
Rhea yang melihat adegan itu hendak maju melangkah tapi ditahan oleh Rey. “Jangan ikut campur urusan mereka, Sayang. Semua keputusan ada ditangan kakakmu.” Rey menghalau tubuh Rhea.
“Tapi ....”
“Biarkan masalah itu mereka selesaikan sendiri. Aku rasa ,Jakson tulus meminta maaf pada Rara. Kau tidak berhak ikut campur lagi. Harusnya kau senang karena Jakson mau menyadari kesalahannya dan mau bertanggungjawab pada Rara.”
Yang dikatakan Rey memang benar. Sekarang semua keputusan ada ditangan Rara dan Rhea sama sekali tidak punya hak untuk ikut campur. Rhea hanya was-was saja melihat apa yang dilakukan kakaknya. Ia tidak tahu apakah Rara mau menerima permintaan maaf Jakson atau menolaknya.
Seluruh penduduk kota juga melakukan hal yang sama. Mereka samasekali tidak bisa ikut campur urusan Rara dan Jakson. Apapun keputusan Rara, mereka semua hanya mengharapkan yang terbaik untuk Jakson dan Rara.
Rara sendiri masih menatap pisau tajam itu. Ia memerhatikan Jakson yang menutup matanya pasrah akan hukuman yang diberikan Rara untuknya. Rara terus menggenggam erat pisau kecil itu.
Sekelebat kenangan-kenangan manis mereka terngiang diingatan Rara. Tidak mudah bagi wanita itu melupakan kebersamaan keduanya yang terlihat begitu bahagia sampai akhirnya Rara memutuskan menyerahkan hati dan jiwanya untuk Jakson walau pada akhirnya Jakson hanya melampiaskan balas dendamnya pada Rara atas perbuatannya pada Alan.
Namun, melihat Jakson yang seperti ini, Rara juga tidak bisa untuk tidak mengharapkan laki-laki yang pernah dicintainya ini untuk kembali lagi bersamanya. Rara mulai memantapkan hati dan langsung membuang pisau kecil yang ada ditangannya jauh-jauh. Ia terduduk lunglai sambil berurai air mata.
“Aku membencimu, Jack! Aku sangat membencimu, ingin sekali aku membunuhmu dengan pisau ini. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa ... bagaimanapun juga, kau adalah ayah dari anak ini. Apa yang akan aku katakan padanya jika kelak ia menanyakanmu? Haruskah aku memberitahunya kalau aku membunuhmu karena kau telah melukai hatiku begitu dalam?” Rara menangis tersedu-sedu. Ia menekan dadanya dengan kuat. Rasa sakit itu benar-benar menusuk-nusuk jantung Rara.
Dalam diam, Jakson membuka mata dan melihat Rara juga terduduk dihadapannya. Ia langsung meraih tubuh Rara dan memeluknya. Jakson ikut menangis. Ia sungguh merasa bersalah pada wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anaknya. “Maafkan aku, Ra. Aku hanya bisa minta maaf. Maaf untuk segalanya.”
Tangis Rara semakin menjadi dipelukan Jakson. Ia udah tidak bisa berkata-kata lagi sekarang. Rara bahagia, tetapi juga masih takut atas apa yang terjadi pada dirinya. Namun sekali lagi, Jakson meyakinkan Rara bahwa ia akan mencintai Rara dan anak yang dikandungnya selamanya.
__ADS_1
Semua orang merasa lega dengan keputusan yang Rara ambil meski suasana yang tadinya diselimuti duka, kini berubah mengharukan. Mereka semua pergi meninggalkan Rara dan Jakson untuk meluapkan perasaan mereka masing-masing. Sedangkan Rhea, jangan ditanya lagi, ia sudah menangis dipelukan Rey sejak tadi.
“Ayo ikut aku!” ajak Rey untuk menghibur kekasihnya.
“Kemana?” tanya Rhea sambil menyeka air matanya.
“Ke tempat terindah dimana hanya ada kita berdua.” Rey menggendong tubuh Rhea dan keduanya menghilang dalam sekejap mata meninggalkan Rara dan Jakson berdua saja.
Rupanya, Rey membawa Rhea pergi ketempat dimana mereka pertama kali bertemu. Rey meletakkan tubuh Rhea tepat ditepi sungai dimana saat itu, Rey yang masih menjadi manusia biasa dikepung oleh binatang buas si raja hutan dan buaya ganas.
Waktu itu, Rey merasa bahwa nyawanya sedang berada diujung tanduk dan hidupnya bakal berakhir di detik itu juga. Namun, ternyata Rhea datang dan menyelamatkannya tepat waktu.
"Kenapa kita datang ke tempat ini?" tanya Rhea.
"Sayang, aku sedang badmood sekarang. Jakson jauh lebih romantis dari yang aku kira. Ayah mertuaku juga tampan dan sangat keren. Ayahku sendiri, dia jadi semakin luar biasa. Sedangkan aku, aku hanya seorang pangeran yang tak ber ...." Rey tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena jari telunjuk Rhea menempel manis dibibir Rey.
"Bagiku, kau adalah pangeranku yang selalu datang menyelamatkanku jika aku dalam bahaya. Aku tidak akan bisa berhasil melakukan ritual itu jika kau tidak ada disampingku. Aku tidak akan jadi sekuat ini jika kau tidak mendampingiku. Kau segalanya untukku pangeranku. Meski Ayah tampan, dan Jakson romantis, bagiku kau adalah yang terbaik. Dan juga, kau itu sangat tampan, keren dan super duper romantis. Ayah bilang, kau adalah gabungan dari ayah mertua dan paman Leo."
"Benarkah? Tapi aku belum pernah mempertemukanmu dengan Paman."
"Tidak perlu, melihat seperti apa Yeon dan Bima, aku sudah bisa tebak bagaimana paman Leo. Pasti bibi Shena adalah wanita luar biasa karena memiliki suami dengan julukan gengster nggak ada akhlak seperti paman Leo."
__ADS_1
"Siapa yang memberitahumu soal julukan paman Leo?" tanya Rey terkejut karena ia merasa tidak pernah memberitahu Rhea.
"Siapa lagi, ayahkulah yang memberitahu." Rhea tersenyum. "Ayah bilang, kisah kita hampir mirip dengan paman Leo dan bibi Shena. Sebelum mereka bersama, paman dan bibi sempat terpisah dan ingatannya dihapus oleh Ayah. Namun, akhirnya mereka memiliki kisah cinta yang unik hingga sekarang. Aku harap, kisah kita juga sama uniknya dengan mereka berdua."
"Kalau begitu, kita temui Ayah dan Ibu." Rey berdiri dan menarik tangan Rhea supaya mendekat ke arahnya.
"Untuk apa? Ayah dan Ibu baru saja kembali bersama. Sebaiknya, kita tidak menganggu mereka."
"Maksudku, ayo kita temui Ayah dan ibumu."
"Iya, tapi ... untuk apa?" tanya Rhea bingung kenapa Rey ingin bertemu dengan orang tuanya.
"Tentu saja untuk meminta mereka menikahkan kita secepatnya. Kau sudah janji padaku, kalau semuanya sudah kembali, kau bersedia menikah denganku."
Rhea tertegun, sungguh ia tidak menyangka Rey mengingat kata-kata yang pernah diucapkannya. "Tapi ..."
"Tidak ada tapi-tapian, kau harus menepati janjimu."
"Bukan begitu, masalahnya kita tidak tahu ada dimana ayah dan ibuku sekarang. Kau kan lihat sendiri, kalau tadi mereka menghilang begitu saja." Rhea mencoba meyakinkan Rey untuk menunda niatnya walau dalam hati, Rhea sedang bersorak sorai. Pasalnya, Rhea sama sekali belum siap jika harus menjadi Nyonya Reyshinhard sekarang.
"Sial!" umpat Rey kesal. "Kenapa semua orang menghilang disaat seperti ini!" Rey mengambil batu yang ada dibawah kakinya dan melemparnya kuat-kuat ke dasar sungai. Rhea hanya bisa meringis kuda saat Rey meluapkan amarahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
****