Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 52 Samudera


__ADS_3

Sudah lama, Fey tidak mengunjungi tempat ini, sebuah dunia yang sengaja diciptakan Refald, khusus hanya untuk Fey seorang. Refald memberi nama dunia ini sebagai dunia cinta Fey dan Refald, sebab hanya di dunia ini saja dua insan yang baru saja bertemu setelah terpisah 3 tahun lamanya bisa memadu kasih dan mengekspresikan kembali perasaan cinta keduanya. Kenangan-kenangan indah kebersamaan mereka, juga bisa terekam jelas dalam dunia yang berada di dimensi lain ini.


Seperti sekarang, bukan kumpulan pohon sakura ataupun taman bunga yang dipenuhi dengan berbagai jenis bentuk dan warna, Refald malah membawa Fey kesuatu tempat dan memunculkan kembali kenangan mereka saat pertama kali keduanya bertemu. Walau sedikit berbeda dengan dunia sebelumya, Fey tetap bahagia karena bersama-sama lagi dengan suami tercintanya.


"Ini kan desa tempat kelahiran ibuku?" Fey mengenali tempat ini.


"Ehm, kita akan mengenang kembali masa lalu kita," ujar Refald masih memegang pinggang istrinya. Keduanya sedang bertengger di atas sebuah pohon besar.


"Tapi ... aku butuh penjelasan darimu, Refald? Bagaimana kau bisa muncul padahal Rhea jelas-jelas gagal menjalankan ritualnya dan Rara bisa hidup kembali tanpa perlu kau menghilang lagi? Jelaskan padaku sekarang, apa yang sebenarnya terjadi."


"Kau sungguh ingin tahu?" Refald membelai lembut rambut Fey.


"Aku juga ingin protes!" tandas Fey menatap tajam suaminya.


"Kenapa?" tanya Refald pura-pura tidak tahu. Padahal, ia bisa membaca hati dan pikiran istrinya.


"Jangan pura-pura. Aku tahu kau bisa membaca pikiranku!"


"Tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu." Suara Refald begitu tenang dan berkharisma membuat siapapun pasti terlena bila mendengar suaranya.


Fey memasang wajah cemberut. "Ini tidak adil. Kau dan yang lainnya terlihat semakin muda. Apalagi pak Po dan Divani, begitu pula dengan mbak Kun. Kenapa kalian tidak menua sedikitpun? Tidak akan ada yang percaya jika Rey anak kita. Dan aku juga takut masyarakat disini mengira pak Po adalah adiknya Rhea. Dia muda sekali?"


"Kau juga tidak menua Honey. Semua orang mengira kau adalah kakaknya Rey."


"Ini tidak normal Refald. Bagi manusia biasa pasti mereka menganggap aneh keluarga kita."


"Tidak ada kenormalan dalam hidup kita, Honey. Karena kita berbeda. Sebab itulah, kita tidak bisa menetap di satu tempat saja. Setelah ini, kita harus mencari tempat tinggal baru. Dimana tidak ada seorangpun yang bisa mengenali kita."


Fey diam menatap Refald. Yang suaminya katakan ini benar juga. Bagaimanapun juga Refald bukanlah manusia biasa. Segala hal yang terjadi di sekitarnya, pastilah selalu diluar nalar manusia. Semuanya tidak masuk logika. Namun, hal itulah yang membuat Fey bahagia meski orang-orang menganggapnya berbeda dari manusia normal pada umumnya. Itu tidak jadi masalah asalkan selamanya bisa bersama dengan Refald, bagi Fey, itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


"Honey," panggil Refald seraya membuyarkan lamunan istrinya.


"Ehm, maaf ... aku jadi melamun." Fey menatap wajah suaminya sambil tersenyum. "Ada apa?"


"Aku rindu padamu. Mataku ... tak bisa berpaling melihatmu. Bagaimana kalau kita tidak perlu kembali lagi kedunia nyata dan kita berdua tetap disini?" Refald terus saja memandangi Fey tanpa henti. Entah dari mana ia punya ide nyeleneh seperti itu.


"Aku juga merindukanmu, Refald. Tapi kita tidak bisa tinggal disini. Bagaimana dengan anak-anak kita? Dan masalah yang dihadapinya sekarang. Walau mereka sudah dewasa, mereka masih membutuhkan kita. Kau sudah kembali, dan aku akan selalu ada disampingmu, menemani hari-harimu dan melayanimu karena kau adalah rajaku. Jadi, paduka yang mulia raja Mirza Banta, sang raja dedemit Refald yang terkuat dijagat raya ini, buang pikiran konyolmu itu dan sekarang jelaskan padaku mengenai pertanyaanku tadi."


Refald tersenyum mendengar Fey berkata seperti itu saat memanggilnya. "Kau tidak ingin menciumku dulu?"


"Haruskah?"


"Ehm, harus." Refald tersenyum karena wajah Fey jadi merah karena agak sedikit malu.


Meskipun Fey sedang tersipu, ia tidak bisa menolak permintaan suaminya. Bagaimanapun juga, ia juga sangat merindukan Refald. Dengan jantung yang berdebar kencang, Fey mencium mesra pria pujaan hatinya, menyerahkan seluruh hati dan jiwanya hanya untuk Refald seorang.


Refald sendiri juga merasakan hal sama seperti yang dirasakan Fey sekarang. Hal inilah yang paling ia rindukan dari istrinya. Ciuman manis dari Fey yang membuatnya selalu bersemangat seolah seluruh dunia ada digenggaman tangannya.


Refald sudah tak bisa lagi memendam hasratnya sebagai lelaki. Ia membawa Fey ke tempat terindah yang juga sudah ia siapkan sebelumnya.


Tempat ini merupakan sebuah ruang dengan nuansa putih dengan dekorasi bunga-bunga menghiasi setiap pinggiran dinding-dindingnya. Tidak ada pintu ataupun jendela diruang ini, hanya ada ranjang putih berukuran besar siap menanti untuk dipakai oleh dua insan yang sedang diselimuti kerinduanku yang begitu besar agar bisa segera disalurkan.


"Tempat apa ini?" tanya Fey melihat sekeliling. Meski bukan pertama kali ia dibawa Refald ke tempat seperti ini, tetap saja ia penasaran apakah ini masih di dunia nyata atau di dunia cinta mereka.


"Ini adalah tempat untuk menyalurkan semua kerinduan yang kita rasakan selama ini, Honey." Refald memeluk Fey dari belakang dan mencium pipinya.


Melihat sikap Refald, Fey tahu apa yang diinginkan suaminya. Ia sendiri juga sudah siap jika harus melakukan ritual yang sudah 3 tahun lamanya tidak pernah mereka berdua lakukan.


"Kau siap, Honey?" bisik Refald ditelinga istrinya dan itu membuat Fey semakin tertantang. Jiwanya bergejolak kuat merasakan sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan saat bersama dengan Refald.

__ADS_1


"Aku siap lebih dari yang aku duga, tapi ... lakukan pelan-pelan saja," jawab Fey dan langsung disambut senyuman manis Refald.


"Tentu." Refald mencium bibir ranum istrinya.


Tanpa menunggu lama, merekapun memulai ritual maju mundur cantik dengan penuh gairah. Desahan-desahan kecil menghiasi suasana indah Refald dan Fey yang sedang asyik bergumul diatas ranjang putihnya. Keduanya saling memberi dan menerima kenikmatan masing-masing.


Refald tak henti-hentinya mencium setiap bagian tubuh istrinya sehingga keduanya serasa berada dipuncak birahi mereka. Sampai akhirnya, keduanya sama-sama mengalami pelepasan bersama. Refald masih tetap berada diatas tubuh Fey dan merebahkan kepalanya di dada indahnya. Ia memejamkan mata sambil tersenyum senang. Sementara Fey sendiri masih mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat ulah suaminya yang ternyata semakin hot diranjang.


"Bagaimana perasaanmu, Honey? Mau melakukannya lagi?" Refald mengangkat kepalanya dan tersenyum jail pada Fey.


"Hah? Tapi belum juga semenit? Masa mau lagi?" Fey tercengang, matanya sampai melotot menatap Refald.


"Kenapa kau terkejut begitu? Aku hanya bercanda." Lagi-lagi Refald tertawa dan langsung menarik tubuh Fey bangun berdiri dalam pelukannya. "Ayo kita mandi?" Refald membawa tubuh istrinya menghilang dari tempat ini.


Keduanya langsung muncul di suatu tempat dan membuat Fey bingung karena tempat ini sangat terang sekali. Padahal harusnya ini masih malam.


"Tempat apa lagi ini?" tanya Fey bingung.


"Samudra Hindia," jawab Refald singkat dan keduanya langsung terjun bebas ke bawah dan masuk kedalam air. Lebih tepatnya, terjebur ke dalam lautan samudera.


BERSAMBUNG


***


maaf ini cuma di dunia halu, apalagi ini dunia fantasi. Jadi gak perlu tiket pesawat ataupun takut tenggelam kalau nyebur kedalam samudera Hindia. hehe ...


Tunggu kisah mereka selanjutnya ya ... terimakasih atas semua dukungannya


yang kemarin kangen sama visual pak Po ... bisa lihat di igku.

__ADS_1



__ADS_2