Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
69. Penghuni Neraka


__ADS_3

Kembali pada rutinitas yang membosankan. Laura hanya seorang pelajar di tahun terakhir terlepas dari semua kejadian buruk yang memporak-porandakan kehidupannya.


"Kamu serius itu terjadi sama Laura?" Suara bisikan itu pertama kali masuk ke lubang telinga Laura.


Laura menoleh saat dia menyadari orang-orang di sekitarnya memandang dirinya dengan aneh. Seperi Laura sudah melakukan sebuah kesalahan yang besar.


"Kamu yakin orang tuanya bangkrut dan menghilang?" Sekarang suara bisikan yang lain mampu menghentikan langkah Laura.


Laura memandang sumber suara. Dia adalah gadis berponi mangkok dan satu gadis berkuncir kuda memandangnya sembari tersenyum tipis. Ah, mereka tertangkap basah! Itulah arti raut wajah keduanya.


"Kamu tadi ngomong apa?" tanya Laura padanya. Tak ada jawaban, Laura langsung merebut ponselnya. Tidak ada kata-kata, gadis itu memandang informasi yang tertera di dalam layar ponsel.


"Forum sialan," gumam Laura berdecak lirih. Dia melempar ponsel dalam genggamannya.


"Hei, Laura!" Pemilik ponsel itu menyentak. "HP aku jadi rusak!"


Laura tak menjawab. Dia memandang temannya dengan marah. Sekarang seluruh fokus tertuju padanya. Laura dihakimi atas kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.


"Jadi ini ...." Suara Almira menyela dari balik punggung Laura. Gadis itu berjalan mendekatinya. "Si Dewi kesempurnaan dari SMA Menjura?"


Laura tak mampu menjawab. Pendiriannya berusaha tetap teguh meskipun digempur ketakutan yang luar biasa. Tidak ada yang membela Laura sekarang, bahkan Belen hanya memandangnya dari jauh. Semua berawal dari pria yang sama. Adam Dhanurendra.


"Si pembohong besar yang sudah menipu kita semua," kata Almira sembari memainkan ujung rambut Laura. "Dia berbicara tentang kekayaan dan kesempurnaan, tetapi ternyata keluarganya bangkrut habis-habisan?"


"Kamu menipu semua orang dengan mengatakan jika papamu sedang mengembangkan perusahaan di negara lain yang lebih besar," ucap Almira lagi. "Kamu hanya membual, Laura!" kekehnya dengan tatapan tajam.


Laura memalingkan wajah. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba menahan air matanya agar tidak menetes. Orang-orang di sini mungkin akan menertawakan dirinya jika, Laura ketahuan menangis.


"Mama dan papamu korupsi? Katanya menipu banyak orang, sampai-sampai harus menanggung hutang yang besar dan akhirnya bangkrut," imbuh Almira. Suaranya dipertegas agar orang-orang di sekitarnya bisa mendengarkan percakapan mereka.


Tujuan Almira memang ingin membuat Laura malu hari ini.

__ADS_1


"Kenapa diam saja? Kamu tidak seperti biasanya," ucap Almira. Dia tersenyum manis. "Tampar aku, seperti kemarin."


"Kamu yang menyebarkan berita itu di forum sekolah?" Laura memandangnya tajam. "Sepertinya kamu tidak kenal siapa aku, Mir."


Almira malah tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman itu. "Kamu bukan siapa-siapa lagi di sekolah ini."


"Atau jangan-jangan kamu masih menganggap kalau diri kamu itu dewi?" tanya Almira. "Kamu masih menganggap sama orang di sekolah ini akan mendukung kamu?"


Laura mengulum ludahnya. Dari semua teman-temannya yang memandang dirinya sekarang, Laura sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan Almira.


"Laura," bisik Almira pelan. "Seharusnya kamu melakukan kebohongan itu dengan tenang."


Laura mengerutkan kening.


"Kamu tidak seharusnya mendekati Daffa lagi. Maka, dengan begitu aku tidak akan pernah menyerang kamu." Almira menepuk pundak Laura. "Kamu akan baik-baik saja sampai lulus, setidaknya."


"Jadi ini semuanya karena Daffa?" Laura bertanya ketus. Dia menyeringai. "Kamu pikir setelah melakukan ini, Daffa akan menyukai kamu?"


"Namun, setidaknya aku bisa membalaskan dendamku padamu, Ra." Almira memicingkan mata. "Tenang tamparan waktu itu dan penghinaan di masa lalu."


Laura menggebu-gebu. Rasanya ini sekali melemparkan sumpah serapah atau paling tidak menamparnya sekali saja. Namun, Laura tidak mau menciptakan kegaduhan yang lain.


"Lebih baik kamu pergi sekarang. Membolos sekolah ketimbang malu karena kebohonganmu terungkap." Almira menutup kalimatnya. "Larilah seperti pengecut."


Almira meninggalkan Laura yang berdiri di tempatnya. Gadis itu hanya terdiam, membiarkan orang-orang memandangnya aneh dan mulai membicarakan Laura.


>>>><<<<


"Aku tidak akan meminta maaf sama kamu, Ra." Belen menghampiri Laura. Dia berdiri tak jauh dari gadis itu berada, menyisakan sedikit celah agar tidak terlalu dekat.


Belen masih marah dengan Laura.

__ADS_1


"Namun, aku sarankan jangan pernah lari. Kamu harus menghadapi apa yang sudah kamu lakukan." Belen meliriknya. "Lari dari masalah ini tidak akan menyelesaikan apapun."


Laura menunduk. Seindah apapun kolam ikan di depannya, tidak bisa mengobati kegelisahan hatinya.


"Aku dan Pak Adam bercerai." Laura membuat pengakuan. Tentu saja, tidak ada yang tahu tentang itu. Laura tidak akan menceritakan pada siapapun kecuali pada Daffa.


Belen mengerutkan keningnya. "Bercerai?"


"Dia berselingkuh dariku. Jadi, aku menceraikan dia." Laura menambahkan. "Aku tidak bisa hidup dengan pria tukang selingkuh."


Belen tiba-tiba saja tertawa. Itu membuat Laura memandangnya dengan aneh.


"Aku tidak melucu," protes Laura. "Kenapa kamu tertawa?"


"Entah kenapa, aku meragukannya." Belen membuang tatapan matanya. "Aku tidak bisa percaya itu."


"Kita sudah berteman lama, kamu lebih percaya pada Pak Adam yang baru saja kamu kenal?" Laura memprotesnya. "Kamu yakin kamu itu temanku?"


"Justru karena kita berteman sudah lama, aku jadi meragukannya." Belen memandang Laura. "Aku mengenalmu dengan baik, Ra."


Belen menghela napas. "Juga mengenal Daffa dengan baik. Kalian itu benar-benar cocok."


Laura menyeringai. "Cocok apanya."


"Cocok untuk menjadi penghuni neraka." Belen menutup kalimatnya.


Next.


note : Mampir, Novelnya seru banget loh!


__ADS_1


__ADS_2