene sukses membuat salah satu makhluk pengkloning itu diam.

__ADS_1


Sepertinya semua makhluk ini menurut pada Irene karena ia memiliki sesuatu yang membuat mereka patuh tanpa syarat. Entah apa itu.


Para monster bertopeng dan maju dan mulai melancarkan aksinya untuk menyerang Rey beserta yang lainnya. Sebenarnya, peperangan ini sungguh tidak adil karena perbandingan jumlah yang tidak signifikan. 4 lawan banyak. Dan yang dilawan bukanlah makhluk sembarangan.


Kalau orang biasa pasti sudah kalah telak. Berhubung yang diserang adalah keluarga dan pasukan dari raja dedemit dari dunia lain, maka peperangan kali ini bakal lebih seru dan menarik.


Semua makhluk kloning itu masih menggunakan cara sama seperti yang mereka lakukan saat mengacau di pesta resepsi pernikahan Rey dan Rhea waktu itu. Yaitu dengan berpencar dan menyebarkan diri agar Rey cs terkecoh.


Disaat yang bersamaan, mereka semua membuka topeng dan seperti yang sudah Rey cs duga, ada banyak wajah yang mirip dengan Rey, Rhea, Divani dan juga pak Po. Kali ini, mereka tak hanya punya 1 kembaran, melainkan banyak dan jumlahnya tak terhitung.


"Wauuw ....!" Seru pak Po melihat para kembaran-kembarannya. "Ada banyak wajah tampan sepertiku disini. Kalau begini, aku mana tega memukul wajah-wajah tampan itu," ujar pak Po terkagum-kagum. Ia juga takjub ada banyak Divani bertebaran dimana-mana.


"Di kau juga ada banyak," ujar pak Po pada wanita cantik yang ada dihadapannya.


"Ezi, ini bukan waktunya mengagumi mereka." Mata Divani penuh waspada. Ia sudah sangat siap bila makhluk itu menyerang, ah bukan ... lebih tepatnya, para kembarannya yang menyerang.


"Tapi mereka keren, Di ... terutama aku ...," entah sejak kapan pak Po jadi semakin narsis begini.


"Rey ... mereka ada begitu banyak ... aku dan kau ...." Rhea tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Berbeda dengan ayah Rhea yang kagum pada kembarannya, istri Rey itu malah terlihat shock dan bingung sendiri. Ia merasa seperti berdiri di depan banyak cermin.


Namun, alih-alih bingung dengan apa yang dirasakan Rhea dan Divani, terlintas sebuah ide gila diotak Rey yang sebenarnya 11 12 dengan pamannya, Leo. Senyum mengembang menghiasi wajah Rey. Ia yang tadinya sudah berancang-ancang untuk berperang, kembali menegakkan tubuhnya dan balik badan menatap Rhea yang langsung bingung dengan sikap Rey karena mendadak berubah aneh.


"Ada apa? Kok malah senyam-senyum begitu?"


"Sayang, kita tak perlu buang-buang waktu dan tenaga untuk mengalahkan mereka semua. Aku ... sudah menemukan solusinya," ujar Rey lirih agar suaranya tak terdengar oleh musuh.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2