
Menepi dari kedua orang tua mereka, Adam mengajak Laura duduk di taman belakang rumah sakit. Izinnya hanya untuk berdiskusi, saling memahami dan mengerti hingga mencapai titik temu yang sama-sama menguntungkan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.
Laura membisu, kehilangan seninya berkata-kata. Dia tidak mampu menatap Adam yang duduk tak jauh darinya.
"Mendiang orang tuaku bilang kalau aku harus menghargai wanita, Laura." Adam berbasa-basi. "Katanya anggaplah semua wanita itu sama seperti ibuku."
Laura tak menangkap basa-basi itu, dia malah menyibukkan diri dengan dunianya sendiri, diam bermain bersama jari jemari cantiknya.
Adam menoleh pada Laura. "Kalau kamu gak keberatan, aku ingin bertanya," tuturnya dengan lembut.
Laura mendapati peringai Adam yang begitu baik, dia adalah pria langka yang hidup di tengah kerasnya metropolitan.
Diamnya Laura, disimpulkan Adam sebagai persetujuan.
"Bagaimana dengan kekasih kamu yang kemarin, Laura?" bisik Adam, padahal mau berbicara lantang saja tak akan ada yang peduli.
Laura melirik Adam, tersenyum singkat. "Apanya yang bagaimana? Aku putus dari dia," jawabnya ketus. Laura menahan diri tak menangis, minimal. Perasaan yang bercampur aduk membawanya menjadi gadis bodoh. Laura kehilangan dirinya sendiri sekarang.
"Lalu kamu mau melanjutkan kehamilan ini sendirian?" Adam bertanya lagi. Sekadar basa-basi, Adam sebenarnya tidak terlalu peduli pada Laura untuk saat ini.
Laura menatap Adam dengan lekat. "Katanya kamu mau menikahi aku?" tawarnya. "Aku akan menjadi istrimu," ucapnya lagi. Laura mempromosikan dirinya pada Adam. "Aku bisa menjadi istrimu."
Adam tertawa kecil. Kemantapan Laura mendesak gelitik di dalam perutnya.
"Aku serius!" Laura memberi penekanan. "Aku akan menerima perjodohan ini dan aku akan menuruti semua—"
"Kamu bahkan tidak tahu definisi pernikahan, kenapa memaksa?" Adam memotong Laura. "Kamu belum siap untuk itu."
Laura langsung diam. Sebenarnya dia malu pada dirinya sendiri, terlebih pada Adam yang sudah mendapat penolakan darinya sebelum ini. Namun, Laura tidak punya pilihan lain. Pernikahannya dengan Adam mungkin akan menyelematkan masa depannya.
"Kenapa kamu bersikeras untuk mempertahankan kehamilanmu?" tanya Adam tiba-tiba. "Kamu bisa saja menggugurkannya."
Laura mengerutkan kening. Sesaat kemudian alisnya terangkat dan pandangan matanya berhenti pada ekspresi wajah Adam. "Aku kira kamu dididik secara agama, tapi kamu malah menyarankan itu padaku?"
__ADS_1
"Kamu tahu kalau itu dilarang agama, kenapa kamu masih melakukannya?" Inilah tujuan Adam, setidaknya dia bisa menyadarkan kesalahan Laura meskipun tidak bisa membantu untuk memperbaikinya.
Laura mendesah panjang. "Jujur saja aku sudah berpikir untuk menggugurkannya," ucap Laura berterus-terang. "Setidaknya sesaat sebelum kamu mengumumkan kehamilan di depan orang tuaku!"
Raut wajah Laura berubah. Kemarahan dalam bentuk apapun tidak bisa mengembalikan keadaan seperti sebelumnya. Tentu saja dia membenci Adam. Lelaki itu tidak seharusnya banyak ikut campur.
"Aku akan menikahimu," ucap Adam tiba-tiba. Pengakuan itu melegakan hati Laura secara tidak langsung.
Laura memandang Adam dalam diam, sepasang matanya mencari-cari kebohongan yang barang kali ada dan menyertai kalimat Adam barusan.
"Kamu serius?" Laura berbicara pelan. "Kamu mau menikahi aku setelah tahu aku hamil anak Daffa?"
"Aku punya syarat, Laura." Adam mengabaikan kalimat Laura. Dia hanya fokus pada tujuannya, Adam adalah pemimpin pembicaraan kali ini.
Laura manggut-manggut ragu. Tersenyum seadanya, sedikit dipaksakan. "Katakan."
"Apapun yang terjadi hanya aku yang boleh menentukan apakah pernikahan kita harus berlanjut atau berhenti sampai di sana," ucap Adam. Ketegasan menyertainya.
"Aku tidak memaksa dirimu, Laura." Adam berbicara lagi. "Akan tetapi, pikirkan bagaimana masa depanmu juga bagaimana kondisi mamamu setelah apa kamu tidak ada nanti."
Laura benar-benar didiamkan oleh Adam. Adam memang memberikan pilihan padanya, tetapi Laura tidak tahu di mana letak pilihan itu.
"Kamu punya waktu untuk memikirkannya, Laura," ucap Adam lagi. Dia bangkit dari tempatnya. "Kita akan terus bertemu di sekolahan, selagi kamu memikirkannya, aku juga akan berusaha untuk meyakinkan ibuku dan adikku."
Hampir Adam pergi dari hadapan Laura, tiba-tiba saja Laura meraih tangan Adam. "Kenapa harus kamu yang menentukan bagaimana nasib pernikahan kita?"
Cukup lama Adam bergeming, matanya fokus pada Laura.
"Aku juga berhak untuk menentukan karena itu adalah hidupku, Pak Adam." Laura mengimbuhkan. Dia menggelengkan kepalanya. "Bagaimana jika ternyata kamu menipuku mentah-mentah?"
"Bagaimana jika kehidupanku malah jauh lebih buruk ketika bersamamu?" Laura berandai-andai. "Aku tidak hanya membicarakan tentang materi, tetapi pernikahan itu tentang dua orang yang saling mencintai."
Adam melepaskan genggaman tangan Laura perlahan-lahan. "Karena kamu masih labil. Ditambah lagi aku adalah kepala keluarganya. Jauh lebih dewasa dari kamu, Laura."
__ADS_1
"Kamu punya waktu untuk berdiskusi dengan kekasihmu." Adam menambahkan lagi. "Daffa atau siapa pun itu namanya."
"Jika dia mau bertanggung jawab dan mau menikahimu, kamu boleh memilihnya." Adam tersenyum simpul. "Pilihan sepenuhnya ada di tanganmu, Laura."
Laura menghela nafas. Adam meninggalkan dia setelah tak ada suara, berharap Laura lekas mengumpulkan kesimpulan untuk dirinya sendiri.
Kebimbangan Luar biasa mendiami hati Laura sekarang. Dia memandang kepergian Adam yang mulai menjauh darinya. Laura tak punya banyak waktu, dia tahu itu. Mungkin Adam dan keluarganya bisa berubah pikiran besok pagi.
"Aku mau!" Laura berteriak. Suaranya menghentikan langkah Adam. Pria itu berbalik menatapnya.
Laura berjalan mendekatinya, langkah kakinya dimantapkan berharap tidak ada keraguan di tengah jalan.
"Aku setuju dengan perjanjiannya," imbuh Laura. "Aku akan menikah denganmu dan aku akan menuruti semua kata-katamu."
"Tapi tolong rahasiakan kehamilan ini juga pernikahan ini dari teman-temanku di sekolah," tandas Laura lagi.
Laura tersenyum miring. "Seperti kehamilan yang ada di dalam perutku, menjadi istrimu di usia muda juga aib untukku."
Adam manggut-manggut. "Kamu yakin mau menikah denganku?" tanya Adam lagi. "Keputusan itu tidak akan pernah bisa dicabut lagi jika kita sudah sah menjadi suami istri."
Laura mengulum ludah. Dia bahkan tidak tahu seperti apa kehidupan pengantin setelah mereka menikah, membayangkan saja tidak pernah. Laura hanya punya cita-cita untuk menjadi perempuan bebas di masa depan, melakukan segalanya sesuai dengan keinginannya.
Sayang sekali, semua harapannya harus berhenti detik ini.
"Aku hanya butuh kamu berjanji untuk persyaratan yang aku buat, Pak Adam." Laura kembali menuturkan. "Aku juga yakin kalau guru-guru tidak seharusnya tahu jika kamu menikahi muridnya sendiri."
Adam tersenyum simpul. "Lalu kamu mau menjadi istri bayangan?" tanya Adam terkekeh. "Bukannya itu malah menyiksa untukmu?"
"Yang terpenting bagiku adalah orang tuaku dan masa depanku," ucap Laura. "Jika masa depan yang aku idamkan sebelumnya sudah tidak bisa aku lanjutkan, maka aku akan membuat masa depan yang baru dengan jalan yang lain."
Laura berjalan mendekati Adam. "Yaitu dengan mengambil masa depanmu, Pak Adam."
Next.
__ADS_1