
Bersama dengan Refald, keajaiban dan hal menakjubkan selalu saja bisa terjadi. Bagi raja dedemit itu, berenang di tengah samudera, bagaikan berenang dikolam air terjun saja. Padahal Fey sudah ketakutan setengah mati karena lautan ini begitu luas dan dalam, sama sekali tidak apapun disini.
Fey jadi membayangkan ada segerombolan ikan hiu datang dan menerkamnya hidup-hidup seperti di film-film yang pernah ia lihat. Bahaya besar bisa saja mengancam kapan saja mengingat tempat ini bukanlah tempat yang aman untuk manusia biasa seperti dirinya.
Namun, bukan Refald namanya jika hanya berada dalam lautan seluas ini membuatnya takut. Entah mengapa, baik Refald ataupun Fey tidak tenggelam dan tetap melayang dipermukaan air laut meski tanpa menggunakan pelampung atau pelindung tubuh lainnya. Suhu tubuh mereka berdua juga tetap normal, stabil dan tidak terpengaruh dengan tekanan air laut.
Jika orang lain, pasti sudah mati kedinginan dan tenggelam hanya dalam waktu 15 menit. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Refald, sebab ia bisa melakukan apapun yang ia inginkan dengan menggunakan kekuatannya. Seperti yang ia lakukan sekarang. Luas dan dalamnya samudera ini bukanlah apa-apa baginya.
"Jangan takut, Honey ... selama ada aku, kau tidak akan kenapa-napa. Percayalah padaku," ujar Refald sambil memberikan kecupan mesra ditengah-tengah luasnya samudera.
"Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Fey setelah Refald selesai menciumnya.
"Lautan ini ... menggambarkan betapa luas dan dalamnya cintaku padamu, Honey. Anggap saja kau berenang kedalam samudera cinta Refald." Refald mencium lagi bibir indah Fey yang terlihat shock berat.
Meski awalnya Fey ketakutan dan juga was-was dengan apa yang ia alami dan lihat sekarang, kata-kata manis dari suaminya dan ciuman Refald yang menghanyutkan membuat rasa takut itu hilang. Fey menatap mata suaminya yang berubah setelah bercinta dengannya. Mata itulah yang membuat Fey jadi semakin jatuh cinta pada Refald.
"Aku ... tidak mau berpisah lagi denganmu, suamiku. Aku rasa kau juga tahu, aku ... tidak bisa tidak berada didekatmu. Aku ... ingin selalu bersamamu sampai kapanpun. Akankah kita terpisah lagi nanti?" Fey meraih leher suaminya dan memeluknya dengan erat. Ia berharap tidak ada kata perpisahan lagi diantara dirinya dan Refald.
"Tidak, Honey. Kita tidak akan terpisah lagi. Kekuatanku semakin meningkat pesat setelah aku bertapa selama 3 tahun ini. Bahkan jika aku mau, aku bisa memindahkan samudera ini ketempat lain. Kau ingin melihatnya?" tawar Refald.
"Tidak! Jangan buat kekacauan. Kau bisa menghancurkan dunia jika sampai kau memindahkan lautan ini. Jangan melakukan hal-hal aneh lagi. Aku percaya padamu, kau memang sangat luar biasa. Kau tak hanya kuat dalam menghadapi apapun, tapi kau juga sangat hebat diranjang. Aku hampir kualahan tadi." Fey memberanikan diri menatap suaminya.
"Benarkah? Apa aku menyakitimu? Soalnya, aku merasa aku sama saja seperti dulu."
Fey menggelengkan kepalanya. "Tidak, kau bertambah kuat."
"Apa kau kesakitan? Katakan padaku jika kau merasa sakit? Lain kali, aku akan mencoba mengontrol kekuatanku."
__ADS_1
Fey menggeleng lagi. "Kau tidak menyakitiku, aku saja yang belum beradaptasi denganmu. Tidak apa-apa. Kau tahu? Aku ... sangat menyukai mata indahmu yang setiap kali berubah jika kita selesai bercinta. Kau terlihat ... seksi sekali." Fey tersenyum dalam dekapan Refald.
"Aku rasa kau juga sudah berubah Honey," ujar Refald memasang wajah serius.
"Oh iya? Masa sih?"
"Ehm, kau semakin pintar merayuku. Belajar darimana, hm?"
"Darimana lagi, tentu saja aku belajar dari suami mesumku ini."
Refald tertawa bahagia. Inilah momen kebersamaan yang paling dirindukan oleh Refald. Dan sekarang, mereka berdua tak akan pernah terpisahkan lagi dan akan terus bersama selamanya. Tangan Refald terus saja menggandeng tangan Fey dan mengajaknya berenang kesana kemari.
Tiba-tiba saja, Refald berhenti bergerak dan memindahkan tangan Fey agar melingkar erat di dibahunya. "Jangan lepaskan peganganmu, Honey. Aku akan memperkenalkanmu pada sesuatu."
Fey tak bergerak. Ia memeluk suaminya dengan sangat erat sambil memerhatikan apa yang akan Refald lakukan.
"Tunggu saja, aku akan memanggilnya. Kita akan bersenang-senang dengannya." Refald tersenyum mencurigakan, tapi ia langsung memusatkan pikirannya.
Setelah berkonsentrasi penuh, Refald menutup mata dan mengucapkan sebuah kalimat dengan bahasa asing yang sama sekali tidak dimengerti oleh Fey. Begitu selesai berkomat-kamit, Refald membuka matanya dan memandang lurus kedepan seolah sedang menunggu sesuatu datang.
Secara tiba-tiba, gelombang air laut yang tadinya tenang dan menyenangkan mulai berubah. Dari kejauhan, muncul gulungan ombak besar sebesar tsunami yang siap menghantam Refald dan Fey dimana keduanya sedang berdiam diri didalam air laut yang luas itu.
"Refald! Apa itu? I-itu ... Tsunami bukan?" tanya Fey mulai panik.
"Bukan Honey, lihat saja ... yang jelas itu bukan Tsunami." Refald menenangkan.
"Tapi ombaknya, kita berdua bisa mati tenggelam jika tertelan ombak itu!" Fey masih saja takut dan juga cemas. "Aku tidak mau mati sekarang, tidak sebelum aku melihat Rey dan Rhea menikah."
__ADS_1
"Siapa yang mengajakmu mati, Honey. Kita saja belum ...." Refald menggantungkan kalimatnya.
"Belum apa?" tanya Fey penasaran.
"Belum saatnya kita meninggalkan dunia ini karena aku masih harus melakukan tanggung jawabku padamu."
"Tanggung jawab apa sih? Kau ini bicara apa? Memangnya apa yang kau lakukan padaku?" Fey semakin bingung dengan ucapan suaminya.
"Nanti kau juga akan tahu, lihatlah disana! Dia sudah datang." Tatapan mata Refald tertuju pada sesuatu yang bergerak mendekat kearahnya.
Mata Fey terbelalak setelah mengikuti arah pandang Refald. Istri Refald itu tercengang melihat sesuatu yang dimaksud suaminya, bergerak cepat didepannya. Fey bahkan merasa tubuhnya mati rasa antara takjub, takut dan tidak percaya. Ini pertama kalinya dalam hidup Fey melihat sesuatu yang tidak pernah Fey bayangkan sebelumnya.
"A-apa aku ... sedang bermimpi?" tanya Fey sambil memerhatikan dengan seksama apa yang ia lihat sekarang.
Sesekali ia menepuk-nepuk pipinya sendiri dan lumayan terasa sakit juga. Itu artinya, yang Fey lihat bukanlah mimpi. Ini sungguh nyata, benar-benar nyata.
"Ini bukan mimpi, Honey. Ini sungguhan, dialah yang ingin aku perkenalkan padamu. Bagaimana? Kau suka?" Refald tersenyum menyaksikan mulut istrinya menganga lebar.
"Daebak!" ujar Fey spontan. "Kenapa aku jadi seperti berada di dunia Luffy di topi jerami?" gumam Fey dengan sejuta takjub yang luar biasa.
BERSAMBUNG
***
Apa sesuatu itu ya, hehehe.
__ADS_1
mata Refald yang berubah