
Refald dan Fey saling melempar senyum saat melihat keindahan kupu-kupu yang mengelilingi mereka tepat dibawah derasnya aliran air terjun yang ada disamping mereka. Keduanya sama-sama berdiri sambil menjulurkan satu tangan mereka masing-masing, menatap indahnya kupu-kupu yang hinggap ditelapak tangan lembut Fey.
Tak berselang lama, kupu-kupu itupun terbang ke udara untuk berbaur dengan rekan-rekannya. Suasana semakin syahdu saat Refald mengeratkan pelukannya. Kedua tangannya kini melingkar erat diperut rata Fey.
“Kau suka tempat ini, Honey?” tanya Refald dengan lembut.
“Ehm, sangat suka.” Fey masih betah menatap kupu-kupu yang beterbangan mengelilinginya. “Apa … kau yang mengundang semua kupu-kupu itu kemari?”
“Ehmmm … begitulah. Bagaimana kau bisa tahu, Honey? Aku sengaja tidak memberitahumu.” Refald bergelandot manja dibahu istrinya.
“Aku hanya menebak. Tak ada yang tidak bisa kau lakukan, semua yang ada disini adalah ciptaanmu. Ini dunia yang kau ciptakan untukku. Sekian banyak hari yang kita lalui bersama, tidak ada yang tidak indah bagiku. Selalu saja ada hal luar biasa yang kau tunjukkan padaku. Kau memberikanku kebahagiaan yang takkan pernah bisa kubayangkan.”
Refald mencium mesra pipi istrinya dan berkata, “Benar, dunia ini memang khusus untuk kita berdua. Disini kau dan aku, bisa bebas melakukan apapun tanpa takut ada yang mengganggu. Lagipula, aku sudah berjanji padamu kalau aku … akan selalu membuatmu bahagia bersamaku, selamanya, Honey. Walaupun aku membuatmu kesal tadi, maaf untuk itu,” ujar Refald sepenuh hati.
“Tidak apa-apa, aku memaafkanmu karena kau menciptakan dunia yang sangat indah dan luar biasa menakjubkan. Tak ada yang lebih menenangkanku daripada melihat keindahan panorama alam di tempat ini.”
“I love you, Honey.” Lagi-lagi Refald mengecup mesra pipi Fey sambil tersenyum bahagia.
“I love you too, my husband.” Fey membalikkan tubuhnya menatap wajah tampan suaminya. Keduanya saling tersenym sambil berciuman mesra dan beromantis ria menikmati suasana yang tenang serta sangat mendamaikan hati.
Bersuamikan seorang raja dedemit seperti Refald adalah hal paling membahagiakan bagi seorang Fey. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya bahwa ia akan mengalami banyak warna-warni kehidupan bersama pria yang amat sangat ia cintai. Bahkan dikehidupan selanjutnya, Fey berharap dirinya kembali menjadi pasangan hidup Refald dalam keadaan apapun.
“Ayo kita kembali kedunia nyata, Honey. Semua orang sudah menunggu kita untuk pesta resepsi pernikahan Rey dan Rhea.” Refald menyudahi ciuman mautnya dan menatap Fey.
“Tapi Refald … sungguh aku malu. Aku takut semua keluarga besar kita dan pasukanmu meledekku.” Fey menudukkan kepalanya didepan suaminya.
__ADS_1
Ternyata, inilah yang dimaksud Refald 3 tahun silam saat keduanya hendak terpisah. Refald menjanjikan pertemuan membahagiakan sekaligus memalukan dalam hidupnya. Yaitu, ia kembali berbadan dua disaat usianya sudah tak lagi muda.
“Tidak akan ada yang berani meledekmu, Honey. Mereka semua pasti juga akan ikut bahagia untuk kita.”
“Tapi … kau punya adik yang resek, Refald. Aku yakin dia akan menertawakanku. Aku hamil diusiaku yang lebih pantas menjadi seorang nenek walaupun kenyataannya, kita berdua memang masih awet muda.”
“Apa salahnya? Ini adalah anugerah, Honey. Parcayalah padaku, tidak akan ada yang meledekmu. Ayo kita bersenang-senang di pesta pernikahan putra kita. Sekaligus mengumumkan kabar gembira ini.”
“Jangan!” Sahut Fey langsung. “Jangan diumumkan, aku mohon.” Fey menatap sendu wajah suaminya.
“Honey, kau tidak perlu malu. Sungguh, tidak akan ada yang berani meledekmu, harus dengan cara apa aku meyakinkanmu supaya kau mau percaya padaku? Semuanya akan baik-baik saja, oke!”
“Lalu Leo? Dan pasukan dedemitmu yang paling menyebalkan itu?” tanya Fey. Tentu saja yang dimaksud Fey adalah pak Po alias besannya sendiri.
“Bagaimana bisa aku menolak, kau pasti akan menerkamku hidup-hidup jika sampai aku menolak ajakanmu untuk bikin anak,” gumam Fey dalam dekapan Refald dan suaminya itu langsung tertawa.
“Kau tidak akan pernah bisa menolak pesonaku Honey,” ujar Refald mesra dan itu memang benar. “Oh iya, akan ada sedikit pertunjukan dipesta Rey seperti saat pesta pernikahan Leo dan Shena. Aku hanya heran, kenapa momennya sama, ya? Waktu pesta resepsi Leo dulu, kau juga sedang hamil muda. Dan sekarang, dipesta resepsi pernikahan putra kita sendiri, kaupun juga dalam kondisi yang sama. Bedanya, kekuatanku tidak hilang sekarang, tapi … yang kehilangan kekuatan adalah Rey, putra kita. Dan Rhea … kembali mendapatkan kekuatannya setelah sekian lama menghilang. Ini pasti seru sekali.” Refald tertawa senang.
“Apa akan ada musuh yang datang menyerang? Siapa? Iblis jahat lagi, kah?” tanya Fey agak sedikit cemas setelah mendengar ucapan suaminya.
“Kau akan tahu nanti, sudah lama juga keluarga besar kita tidak bersatu padu membasmi kejahatan. Terakhir, ya waktu dipesta resepsi Leo dan Shena dulu. Itupun sudah lama sekali. Mari kita bernostalgia, Honey. Pasti akan sangat menyenangkan sekali. Dan tentunya … aku akan melindungimu.”
“Aku tahu, kau sangat kuat sekarang. Apalagi kau adalah seorang raja. Tidak ada yang bisa mengalahkanmu ataupun menandingi kekuatanmu. Entah kenapa itu namanya bukan nostalgia, tapi nosatalgila, papagi bila ada kau dan Leo disana. Pasti bakal sangat gila.”
“Terimakasih atas pujianmu, Honey.”
__ADS_1
“Aku sedang tidak memujimu. Kau jangan salah paham,” cetus Fey dan disambut tawa ceria Refald.
***
Pasangan pengantin baru Rey dan Rhea, kini sudah mulai keluar dari sangkarnya. Keduanya keluar dari dunia lain melalui pintu ajaib yang memang sudah disediakan Refald sebelumnya. Begitu keduanya kembali kedunia nyata, mereka sudah langsung ada dirumah mereka sendiri, yaitu dikediaman almarhum nenek dan kakek buyut Rey.
Tak jauh dari rumah ini juga terdapat tempat tinggal Rhea yang dulu, yaitu sebuah tempat yang terkenal dengan sebutan sebagai goa hantu. Dan Rhea memiliki julukan sebagai gadis penjaga goa, sebab sejak kecil ia tinggal disana.
Rhea langsung berkaca-kaca ketika mendapati dirinya berada didalam kamar Rey, dimana balkon kamar Rey ini menghadap langsung kedalam hutan. Disanalah goa tempat tinggal Rhea dulu berada.
“Ada apa, Sayang?” Tanya Rey yang melihat Rhea mulai berkaca-kaca.
“Aku merindukan tempat itu,” ujar Rhea lirih.
“Aku ingin mengajakmu kesana, tapi kau kan tahu sendiri. Aku kehilangan kekuatanku. Jadi ….”
“Tidak apa-apa,” ujar Rhea memotong kata-kata suaminya.” Kita bisa kesan lain kali sapai kekuatanmu kembali.” Rhea berusaha tersenyum manis didepan Rey.
“Akhirnya kalian berdua sudah datang.” Terdengar suara seseorang yang sangat familiar ditelinga Rey dan Rhea. Spontan, istri Rey itu langsung berlari memeluk tubuh seseorang itu dengan erat.
BERSAMBUNG
***
Maaf upnya telat, sebab pas lagi sibuk banget di RL, harap sabar menunggu ya ...
__ADS_1