
Nathan menghiraukan semua tingkah Rafael. Dia benar-benar tidak peduli. Nathan masih tetap setia dengan posisinya.
"Wah.... Aku jadi sedih ini" ucap Rafael lagi.
Nathan tetap tidak peduli dengan apa yang dilakukan Rafael.
"Ada apa kau datang menemuiku ?" tanya Nathan kepada Rafael.
"Aku merindukanmu Nathan" jawab Rafael sambil mendekat kearah Nathan.
"Sudah lama kita tidak bertemu. Karena itu aku datang mengunjungimu" lanjut Rafael.
"Bagaimana dengan urusan mu disana ?, Apakah sudah sepenuhnya selesai ?" tanya Nathan sambil keduanya beralih ke sofa yang ada diruangan Nathan.
"Yah...... Seperti yang kau lihat. Jika aku disini tentu saja urusanku sudah selesai sepenuhnya" jawab Rafael.
Thomas tiba-tiba mengetok pintu ruangan Nathan dan masuk menyajikan minuman dan beberapa camilan untuk Nathan dan Rafael. Setelah itu ia kembali ke meja kantornya.
"Jika dilihat-lihat kau tidak berubah sedikit pun" ucap Rafael sambil memandangi Nathan.
"Aku selalu sama dan akan selelu seperti itu" jawab Nathan dingin.
"Apakah kau tak berniat mencari seorang kekasih. Setidaknya suasana disekitarmu sedikit berubah" tanya Rafael, walaupun Rafael tau apa yang akan dijawab oleh Nathan. Karena Rafael tau Nathan tak suka menjalin hubungan dengan siapapun.
__ADS_1
"Aku punya" jawab Nathan singkat.
"Ha ? Apa kau bilang ?" tanya Rafael kaget dengan jawaban Nathan.
"Aku punya kekasih" jawab Nathan lagi.
"What ? Sejak kapan ? Seperti apa dia ? Kenapa kau tak memberitahu diriku" rentetan pertanyaan yang ditanyakan oleh Rafael.
"Memangnya kau siapa, sehingga aku harus melapor padamu" ucap Nathan.
"Ya.... Aku adalah saudaramu. Teganya kau merahasiakan hal besar seperti ini dariku" ucap Rafael tak habis fikir dengan hal yang didengarnya hari ini.
Nathan hanya diam saja, dan hal itu semakin membuat Rafael kesal.
"Nanti kau juga akan tau" jawab Nathan.
"Aku ingin tau sekarang. Gadis mana yang bisa merobohkan dinding baja dihatimu itu" tanya Rafael lagi.
"Namanya Clara dan dia masih mahasiswa saat ini" jawab Nathan memberitahu Rafael tentang Clara.
"Eh.... mahasiswa ?" tanya Rafael sedikit kaget.
"Hm..... memangnya kenapa kalau mahasiswa. Perbedaan umurku dengannya tidak cukup jauh" jelas Nathan.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kau memiliki selera yang seperti itu" Rafael tertawa cukup keras tak menyangkan Nathan akan menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa.
"Nathan, kenalkan aku dengannya" pinta Rafael agar dikenalkan dengan Clara.
"Tidak boleh. Kau akan mengganggu dia nanti" tolak Nathan.
"Aku hanya ingin kenalan saja" sungut Rafael bersekukuh agar Nathan mau mengenalkannya dengan Clara.
"Tidak" ucap Nathan singkat.
Rafael menghela nafasnya. Benar-benar keras kepala. Dia terlalu posesif dengan pasangannya. Pacaran saja sudah seperti ini, apalagi jika menikah nanti. Rafael hanya bisa diam melihat kelakuan Nathan yang baru pertama kali ia rasakan dan lihat.
Waktu telah menunjukka pukul tujuh malam. Langit telah berubah menjadi gelap dan udara pun juga menjadi sedikit lebih dingin. Sebentar lagi Clara akan selesai bekerja. Clara ingat behwasanya Nathan akan datang untuk menjemputnya. Clara langsung bergegas mengambil ponselnya untuk mengabari Nathan, kalau pekerjaannya akan selesai sebentar lagi.
"Selamat malam kak. Pekerjaanku akan selesai sebentar lagi. Kakak jadi menjemputku atau tidak" begitulah isi pesan yanh dikirimkan Clara kepada Nathan.
Clara sengaja mengirim pesan seperti ini. Karena ia ingin memastikan, apakah Nathan jadi menjemputnya atau tidak.
Nathan yang saat ini masih berada dikantornya. Tengah menunggu pesan dari kekasihnya Clara.
"Kenapa dia masih belum mengabari diriku ? ini sudah pukul tujuh. Berapa lama lagi dia harus bekerja" ucap Nathan sambil memandangi layar ponselnya.
"Tuan. Apakah masih ada yang perlu dikerjakan. Ini sudah waktunya jam pulang kerja" tanya Thomas kepada Nathan. Karena Nathan tak pernah pulang lebih lama sebelumnya. Nathan biasanya pulang kerja sebelum memasuki waktu jam pulang karyawan biasa. Tapi sekarang dia masih belum beranjak dari kursi kebesarannya.
__ADS_1
*Bersambung*