
Tak ada keraguan sama sekali saat Rey melangkahkan kakinya memasuki goa raksasa berukuran besar, bahkan goa ini adalah goa terbesar yang pernah Rey lihat selama hidupnya. Pandangan mata Rey tak pernah berhenti mengamati sekitar area goa yang tampak menyeramkan dan juga bentuknya tak beraturan.
“Sial!” umpat Rey saat ia hampir saja oleng karena terlalu fokus pada bentuk atap goa.
Putra Refald itu sampai tidak memerhatikan jalan yang ada didepannya. Rey terkejut karena 1 meter dari tempat ia berdiri, terdapat aliran sungai larva panas yang menyembur keatas dalam kurun waktu 5 menit sekali. Hampir saja Rey terkena semburan api larva panas itu seandainya ia tidak hati-hati. Untungnya, aliran larva itu mengalir deras jauh dibawah pijakan kakinya sehingga ia bisa sedikit bernapas lega.
“Hei naga! Keluarlah! Jangan sembunyi seperti kucing! Hadapi aku kalau kau berani! Kenapa kau memasang jebakan batman seperti ini?” teriak Rey menggelegar sehingga membuat beberapa bebatuan dinding goa jadi runtuh. “Kau pikir aku tidak bisa melewati tebing larva yang kau ciptakan ini, ha? Ini terlalu mudah untukku!” teriak Rey lagi dan untuk membuktikan ucapannya, ia langsung melompat tinggi melewati aliran sungai larva panas dan mendarat mulus di sisi tebing lainnya.
Rey memerhatikan goa ini lagi dan betapa terkejutnya ia setelah melihat apa yang ada di depan matanya. Untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah, Rey maju beberapa langkah kedepan dengan emosi yang meluap-luap.
“Apa ini?” geramnya. Napas Rey terlihat naik turun saking emosinya.
“Selamat datang di kerajaanku Pangeran,” ujar naga itu sambil duduk rileks disinggasananya.
Tak bisa digambarkan betapa besarnya singgasana milik naga yang berukuran raksasa. Dimata naga itu, Rey dan yang lainnya terlihat seperti semut kecil merayap di tanah dan lemah. Sekali pijak saja, maka sudah dipastikan Rey dan seluruh keluarganya akan lenyap.
“Apa yang sudah kau lakukan pada keluargaku? Kau apakan mereka!” teriak Rey dengan penuh emosi. Darahnya langsung mendidih melihat anggota keluarganya pingsan tak berdaya dalam sebuah kurungan lingkaran gelembung udara. “Paman Leo! Bibi Shena! Yeon! Bima! Bangun! Apa yang terjadi pada kalian semua!” Rey berteriak dan berlari menuju lingkaran gelembung yang mengurung seluruh keluarga Leo.
__ADS_1
“Berhenti disitu!” gertak sang naga tak bergeming dari tempatnya. “Jika kau melangkah sekali saja, maka aku akan memecahkan gelembung itu dan semua keluargamu akan jatuh ke dalam sungai larva yang ada dibawah kakimu,” ancamnya. Mata merah naga itu menyala terang menatap tajam wajah Rey yang tertegun mendengar ancamannya.
Keempat orang penting dalam hidup Rey digunakan makhluk mitos itu sebagai sandera. Rey tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, sebab naga itu terlihat tidak main-main dengan ucapannya. Dan yang menjadi pertanyaan besar adalah dimana orangtua dan kekasihnya berada sekarang? Kenapa hanya keluarga Leo saja yang berada dalam gelembung udara itu? Apa motif sang naga melakukan semua ini padanya?
“Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku? Dimana orangtuaku dan istriku? Jawab aku!” teriak Rey menggelegar dan lagi-lagi bebatuan yang ada dalam dinding goa mulai runtuh kebawah dan tentunya langsung dilahab oleh lahar larva yang mengalir deras di dasar tebing.
“Pelankan suaramu, Pangeran. Kau bisa membunuh mereka semua yang ada disini. Kalau aku ... huh, kau tahu api tidak mempan padaku. Karena aku adalah naga api. Akulah yang menciptakan larva itu.”
“Aku tidak butuh ocehanmu, lepaskan mereka semua sebelum kau menyesal seumur hidup,” tantang Rey dan menatap tajam mata naga hitam itu.
Tak disangka, makhluk ular bersayap itu malah tertawa terbahak-bahak. Tawanya bahkan lebih parah dari erangan Rey tadi. Beberapa bagian dinding goa mulai runtuh dan jatuh dilahap larva panas yang mematikan. Rey bahkan bisa merasakan hawa panasnya.
“Apa maksudmu?” tanya Rey tidak mengerti.
“Maksudku ... aku ingin kau menjadi menantuku.” Mata merah naga itu menatap lurus kearah Rey yang pastinya langsung shock mendengar ucapan naga hitam itu barusan.
“A-apa? Ka-kau ...bilang apa? Menantu? Aku?” Rey memicingkan matanya tak percaya pada apa yang dia dengar.
__ADS_1
“Hahahaha ... aku menginginkanmu menjadi menantuku. Tidak ada pilihan bagimu selain menuruti keinginanku karena jika tidak ... kau akan menyaksikan satu persatu anggota keluargamu yang ada dalam lingkaran gelembung udara itu, jatuh dimakan oleh larva pijar yang ada di dasar tebing ini.”
Rey terperangah mendengar ancaman dari sang naga. Jadi inikah alasan naga ini menculik semua orang yang aku cintai? Hanya untuk ini? batin Rey.
Rey tidak langsung percaya pada apa yang dikatakan naga itu padanya, tapi ia juga tidak mau terpancing emosi dan bertindak gegabah sehingga berakibat fatal yang bisa berujung kematian keluarganya. Rey harus berhati-hati dan lebih waspada serta mencari cara atau jalan keluar dari ancaman naga hitam. Prioritas utama Rey saat ini adalah keselamatan keluarga Leo dan juga keluarganya.
“Aku tidak tahu apa alasanmu memilihku menjadi menantumu, tapi sayangnya ... aku sudah menikah. Jiwaku dan jiwa istriku sudah bersatu menjadi satu kesatuan jiwa dan kami saling mencintai satu sama lain. Tidak mungkin aku bisa menikahi wanita lain selain istriku karena jika sampai itu terjadi maka aku akan mati.” Rey menjelaskan pada naga itu tentang statusnya yang sudah beristri dengan bangga meski penikahannya dengan Rhea hanya terjadi didunia lain saja.
“Hahahaha ....” diluar dugaan, naga itu malah tertawa lagi dan itu membuat Rey jadi semakin waspada dengan makhluk ular bersayap itu.
“Kenapa kau tertawa? Apa kau pikir aku bercanda?” geram Rey marah.
“Kau pikir kenapa aku menculik kedua orangtuamu, istrimu serta orang-orang yang kau cintai ini, ha? Itu karena aku ingin kau membatalkan pernikahan ghaibmu dengan istrimu dan menikah dengan putriku. Jika tidak ... semua orang-orang ini akan mati tepat dihadapanmu dengan cara mengenaskan. Mau coba?” tantang sang naga dan ia pun langsung membuktikan ucapannya.
Tangannya terarah pada gelembung udara dimana didalamnya ada Bima yang sedang sekarat akibat luka dari serangan sang naga. Tanpa menyentuh gelembung yang mengurung Bima, tangan naga hitam itu menurunkan gelembung besar tersebut kedasar tebing. Benda berbentuk lingkaran itu terjun bebas turun kebawah dan hampir saja menyentuh aliran sungai larva jika saja Rey tidak berteriak.
“Hentikan! Tidak! Aku mohon, hentikan gelembung itu!” teriak Rey sekencang-kencangnya, ia benar-benar takut dan khawatir dengan kondisi Bima. Tubuh Rey bahkan hampir ikut terjatuh saking shocknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***