Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
138. Pria tak peka!


__ADS_3

"Minum." Laura menyodorkan sebotol air mineral untuk Adam. Namun, Adam bergeming cukup lama.


Mengabaikan Laura yang berdiri di depannya. Lelaki itu memandang ke arah lain, menghindari kontak mata dengan mantan istrinya.


Laura menghela napas. Dia terpaksa menarik tangan Adam dan memaksanya untuk menerima air mineralnya.


Laura duduk di samping Adam, sedikit bercelah. "Dari mana Pak Adam tahu kalau aku ada di sini?"


"Bukankah seharusnya Pak Adam pergi mengajar?" Laura melirik jam tangannya. "Ini jam kerja."


Adam tak menjawab. Dia malah menyibukkan diri dengan membuka air mineral yang dibelikan Laura untuknya.


"Belen?" tanya Laura lagi. Dia baru ingat, kalau hanya Belen yang tahu tentang masalah ini.


Lagi-lagi Laura tidak mendapat jawaban.


"Ck, si mulut ember itu." Laura berdecak. "Awas aja kalau ketemu."


Adam hanya melirik Laura, lalu tersenyum tipis dan mulai meneguk air putih untuk membasahi tenggorokan yang kering.


Memang benar, Belen yang telah memberitahu Adam tadi pagi. Gadis itu datang dengan terengah-engah, mengatakan kalau hal buruk telah terjadi pada Laura. Bahkan, Belen mengatakan jika Adam terlambat satu detik saja, maka dia tidak akan bisa bertemu Laura untuk selamanya.


Lucunya dia, Adam masih saja percaya dengan perkataan Belen yang suka melebih-lebihkan fakta.


"Daffa sialan." Laura tiba-tiba mengumpat. "Sepulang dari kantor polisi, aku akan meneror dia."


Laura menggerutu di tempatnya sembari memainkan ujung jari jemarinya.


"Aku akan datang ke rumahnya setiap hari, mengirim bangkai tikus, darah ayam, boneka santet, mantra untuk kesialan, dan ...."


Laura menjejakkan kakinya ke tanah.

__ADS_1


Tiba-tiba, Adam tersedak. Lelaki itu tidak habis pikir kalau Laura bisa mengumpat dengan nada bicara dan raut wajah yang begitu menyeramkan.


"Laura?" Adam akhirnya membuka suara. Laura menoleh begitu dia dipanggil. "Bagaimana bisa kamu mengumpat dan menyumpah seseram itu ketika kamu sedang hamil muda?"


Laura diam. Dia mengerjapkan matanya.


"Bagaimana jika perkataan buruk itu berdampak buruk juga buat anak kita nanti?" Adam memprotesnya. "Kata orang Jawa ...."


"Aku orang Jakarta." Laura memotong. "Bukan orang Jawa."


Adam terdiam.


Laura mencondongkan tubuhnya. Ditatapnya wajah Adam dengan luka gores di samping mata kirinya. Itu dampak dari perkelahian brutalnya bersama Daffa.


"Pak Adam belum menjawab pertanyaan aku." Laura mengulang. "Siapa yang memberi tahu Pak Adam kalau aku di sini?"


Adam mengulum ludah. Belen memberi wejangan untuk tidak menyebutkan namanya ketika Laura bertanya hal itu.


Adam menghela napas. "Apakah itu lebih penting dari bagaimana cara kita keluar dari masalah ini?"


"Yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara kita bisa menghadapi masalah ini, Laura." Adam meletakkan air minum di sisinya. "Aku akan mencari pengacara untuk kamu."


"Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri." Laura menolak. Dia kembali menarik posisinya seperti semula, menjauh dari Adam.


Laura menimpali. "Bukankah aku sudah pernah bilang sama Pak Adam untuk tidak mencampuri urusanku lagi?" tanyanya. "Pak Adam juga setuju."


Adam lagi-lagi menghela napas. "Laura, ini sudah menjadi tanggung jawabku."


"Kalau soal kehamilan ini, aku belum memutuskan apa pun." Laura menyahut. "Aku belum memutuskan apa kamu melahirkannya atau tidak. Pak Adam tidak perlu khawatir sampai aku memberi keputusan."


Keduanya saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


"Laura, pernahkah kamu berpikir bagaimana perasaan orang tua kamu?" tanya Adam.


Laura jadi diam jika sudah membicarakan tentang mendiam kedua orang tuanya. Saat itu, badai begitu besar dalam hidupnya hingga Laura tidak mau mengingat sedetik pun kenangan yang terjadi saat itu.


"Kenapa tiba-tiba memanasnya?" Laura menggerutu. "Tidak ada sangkut pautnya sama mama dan papa."


"Kamu meragukan aku?" Adam tak peduli dengan protes Laura. "Maka itu artinya kamu melakukan pilihan papa kamu."


Laura menunduk. Dia tak berani memberi jawaban.


"Apakah kamu masih berpikir kalau papa kamu asal memilih laki-laki agar kamu ada yang menjaga?" Adam terus mendesak Laura untuk segera sadar. "Aku tahu aku sudah tua. Aku kuno. Aku tidak romantis seperti remaja seusia kamu, dan aku membosankan."


"Siapa yang bilang?" gumam Laura. Dia memprotes anggapan Adam tentang dirinya sendiri.


Adam mengerutkan kening setelah mendengarnya. "Kamu bilang apa tadi?" tanya Adam berpura-pura tak dengar.


Laura menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." Dia memandang Adam lagi. "Pokoknya, aku bisa menyelesaikan ini sendiri. Pak Adam tidak perlu ikut campur."


Laura beranjak dari tempat duduknya. Dia menoleh pada Adam yang sekarang pasrah, tanpa suara lagi.


"Pak Adam bisa kembali ke sekolah. Aku akan membolos hari ini," ucap Laura kemudian. "Lagian aku juga tidak punya kewajiban masuk sekolah lagi. Tinggal menunggu nilai ujian lalu lulus."


Laura tersenyum pada Adam yang tidak memberi respon. "Aku pergi dulu," ucap Laura berpamitan. Dia berpaling dari Adam kemudian.


Adam menghela napas melihat punggung Laura yang menjauh darinya. Tidak ada pilihan lain, Adam pergi dari sana. Dia berjalan berlawanan arah dengan Laura.


Di tengah langkah kaki, Laura tidak mendengar suara langkah yang mengikuti dirinya. Dia terdiam dan bergumam, "Pak Adam tidak mengikuti?"


Laura berbalik. Sialnya, dia melihat sosok Adam telah menjauh darinya. Punggung lebarnya hilang setelah dia berbelok di ujung lorong kantor polisi.


"Dia benar-benar pergi?" gerutu Laura sembari berdecak kesal. "Wah! Dasar tidak peka!"

__ADS_1


Next.


__ADS_2