
Semuanya berjalan lancar, tidak ada yang menyadari tragedi dalam hidup Laura. Belen bahkan tertipu dengan diamnya Laura hari ini. Laura tidak mau bunuh diri, mengatakan kalau keluarga berada dalam situasi yang kacau, faktanya itu akan mempengaruhi pertemanan Laura.
"Ra! Jalan-jalan ke mall, yuk?" Belen merangkul Laura. Langkah kaki mereka disusul beberapa teman sebaya yang datang.
"Aku setuju sama Belen," kata teman yang lain. "Lama kamu nggak traktir kita makan, Ra!" imbuhnya. Orang-orang di sekitar Laura mendukung dengan tawa bernada sama.
Laura tersenyum tipis. Ia ingat, Mamanya berpesan untuk mengatur keuangan mulai pagi ini. Laura dan Desi tak tahu, tragedi apa yang akan menimpa mereka, lebih dari sekarang.
"Kenapa diam saja?" tanya Belen, membuyarkan fokus Laura. "Kamu gak mau jalan-jalan sama kita?"
Laura melepas rangkulan Belen dengan hati-hati. Senyum dipaksakan di atas wajahnya. "Aku ...." Dia tidak mampu, Laura tidak pernah menolak ajakan teman-temannya untuk menghamburkan uangnya.
"Sepertinya aku gak bisa," kata Laura menyahut dengan ragu. "Aku ada urusan."
Belen memandang teman-teman yang lain. Sepertinya Laura berubah banyak dalam satu hari, membuat mereka asing dengan keberadaan Laura.
"Kamu tidak seperti biasanya, Ra," ucap Belen. "Kamu ada masalah?"
Laura terdiam lagi, keraguan menyelimuti dirinya. Belen adalah teman baiknya sejauh ini, mereka selalu berbagi kisah di sepanjang hari. Tak pernah ada rahasia yang disembunyikan. Namun, jika Laura bercerita tentang papanya, maka dia harus bercerita juga tentang Adam. Belen tidak akan meloloskan dia begitu saja, sebelum kisahnya tuntas diceritakan.
"Kenapa gak mau cerita kalau ada masalah?" Belen mendesak lagi, Laura dipojokkan dengan tatapan mata teman-temannya. "Kamu sudah tidak percaya pada kita lagi, Ra?" tanya Belen.
Laura hampir menjawab, tetapi kedatangan Adam menyela pembicaraan para gadis muda ini.
"Laura ada urusan denganku, teman-teman." Adam bersikap ramah, layaknya menyapa teman sebaya. Lagian usianya juga belum terlalu tua.
Adam adalah pria dewasa, bukan pria tua bangka.
Belen terkejut bukan main saat Adam berdiri di sisinya. Aroma wangi semerbak di lubang hidung Belen. "Eh, Pak Adam," sapa Belen cengengesan.
"Pak Adam ada urusan sama Laura?" Belen bertanya-tanya. Faktanya Belen jatuh hati pada ketampanan Adam, itulah yang membuat Belen terlihat seperti orang kikuk di sini.
Adam manggut-manggut yakin. "Aku dengar dia sering melewatkan pelajaran sejarah dari guru sebelumnya."
Laura memandang Adam. Secepat itukah Adam mencari tahu tentang dirinya?
"Aku pun!" Belen menawarkan diri. Tiba-tiba menyela berdiri di depan Adam. "Aku dan Laura sama-sama sering membolos untuk pelajaran yang tidak kita suka, Pak Adam," imbuhnya.
Belen berlagak bodoh. Murid mana yang mengaku pada gurunya kalau dia suka membolos? Hanya Belen didasari atas perasaan tertariknya pada Adam.
__ADS_1
Adam tersenyum dan menepuk pundak Belen. "Kalau begitu mama kamu harusnya lebih perhatian, Belen," ucapnya.
Belen mengernyit heran. "Memangnya kenapa? Mama aku ...."
"Mama mengadu sama Pak Adam?" Seakan membantu, Laura menyela. Dia tau maksud Adam datang kemari.
Adam mengangguk lagi. "Begitulah. Jadi untuk nilai kamu, kita harus mengobrol dulu, Laura."
Laura menatap teman-temannya. Tentu saja wajah kecewa menghantui dirinya saat ini. Laura tidak pernah melewatkan acara main bersama.
"Maafin aku, semua. Sepertinya aku harus ikut Pak Adam," imbuh Laura.
Laura tersenyum tipis, dia melambai dan berpamitan pergi. Meninggalkan Belen dan teman-temannya dalam kekecewaan.
Belen memandang punggung Laura yang mengikuti Adam menjauh dari mereka. "Dia tidak biasanya begitu," ucap Belen.
"Dia akan menolak bimbingan konseling dan memilih main sama kita," gumam Belen pelan. "Laura aneh hari ini."
....
"Pak Adam membuatku aneh di depan teman-temanku," protes Laura sembari terus mengikuti Adam. "Seharusnya Pak Adam tidak datang."
"Kenapa aku harus berterima kasih sama Pak Adam?" Laura semakin kesal. Dia harus menjelaskan sesuatu pada Belen kalau bertemu nanti.
Adam menepi, tepat di bawah sebuah pohon besar sisi lapangan yang kosong. Adam sengaja memilih tempat seperti ini untuk berbicara dengan Laura. Dia yakin, Laura tahu maksudnya.
"Aku kira kamu berusaha untuk menghindari teman-temanmu hari ini, Laura," ucap Adam. "Aku salah?"
Laura menghemat amanah. Dia enggan berdebat, apalagi di lingkungan sekolah. Jikapun Adam yang salah, Laura yang akan kena tegur. Adam adalah gurunya.
Laura memalingkan muka. Enggan menatap Adam yang baru saja menangkap basah wajah sedihnya.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang, Ra. Aku melihatmu dan mamamu kemarin malam," imbuh Adam lagi.
Adam membuat Laura menoleh padanya. "Kamu menguping?" tanya Laura.
Adam menggelengkan kepalanya. "Mau menguping atau tidak, aku juga berhak tahu, aku adalah calon suamimu."
Laura menyeringai. "Pak Adam bangga dengan itu?" Laura menggeleng. "Menikah dengan gadis belia adalah harapanmu?"
__ADS_1
Adam ikut tersenyum. "Setidaknya aku bertanggung jawab untuk dirimu, Laura. Tidak seperti Daffa."
Ah, tentang Daffa. Bajingan itu tak terlihat batang hidungnya hingga siang ini. Katanya, Daffa tak hadir di sepanjang kelas. Tak ada kabar yang menyebutkan dimana dia berada sekarang.
"Jangan bawa-bawa dia," ketus Laura. "Aku membencinya."
Adam diam lagi. Pandangan matanya tak pernah absen dari wajah cantik Laura. Gadis angkuh ini banyak memberikan kejutan untuk dirinya. Laura memberikan banyak tantangan untuk Adam bisa mengerti.
"Boleh aku tanya sesuatu padamu, Laura?" Adam kembali memulai pembicaraan mereka.
Laura tak menjawab, tetapi dia memberi perijinan dari raut wajahnya.
"Dari keadaan yang kamu alami, kamu malu?" tanya Adam. "Itu sebabnya kamu tidak bisa mengaku pada teman-temanmu apa yang terjadi?"
Laura tak langsung menjawab. Kehidupannya diubah dalam satu malam. Semua kebahagiaannya seakan ditutupi dengan kesedihan dan kekecewaan yang begitu besar.
"Jika malu, kenapa kalau harus malu? Keadaan papamu memprihatinkan." Adam mendengus pelan. "Kamu seharusnya memahami perasaan itu."
Laura menyeringai perlahan. "Kenapa kau harus memahami itu?" tanya Laura. "Kenapa orang-orang juga tidak bisa memahami apa yang aku rasakan sekarang?"
"Alih-alih malu, aku mulai merasakan muak," kata Laura ketus. "Masalah datang begitu saja, bertubi-tubi, tanpa memberikan celah untuk aku bernafas," ucap Laura.
Laura menunjuk ke sembarang arah. "Aku akan kehilangan kehidupan ini setelah aku menikah."
"Kamu masih bisa bersekolah, Laura. Aku tidak melarang kamu," jawab Adam.
"Lalu bagaimana dengan kehamilanku? Sepertinya lupa kalau aku sedang hamil," ketus Laura. Dia hampir meneteskan air mata.
Adam hampir menjawab, tetapi dering ponselnya datang bertepatan dengan milik Laura. Keduanya sama-sama fokus dengan ponsel masing-masing.
"Mama?" gumam Laura.
Adam melirik Laura. Dia juga mendapat panggilan dari ibunya.
Laura mengangkat panggilan itu. Suara mamanya langsung terdengar bersama isak tangis yang menderu. Tubuh Laura merinding seketika.
"Mama, ada apa? Kenapa menangis begitu?" tanya Laura panik.
"Ra! Papa kamu!" Suara mamanya memunculkan kekhawatiran untuk Laura. "Cepat datang ke rumah sakit!"
__ADS_1
Next.