
"Nona Laura, saya ingin mengundurkan diri." Danu punya tekad yang kuat. Dia menyerahkan sebuah surat untuk Laura.
Laura tidak menjawab, bergeming cukup lama. Terserah dunia mau membantingnya dengan cara apa lagi, Laura tak akan menolak.
Danu menyerahkan surat yang lain. "Semua hutang dan dana perusahaan ada di dalam laporan ini, Nona Laura. Tidak ada sisa untuk—"
"Surat perceraiannya," kata Laura memotong pembicaraan Danu. Pandangannya mulai dipusatkan untuk wajah tua Danu. "Kamu sudah memberikannya pada Pak Adam?"
Danu mengangguk ragu. "Dia langsung menerimanya, Nona Laura."
Laura menghela nafas berat, senyum tipis dipaksakan untuk memaknai pagi ini. "Terimakasih atas bantuanmu, Pak Danu."
Danu melihat bagaimana Laura berubah dalam sekejap. Dia adalah kaki tangan setia dari Faishal dan Desi, wajar jika dia menjadi saksi bisu bagaimana Laura tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang duduk di depannya sekarang.
"Nona Laura," panggil Danu dengan lirih. "Maaf karena tidak bisa terus menemanimu sampai akhir."
"Kamu punya kehidupan sendiri, Pak Danu." Laura menjawab tanpa emosi dalam nada bicaranya. Wajahnya pun datar, kehilangan banyak kebahagiaan.
Laura mengambil dokumen yang diserahkan Danu. "Sisa uang perusahaan kamu boleh mengambilnya."
"Tidak ada sisa, Nona Laura." Danu menjawab begitu tegas. "Aku sudah menggunakan itu untuk membayar hutang dan kerugian perusahaan."
Hati Laura dihancurkan lagi. Sepeserpun dia tidak mendapatkannya. Laura hanya hidup dengan sisa uang di dalam tabungan atas namanya.
"Tidak perlu khawatir tentang gajiku bulan ini, Nona Laura." Danu memahami Laura. "Aku tidak masalah, aku tidak akan meminta gajiku."
"Sebagai gantinya, tolong setujui pengunduran diriku, Nona Laura." Danu menutup kalimatnya.
Laura manggut-manggut. "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Pak Danu. Kamu berhak pergi."
"Maafkan saya sekali lagi, Nona Laura." Danu membungkukkan badannya ringan. "Saya tidak bisa menepati janji."
Laura tersenyum tipis, tanpa kata-kata dia hanya mengangguk.
"Boleh saya tanya sesuatu padamu, Nona Laura?" tanya Danu tak ingin mengakhiri pembicaraan mereka begitu saja.
Laura hanya tersenyum, membiarkan pria seusia pamannya itu melanjutkan kalimatnya.
"Rentenir akan mengambil rumah ini, Nona Laura akan tinggal di mana?" Danu bertanya dengan hati-hati. Tidak mau jika pertanyaannya malah menambah beban tersendiri untuk Laura.
"Aku tidak akan menyerahkan rumah ini," jawab Laura yakin. "Aku akan mempertahankan rumah ini sebagai namaku."
Danu menggelengkan kepalanya yakin. "Papamu sudah menjadikan rumah ini sebagai jaminan, Nona Laura."
Laura tidak pernah mengerti permasalahan tentang itu, dia hanya gadis manja yang berlagak seperti putri raja sebelumnya.
"Kamu tahu apa artinya, Nona?" Danu mengerutkan keningnya.
"Tidak tahu?" Dia langsung menyimpulkan ketika Laura tidak menanggapi.
__ADS_1
Danu tersenyum kecut. "Jika kamu tidak bisa mengganti uang ganti rugi dalam waktu yang ditentukan, maka rumah akan menjadi milik mereka meskipun kamu berusaha untuk mempertahankannya dengan nyawamu sendiri."
Laura tidak mengerti jika permasalahan seburuk ini.
"Jika saya boleh menyarankan, Nona," ucap Danu lagi. "Lebih baik batalkan pengajuan perceraian ini, tinggallah bersama suamimu untuk sementara waktu."
"Aku tidak akan melanjutkan pernikahan ini!" Laura menjawab dengan mantap. Dia tidak perlu waktu untuk berpikir.
Laura menatap perutnya sendiri. "Aku juga akan cari cara untuk menggugurkan anak ini."
Dia kembali menatap Danu. Senyumnya tidak pasti. "Setelah aku menggugurkan anak ini aku akan kembali ke kehidupanku yang lama, aku bisa bekerja paruh waktu dan membangun kembali kehidupanku yang hancur."
Danu hampir saja tertawa, Laura hanya punya pemikiran yang sederhana. Itu wajar mengingat latar belakangnya.
"Nona Laura, dunia tidak semudah yang kamu pikirkan." Danu berusaha untuk mendesaknya. "Saya harap kamu bisa mempertimbangkan saran saya tadi, Nona."
"Aku akan tetap menceraikan Pak Adam!" Laura semakin ketus. "Aku tidak mau punya suami! Itu aib untukku!"
>>>><<<<
Adam memandang kertas di depannya. Dia mendesah panjang mengeluarkan keresahan.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Adam. Pria itu lekas mengambil ponselnya. Ibunya membuat panggilan.
"Assalamualaikum, Bu?" Adam memulai pembicaraan. "Tumben pagi-pagi begini menelepon?"
"Waalaikumsalam, Adam." Suara lembut Wanda begitu khas di telinga Adam. "Kamu sedang mengajar?"
Helaan nafas Wanda seakan memberitahu pada Adam, sesuatu telah terjadi.
"Sepertinya ada yang ingin Ibu bicarakan?" Adam menebak-nebak. "Apa itu? Soal Nurwa lagi?"
Wanda menolaknya. "Bukan Nurwa, dia tidak lagi datang ke rumah beberapa hari ini."
Adam tidak perlu bertanya apa alasannya.
"Aku dengar kalau Laura mengirimi surat perceraian untukmu," ucap Wanda, sedikit gemetar dan was-was. "Benar begitu?"
"Benar, Bu." Adam kembali memandang surat di depannya. "Aku sedang mempertimbangkannya."
"Dam, Ibu berubah pikiran." Wanda membuat pernyataan yang sulit dimengerti.
"Pernikahanmu dan Laura memang aib untuk gadis itu, tetapi perceraian adalah aib untukmu." Wanda menegaskan. "Kamu pasti paham apa yang aku maksudkan, bukan?"
Adam hanya berdehem ringan. Senyum tipis memahami peringatan dari Wanda.
Artinya apapun yang terjadi Adam tidak boleh melepaskan pernikahannya. Apalagi hubungannya dengan Laura masih seumur jagung.
"Kamu bisa bertahan?" tanya Wanda lagi.
__ADS_1
Adam tidak yakin. Diamnya menyimpan banyak pertanyaan untuk dirinya sendiri.
"Ibu harap bisa," imbuh Wanda. "Pikirkan soal mendiang ayah dan ibumu, Nak."
"Kamu tidak harus menandatangani perceraian itu," tukas Wanda lagi. Dia membuat decakan ringan di akhir kalimat. "Laura mungkin saja sedang hilang akal, jadi kamu tidak boleh mengikutinya."
"Ibu, benar. Aku masih mempertimbangkan ini." Adam menjawab seadanya.
Pembicaraannya dengan Wanda harus terputus ketika seseorang datang ke ruangan Adam.
Dia mengatup pintu dan meminta izin pada Adam untuk masuk ke dalam, Adam terpaksa menutup panggilannya.
Belen mendatangi Adam sesuai dengan perintahnya tadi. Tugas yang diberikan harus segera dikumpulkan.
"Maaf terlambat mengumpulkannya, Pak Adam," ucap Belen tersenyum kuda. Sejak awal dia terpesona Adam.
Adam menganggukkan kepalanya sembari meletakkan kembali ponselnya.
Dia menatap gadis cantik berambut ikal itu. "Tidak apa-apa. Kamu bisa letakkan di meja sana."
Belen mengangguk paham. Pandangan matanya menjelajah meja di depan Adam. Tidak sengaja menemukan satu judul dokumen yang membuat dahinya mengkerut.
Surat perceraian.
Belen hampir bertanya, tetapi Adam langsung menutup surat itu dengan lengannya dan seolah-olah tidak terjadi apapun.
"Kalau kamu sudah selesai, kamu bisa kembali ke kelas." Adam tersenyum. "Aku dengar pelajaran setelah ini adalah guru killer," kekehnya. "Jangan sampai terlambat."
Belen hanya tersenyum canggung, ada pertanyaan yang tiba-tiba membuatnya mulai resah.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Pak Adam." Belen membungkukkan badan. Dia pergi setelah Adam mengizinkan.
Di luar ruangan, seorang teman menunggu Belen sejak tadi. Mereka datang berdua sebelumnya.
"Kenapa wajahmu begitu?" tanyanya pada Belen. "Tiba-tiba kepikiran Laura lagi?"
Laura tak masuk sekolah lagi hari ini.
Belen menggelengkan kepalanya. "Katanya dia sakit. Dia baca pesanku tadi."
"Lalu?" tanyanya. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong sekolah.
"Katanya Pak Adam belum menikah, tetapi tadi aku lihat di jarinya ada cincin nikah dan ada surat cerai di mejanya," ucap Belen sembari mengingat-ingat.
Temannya tertawa. "Emangnya kenapa kalau dia sudah menikah atau belum? Kamu benar-benar berniat mendekatinya?"
Belen menoleh. "Aku terlihat bercanda sebelumnya?"
"Kamu serius?" Dia sedikit terkejut. "Wah, Belen! Selera kamu tidak pernah berubah! Pria yang lebih tua!"
__ADS_1
Mereka tertawa bersama, tanpa tahu pria yang dia cintai adalah suami sahabatnya sendiri.
Next.