
Clara langsung bergegas menuju ruangan dosen pembimbing skripsinya. Ternyata Dospemnya belum datang, terpaksa Clara menunggu. Untung saja ada disediakan kursi tunggu didepan ruang dospemnya itu. Tiba-tiba Clara dikejutkan dengan suara seseorang.
"Hai Clar. Apa yang kau lakukan disini ?" tanya orang itu pada Clara.
"Morgan, Ali" sapa Clara. Ternyata yang memanggilnya adalah Morgan sahabatnya dan Ali teman sekalas dibeberapa mata kuliah yang sama.
"Aku sedang menunggu Bu Ani" ucap Clara. Bu Ani adalah dospem skripsi Clara.
"Ternyata begitu" jawab Morgan singkat.
"Apa kabar Clara ?" tanya Ali kepada Clara karena mereka jarang bertemu.
"Aku baik seperti biasanya, kau sendiri bagaimana?" tanya Clara kembali pada Ali.
"Aku baik seperti yang kau lihat" jawab Ali sambil tersenyum. Lalu Morgan tiba-tiba berkata.
"Clar. Kita duluan ya. Ada hal yang mau dikerjain soalnya" ucap Morgan kepada Clara sambil memberi isyarat kepada Ali.
"Ok" jawab Clara singkat
__ADS_1
"Sampai bertemu lagi Clara" ucap Ali masih dengan senyumannya.
"Iya" jawab Clara membalas senyuman Ali.
Morgan dan Ali pun bergegas meninggalkan Clara.
Sebenarnya Ali memiliki perasaan untuk Clara. Karena Ali merasa Clara adalah gadis yang baik, manis, ramah dan juga sangat penyayang. Ali sudah menyukai Clara semenjak Orientasi mahasiswa baru beberapa tahun lalu. Tapi dia hanya memendam perasaan sukanya untuk dirinya sendiri. Ali tidak ingin merusak pertemanannya dengan Clara kalau nantinya Clara menolak pernyataan rasa sukanya. Karena itu Ali hanya menyukai Clara sepihak. Ali cukup dewasa untuk mengendalikan isi hatinya. Oleh sebab itu ketika Ali bersama dengan Clara. Ali terlihat biasa-biasa saja. Padahal sebenarnya Ali berusaha mengendalikan perasaannya.
"Morgan, Apakah terjadi sesuatu antara kau dan juga Clara ?" tanya Ali kepada Morgan. Karena sikap Morgan sedikit berbeda dari biasanya.
"Apakah aku terlihat memiliki sesuatu dengan Clara ?" tanya Morgan kepada Ali.
"Kau tidak seperti biasanya. Seolah-olah kau seperti mencoba menjaga jarak dengan Clara" jelas Ali sesuai dengan sudut pandang yang dilihatnya.
"Hmmmmm Ok" ucap Ali tidak ambil pusing walaupun sebenarnya Ali merasa Morgan tengah menyembunyikan sesuatu.
Dilain sisi, Clara tampak sedikit murung. Sahabat yang dirindukannya, malah seperti acuh padanya. Clara sangat ingin mengobrol lebih lama dengan Morgan. Tapi Morgan tiba-tiba mengatakan bahwa ada hal yang harus dikerjakannya. Clara jadi tidak enak jika menahan Morgan agar mau berbicara lebih lama dengannya. Clara berfikir bahwa Morgan sepertinya sengaja menjauhinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Morgan ? Kenapa dia bersikap seperti itu padaku ? Ini pertama kalinya dia seperti ini" Berbagai macam pertanyaan terus melintas difikiran Clara. Karena memikirkan hal itu saja Clara sudah merasa sangat sedih.
__ADS_1
"Semoga saja apa yang terfikirkan olehku tidak ada yang benar" Begitulah harap Clara.
Hari itu Clara menyelesaikan bimbingan skripsinya dengan lancar, walaupun ada beberapa yang harua direvisi. Tapi Clara bersyukur dan merasa lega, setidaknya kerja kerasnya telah membuahkan hasil walaupun masih ada yang harus diperbaiki.
Nathan saat ini tengah berkutik dengan dokumen-dokumen yang menumpuk dimeja kerjanya. Lalu tiba-tiba ada yang mengetok pintu ruangannya.
"Tuan. Tuan Rafael telah datang" ucap Thomas memberitahu Nathan.
"Silahkan dia masuk" ucap Nathan masih berkutik dengan pekerjaannya. Rafael masuk sambil berteriak.
"Sayangku Nathan" ucap Rafael dengan bersemangat.
"Bisakah kau tidak berteriak seperti itu" Nathan kesal dengan tingkah laku temannya itu.
"Ya.... Tak bisakah kau menyambut kedatanganku" ucap Rafael juga ikut-ikutan kesal.
"Tak ada yang perlu disambut" ucap Nathan dingin.
"Ah.... Kau benar-benar tak berperasaan" ucap Rafael dengan nada sedih dibuat-buatnya.
__ADS_1
Nathan menghiraukan semua tingkah Rafael. Dia benar-benar tidak peduli. Nathan masih tetap setia dengan posisinya.
*Bersambung*