
"Eh Andin, itu yang di kantong satu lagi untuk siapa ? banyak banget yang dibeli" tanya Clara yang melihat kanton belanjaan Andin yang ada dua buah padahal barang yang dibelinya tak sampai satu kantong penuh, lalu yang satu lagi punya siapa, begitulah pikir Clara yang penasaran.
"Untuk Luna. Aku ingin memberinya ini sebagai hadiah pertemuan. Menurutmu apa Luna akan menyukainya nanti atau tidak ?" tanya Andin menanyakan pendapat Clara apakah Luna akan menyukai pemberiannya atau tidak karena Andin sudah memilihnya dengan hati-hati.
"Tentu saja Luna akan menyukainya, kau tenang saja, dia pasti amat sangat menyukainya" jawab Clara dengan senyum mengembang menghiasi wajah cantiknya itu.
"Semoga saja" ucap Andin membalas senyuman manis Clara dengan hangat.
"Kalau begitu ayo kita ke kafe saja. Sambil menunggu kedatangan Luna. Bagaimana ?" tanya Andin pada Clara, mengajak nongkrong di kafe karena sudah lelah berada di mall.
"Ayok. Tak jauh dari sini ada kafe yang sangat bagus. Ayo kita kesana saja" ucap Clara mengajak Andin meninggalkan mall dan menuju ke kafe yang dikatakannya barusan.
__ADS_1
"Apakah jauh ?" tanya Andin yang mengikuti Clara keluar mall.
"Kita perlu berkendara kesana sebentar. Gak terlalu jauh dari sini" jawab Clara dengan santainya, Andin pun melajukan mobilnya ke arah yang ditunjukkan Clara. Sesampainya di kafe yang dituju.
"Ku dengar tempat ini katanya sangat populer sekarang. Ternyata memang benar, lihatlah betapa ramainya pengunjungnya. Didominasi oleh anak muda" ucap Clara yang mengedarkan pandangannya kesetiap sudut kafe yang tengah mereka kunjungi ini.
"Ayo kita masuk Ra. Haus banget nih" ucap Andin sambil menarik tangan Clara lembut masuk kedalam cafe yang akan mereka jadikan tempat tongkrongan.
Mereka berdua memilih tempat duduk yang ada di sudut menghadap jalan yang berada di lantai dua, karena disitu tempat yang bisa mereka tempati diakibatkan sedang ramainya pengunjung yang datang untuk menghabiskan waktu di kafe ini.
Dilain sisi, saat ini Naufan tengah berada di kantornya Rafael. Naufan kesana hanya sekedar berkunjung karena merasa sangat bosan sekali, ditambah tidak ada hal yang ingin ia lakukan. Hanya ingin bermalas-malasan saja.
__ADS_1
"Naufan, jika kau ingin tidur, pulanglah kerumahmu. Ngapain kau berada disini jika hanya untuk menumpang tidur saja" ucap Rafael yang kesal dengan tingkah Naufan.
"Biarkan aku berada disini. Aku tak ada tempt tujuan. Malangnya nasibku" ucap Naufan sambil melipat kedua tangannya di dada sembari berbaring di sofa yang ada diruangan kerja Rafael tanpa memperdulikan izin dari pemiliknya.
"Kembalilah ke kantormu ! Apa kau tak ada pekerjaan disana ?" tanya Rafael meminta Naufan untuk kembali ke perusahaannya. Tidak mungkin seorang pimpinan perusahaan tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Rafael saja sedari tadi tak habis-habisnya berkutik dengan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.
"Aku bisa kerjakan nanti. Hari ini aku ingin bersantai saja" jawab Naufan tak bersemangat sambil menghela nafasnya berat.
"Apa aku cari kesenangan saja di luar ? Tapi aku tak tahu apa yang harus dilakukan. Rafael beri aku saran ?" tanya Naufan dengan nada suara orang yang tak berdaya.
"Apakah terjadi sesuatu denganmu Naufan ?" tanya Rafael yang merasa aneh dengan sikap Naufan yang tiba-tiba jadi seperti ini. Padahal biasanya dia tak seperti ini, sekarang malah bertingkah seperti terjadi sesuatu dengan dirinya.
__ADS_1
"I'm fine. Seperti yang kau lihat sekarang" jawab Naufan singkat sambil melihat ke arah Rafael.
#Bersambung