Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 125


__ADS_3

"Katakan Shena, apa kau bisa melihat sosok mbak Kun?" tanya Fey memastikan.


Begitu pula dengan mbak Kun. Ia heran jika manusia biasa seperti Shena, bisa melihat dirinya selain, raja dan ratu serta keturunannya.


"Sebenarnya, aku tidak bisa melihat sosok makhluk astral, Kak. Tapi bau bunga kantil dan melati itu, begitu menyengat hidungku dan sosok tersebut sepertinya ada di sana," tunjuk Shena ke tempat mbak Kun berdiri saat ini. "Entah mengapa, meski aku tidak bisa melihat, aku bisa merasakannya." Shena menjelaskan.


Fey dan mbak Kun saling pandang satu sama lain. Rupanya, Shena bisa peka juga terhadap hawa keberadaan makhluk astral seperti mbak Kun ini. Artinya, Shena memang bukanlah manusia biasa, tapi ia juga termsuk orang yang istimewa.


Pantas saja, dulu Refald pernah bilang kalau Shena bukan wanita sembarangan. Bisa jadi, dalam darah istri Leo itu, juga mengalir darah dari keluarga kerajaan. Hal itu bisa terbukti dari selendang pelangi yang dulu pernah Fey pinjamkan pada Shena, sama sekali tak menolak untuk melindunginya kala itu.


Namun yang terpenting sekarang bukanlah mencari tahu siapa Shena dan dari keturunan kerajaan mana dia berasal. Saat ini, baik Shena ataupun Fey harus segera menyelamatkan suami-suami mereka, yaitu Refald dan Leo agar terbebas dari jeratan pusaran medan magnet.


Semua persiapan yang dibutuhkan sudah selesai dan Fey meminta mbak Kun untuk melempar batu yang sudah mereka persiapkan kearah medan magnet itu berada. Semuanya berharap, Refald dan Leo bisa mengerti maksud mereka dan segera menarik kembali tali itu sebagai tanda bahwa mereka siap untuk ditarik keluar.


"Kau siap mbak Kun?" tanya Fey pada istri Arka itu.


"Siap, Ratu." mata mbak Kun menatap tajam batu besar yang sudah ada ditangannya.


Mbak Kun melayang di udara sambil membawa batu berukuran besar yang sudah terikat dengan tali akar pohon. Sosok putih nan cantik jelita itu mengambil ancang-ancang yang pas agar bisa tepat sasaran saat ia melempar. Perlahan tapi pasti, mbak Kun menjulurkan batu besar itu lurus kedepan matanya dengan menggunakan kekuatannya lalu ia mengangkat batu tersebut untuk segera dilemparkan. Dalam hati, mbak Kun menghitung mundur sebelum ia benar-benar akan melempar.


Melihat aksi mbak Kun bak atlet yang sedang mengikuti sebuah pertandingan Porseni, Shena dan Fey hanya bisa menengadah dengan hati was-was. Jantung mereka berdetak dengan kencang dan berdoa supaya lemparan mbak Kun tidak meleset.


"Tiga ... dua ....!" Mbak Kun langsung melempar batu besar tersebut dengan sekuat tenaga dan batu itupun terbang tinggi di udara.


Dalam hitungan detik, batu besar itu jatuh masuk ke dalam pusaran medan magnet bumi dan tentu saja, hal itu mengejutkan dua orang laki-laki yang kebetulan berdiri tidak jauh dari batu itu mendarat setelah terjun dari atas.

__ADS_1


Hampir saja batu tersebut mengenai kepala Leo jika saja Refald tak segera mendorong tubuh Leo kearah lain. Awalnya, Leo marah karena tiba-tiba saja Refald mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur ke tanah, tapi tidak jadi, karena kakaknya itu punya alasan kenapa ia melakukannya. Refald menyelamatkan Leo dari petaka.


Entah apa yang terjadi jika kelapa Leo terkena batu berukuran 2x lipat ukuran kepala manusia. Membayangkan saja sudah ngeri sendiri.


Baik Leo dan Refald, sama-sama mengamati batu besar yang terikat dengan tali akar pohon itu dan membuat Leo penasaran. Darimana batu ini berasal. "Apa itu?" tanya Leo bingung.


Refald tak langsung menjawab, pandangan matanya tertuju pada ukiran bentuk love berinisial F&R terlihat jelas dimata Refald. Senyum mengembang langsung menghiasi wajah raja dedemit itu karena langsung mengerti siapa yang membuat ukiran tersebut. Ia mengamati batu besar itu dan mencoba menarik batunya.


Begitu Refald menarik batu tersebut, sebuah tarikan dari ujung tali yang lain mulai terasa. Akhirnya, Refald mulai tarik menarik dengan seseorang yang tidak lain adalah wanita yang amat sangat dicintai Refald. Siapa lagi kalau bukan Fey.


"Apa maksudnya ini, Kak?" tanya Leo semakin bingung dengan apa yang dilakukan Refald sekarang.


"Apa kau masih tidak sadar, Leo? Kau tidak bisa baca ukiran di batu besar ini?" Refald menunjukkan ukiran disisi batu yang lain dimana ada sebuah ukiran sama seperti yang dilihat Refald tadi.


Hanya saja, ukiran bentuk love itu berbeda huruf. Kali ini ukiran itu terdapat inisial S dan L yang artinya, Leo cinta Shena.


"Para istri-istri kita sudah datang untuk menyelamatkan kita berdua." Refald juga tertawa. Ia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Fey dan ingin sekali memeluk tubuh istri tercintanya itu.


"Aku mencintaimu Shena," ujar Leo. Perasaan nya juga tak jauh beda dengan apa yang dirasakan Refald sekarang.


Beberapa jam tak bertemu Shena, bagi Leo berasa setahun saja. Ia ingin cepat keluar dari medan magnet ini dan memeluk erat tubuh wanita pujaan hatinya.


"Kau duluan Leo, pegang batu ini!" ujar Refald seolah tahu seperti apa perasaan adiknya.


"Lalu kau?"

__ADS_1


"Suruh mereka melempar lagi sebuah batu, bila kau sudah keluar dari medan magnet ini dan tarik aku. Jika kita berdua yang memegang tali itu, mereka berdua tidak akan kuat. Apalagi, istriku sedang hamil. Tidak mungkin ...."


"Apa?" teriak Leo seketika dan mengagetkan Refald sampai suami Fey itu lupa mau bilang apa, tadi. "Kau bilang apa?" tanya Leo memastikan.


"Apa? Kita tidak bisa memegang tali itu bersama."


"Setelahnya, setelah kalimat itu!" ujar Leo masih shock.


"Mereka ... Tidak akan kuat? Apa, sih?" tanya Refald bingung dengan pertanyaan Leo.


"Setelahnya lagi, kau ... tadi mengatakan bahwa kakak ipar ... hamil?" mata Leo melotot melihat Refald.


"Oh ... itu ... kenapa memangnya?" tanya Refald santai.


"Hanya 'oh'?" tanya Leo tak percaya.


"Memang kau ingin aku jawab apa?" ganti Refald yang bertanya.


"Daebak! Bagaimana caranya? Beritahu aku! Aku juga ... ingin punya anak lagi sepertimu!" Seru Leo menggebu-gebu dan sebuah jitakan keras mendarat langsung dikepala Leo sehingga suami Shena mengerang kesakitan. Sebab, jitakan Refald lumayan terasa sakit juga. "Kenapa kau menjitakku?" teriak Leo marah.


"Sekarang, kita ini dalam keadaan genting, bisa-biasanya kau memikirkan cara bagaimana bisa punya anak lagi? Dasar tua-tua keladi!"


"Kau sendiri yang mulai. Kenapa kau selalu membuatku iri. Kalau kau tak mau memberitahuku, aku akan tanya kak Fey langsung begitu aku keluar dari sini," ujar Leo dan ia bersiap-siap.


"Harusnya, tadi kubiarkan saja batu itu menghantam kepalamu," gumam Refald.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2