
"Hei! Jangan lari!" Adam berteriak. Napasnya terengah-engah, memaksakan langkah kaki terus mencoba memangkas jarak di antara mereka.
Adam berhenti di tempatnya. "Kirana!" teriaknya. "Bisa berhenti dulu? Aku capek!"
Kirana menoleh. Ketika dia melihat Adam berhenti di samping lampu jalan, langkah kakinya juga ikut berhenti. Jaraknya cukup jauh dari posisi Adam berdiri saat ini.
Gadis itu juga lelah. Dia berlari dengan menggunakan sepatu hak tinggi dan rok pendek yang begitu ketat, ditambah lagi pakaiannya sedikit terbuka, membuatnya tidak nyaman.
Adam memandangnya. "Kenapa kamu lari?" tanyanya, sembari terus berusaha mengatur napas. "Aku tidak akan menagih apapun."
"Karena kamu mengejarku!" jawab Kirana tegas.
"Itu karena kamu lari tiba-tiba!" Adam menukas. Perlahan dia berjalan mendekati Kirana, sembari memijit pelan sisi perutnya yang terasa ditusuk-tusuk.
Kirana mundur, seiring dengan langkah kaki Adam yang maju mendekatinya. "Kenapa kamu mengikuti?" tanya Kirana curiga. "Karena kamu aku harus kehilangan uang Rp 300.000-ku!"
Adam tersenyum miris. "Salah siapa lari begitu saja?"
"Kenapa malah menyalahkan aku?" Kirana ngotot. "Kamu seharusnya tidak tiba-tiba muncul begitu!" Dia menggerutu.
Adam berhenti di tempatnya. Tatapannya tertuju pada lutut Kirana yang berdarah. "Lututmu luka, mau diobati dulu?"
Kira menoleh ke bawah. Darah mengalir dari lututnya. Ternyata itu yang membuatnya terasa begitu berat untuk melangkahkan kaki.
Kirana menyetop Adam dengan tangannya. "Jangan mendekat!"
Sayangnya Adam mengabaikan Kirana.
"Aku bilang jangan mendekat!" Kirana membentak. "Kalau kamu masih ngeyel, aku akan teriak maling dan orang-orang akan datang untuk—" Kalimat Kirana terhenti ketika Adam tiba-tiba berlutut di depannya.
Adam menghela napas. "Kamu tahan berlari dengan kaki seperti ini?" tanyanya.
Adam mengeluarkan sapu tangannya. Menyeka darah di bawah luka Kirana. "Tunggu di sana, aku belikan obat merah."
Kirana tak menjawab. Dia sama sekali tidak mengenal pria ini, tetapi Adam begitu akrab dengannya.
"Nggak perlu!" Kirana mencegah Adam yang hendak berpaling. "Jangan pura-pura peduli padaku!" ketusnya.
Kirana begitu asing dengan perlakuan orang seperti ini. Dia tidak punya orang tua, tidak ada yang memperhatikan dia dan mau peduli padanya. Bahkan ketika Kirana sekarat dan mati kelaparan pun, tidak akan ada yang membantunya.
Adam menghela napas. "Jangan cerewet!" ketus Adam. Dia menunjuk kursi di pinggir trotoar, memang sengaja disediakan untuk pengguna jalan. "Tunggu di sana. Aku akan datang 10 menit lagi."
Adam mendekati Kirana. Menarik tangan gadis itu dan memberikan tas jinjing miliknya. "Jangan coba-coba kabur, atau akan melaporkan kamu karena mencuri tasku," ujarnya.
__ADS_1
Kirana tak diberi kesempatan untuk menjawab, lelaki itu melenggang pergi begitu saja. Masuk ke dalam minimarket yang kebetulan tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Kirana pasrah. Dia menghela napas panjang. "Dia pria yang baik tenyata, tetapi kenapa Laura bersikeras untuk menceraikan dia?"
>>>><<<<
"Kamu nggak pergi rupanya," ucap Adam, datang membawa satu kantung plastik berukuran sedang.
Kirana menoleh. Sedari tadi dia mendekap tas jinjing Adam, takut jika seseorang mencurinya.
"Kamu yang menyuruhku tetap di sini," gumam Kirana. Dia menyerahkan tas itu pada Adam. Namun, Adam tidak menerimanya. Lelaki itu malah berjongkok di depan Kirana, fokus pada luka gadis itu.
"Sepertinya akan sedikit sakit, kamu bisa menahannya?" tanya Adam. Dia mendongak menatap Kirana.
Gadis ini benar-benar terlihat masih belia. Hanya saja, penampilannya jauh lebih dewasa dari umurnya.
Kirana mengangguk tak yakin. Segala macam rasa sakit sudah dia lahap habis, tetapi untuk fisik, dia tak yakin.
Adam mengambil air putih dan menguyur lukanya. Mengerikannya dengan tisu yang dia beli juga.
"Kenapa masih berlari jika tau lututmu begini?" Adam bergumam. Dia begitu telaten mengobati luka Kirana.
Kirana menunduk. "Karena kamu mengejarku."
Kirana mendesah panjang. Dia mengalihkan perhatian. Menatap Adam terus menerus hanya akan membuatnya merasa bersalah.
"Aku bercerai dari Laura," gumam Adam tiba-tiba. Fokusnya tak beralih, masih pada luka Kirana.
Kirana menatap puncak kepala Adam. "Karena aku?"
Adam tersenyum tipis. Kepalanya menggeleng yakin. "Karena perselingkuhan. Itu katanya."
Kirana mengulum ludah. Rasa bersalahnya datang menguasai. Namun, dia terlalu malu untuk mengakui hal itu.
"Aku nggak kenal sama Laura," ucap Kirana berbohong. "Aku juga gak kenal sama Daffa."
"Aku tidak menyebutkan nama Daffa," kekeh Adam. "Kamu yang mengakuinya."
Kirana terkejut. Bodohnya dia!
Adam meneteskan obat mereka di atas luka Kirana. Gadis itu merintih pelan.
"Aku akan anggap kamu tidak mengenal mereka," tutur Adam lagi. "Jika memang kamu menginginkan itu."
__ADS_1
Adam mulai menutup luka gadis itu perlahan. "Aku hanya ingin memastikan kalau aku tidak bersalah."
Kirana merasakan pedih di kedua matanya. Adam membuat hatinya luluh dalam sekejap. Perhatian kecil seperti inilah yang Kirana inginkan dari orang-orang terdekatnya.
Adam bangun ketika selesai mengobati lukanya. Dia menyerahkan sisa obat merah dan handsaplast pada Kirana. "Ganti handsaplast-nya dan tetesi obat merah lagi kalau masih luka. Jangan biarkan terkena kotoran dan debu, jangan gunakan untuk lari juga. Nanti tambah nyeri."
Kirana tak berucap sepatah kata pun. Dia hanya menerima pemberian Adam.
Adam tersenyum tipis. "Aku pamit," ucapnya.
Kirana menghentikan Adam. Dia menarik ujung tas jinjing pria itu. "Pak Adam ... itu namamu kan?"
Adam manggut-manggut. "Adam Dhanurendra. Dhanurendra adalah nama ayahku. Itu seperti marga di ...."
"Aku tidak peduli," jawab Kirana tegas. Adam langsung terdiam. Niatnya mau melucu, mencairkan suasana.
Kirana menarik napas, membuang perlahan-lahan. "Laura dan Daffa yang menyuruhku." Dia memberanikan diri. "Aku butuh uang, jadi aku melakukannya."
Adam mengulum ludah. Terpaksa manggut-manggut. "Aku akan mencoba memahaminya."
"Pak Adam tidak pernah berselingkuh. Kita tidak punya hubungan apapun dan kita tidak melakukan apapun malam itu," ucap Kirana lagi.
"Aku tahu ini tidak akan mengubah apapun, tetapi aku ingin Pak Adam yakin pada kalimat itu." Kirana memungkasi.
Adam tersenyum manis. Kepalanya mengangguk, memahaminya.
"Juga ...." Kirana mulai ragu. "Maafkan aku," ucapnya sembari menunduk. "Aku salah."
Adam mendekatinya. Mengusap puncak kepala Kirana. Dia teringat pada Rinjani. "Jika bertemu dengan Laura, tolong sampaikan ini padanya."
Kirana mendongak. Menatap Adam penuh tanda tanya.
"Dia harus hidup bahagia, karena itu adalah keputusannya." Adam tersenyum tipis.
Lelaki itu menukas lagi. "Jangan pernah mabuk di jalan lagi. Itu berbahaya."
Adam menutup kalimatnya. "Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik."
"Kenapa Pak Adam tidak mengatakan itu sendiri padanya?" Kirana menyahut.
Adam tersenyum manis. "Mungkin ... aku terlalu pengecut?" kekehnya. "Aku menghindarinya. Jangan tanya alasannya, aku jika tidak tahu."
Next.
__ADS_1