Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
11. Rencana Menikah


__ADS_3

Sesampainya Adam di rumah sakit, suasana sudah tak lagi kondusif. Dia melihat Laura menangis tersedu-sedu di samping ranjang Pak Faishal, sedangkan Desi hanya diam di belakang Laura.


"Ada apa?" Adam masih belum paham, berbisik pada telinga ibunya. "Ibu cuma suruh aku datang."


Adam melihat layar pendeteksi jantung di sisi ranjang Pak Faishal. Menandakan kalau ada kehidupan di dalam raganya.


Wanda meraih pundak Adam dan mengusapnya pelan. Tanpa kata-kata dia hanya manggut-manggut, memberi kode pada putranya.


Tak berselang lama, Desi berbalik, menatap Wanda dan Adam. Memohon dengan pandangan mata yang teduh. "Kita harus mempercepat pernikahannya."


Adam sedikit terkejut. Rencananya, dia akan menikahi Laura setelah tahun ini berakhir. Hanya tinggal beberapa hari saja, itu harus berjalan sesuai rencana.


"Dam," panggil Desi. Dia meraih tangan Adam. "Ibu mohon, bantu ibu." Desi memohon layaknya pada putranya sendiri. Dia hanya punya sisa belas kasih, harga dirinya diabaikan begitu saja.


"Dokter bilang kita hanya perlu menunggu waktu," ucap Desi menyerah. "Tidak ada yang bisa dilakukan untuk Pak Alif."


Desi menoleh pada punggung Laura. Putrinya menangis tak henti. Sepertinya masih belum bisa pasrah, menyerah pada keadaan yang ada.


"Dokter bilang ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, dia tidak mau menyerah melawan rasa sakitnya." Desi memohon lagi. Dia berharap Adam bisa memahami luka di dalam hatinya sekarang.


Adam menatap keadaan Pak Faishal. Terakhir kali datang ke rumahnya, pria itu masih bisa bergurau. Canda tawa dan bagaimana caranya mengajari Adam tentang kerasnya hidup di kota masih terekam jelas di dalam memori ingatannya.


Desi menunduk, seperti bersalah. "Kami sempat berbicara di tengah malam saat dia dia terbangun," ucap Desi lagi. "Aku yang menyimpulkan dari gerak dan mimik wajahnya."


"Dia mendengar semua percakapan kita waktu itu," imbuh Desi. "Dia tahu kalau Laura hamil."


Wanda sedikit kaget, tetapi dia tidak bisa apa-apa. Seperti punya hutang tanpa wujud uang, Wanda pun hanya bisa pasrah. Ikatan dan janji di masa lalu oleh mendiang orang tua Adam membatasi keputusannya.


"Dia akan pergi kalau sudah memastikan Laura mendapatkan suami," tandas Desi. Air mata tidak bisa dihindarkan, Desi kalah pada dirinya sendiri.


Adam memahami Desi. Air mata Desi menjadi goresan tipis untuk hati Adam. Acap kali melihat Desi, dia teringat akan mendiang ibunya.


Desi tiba-tiba bersimpuh di depan Adam. Tentu saja itu membuat Adam dan Wanda terkejut bukan main.


"Mbak Desi, jangan begitu," kata Wanda panik. Dia berusaha untuk membantu Desi bangkit lagi. Namun, Desi keras kepala. Dia nyaman di posisinya.


"Tolong bantu kami, Wan." Desi memohon sembari meraih pergelangan tangan Wanda. "Aku tahu ... aku tahu kamu tidak menyukai putriku karena kejadian kemarin, aku bisa memahaminya!"

__ADS_1


Wanda menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, Mbak Desi."


"Tapi tolong, hilangkan rasa tidak suka itu." Desi menepuk dadanya. "Aku akan menjadi jaminan jika putriku merepotkan kalian."


Wanda mengerutkan dahi. Dia menoleh pada Adam yang dengan penuh kehati-hatian membawa tubuh Desi bangun kembali.


"Pak Faishal bisa mendengar kita, Mbak Desi. Kamu tidak boleh begitu," tutur Wanda pelan. Dia tersenyum. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik."


"Aku akan menikahi Laura besok," ucap Adam menyela tiba-tiba.


Wanda menoleh pada Adam. "Secepat itu?" tanyanya Lirih. Wanda tahu, Adam bukan tipe orang yang tergesa-gesa.


"Dam, kamu jangan ...."


"Kita akan menikah di depan Pak Faishal. Aku yang akan membawa penghulu kemari." Adam meneruskan kalimatnya lagi. Dia tidak punya pilihan, keyakinan membawanya sampai di titik ini.


Wanda hanya bisa pasrah, Adam keras kepala.


Desi tersenyum. "Terimakasih, Adam. Terimakasih," ucapnya lalu memeluk Adam. "Aku akan mengajari Laura untuk menjadi istri yang baik dan sempurna."


"Tidak, Bu Desi." Adam menolak. "Aku yang mendidiknya sebagai seorang suami untuk Laura."


Adam menatap punggung Laura. "Aku yakin aku bisa mengubahnya."


....


Setelah kekacauan yang ada, Wanda membawa Adam keluar dari ruangan rumah sakit. Mereka menepi di ujung lorong yang jauh dari orang-orang.


"Dam, kamu sudah gila?" tanya Wanda dengan penekanan.


Adam tak menggubris. Namun, dia faham semarah apa Wanda padanya.


"Nurwa bagaimana?" tanya Wanda tak mau berbasa-basi. "Nurwa bagaimana?" tanyanya lagi, dengan penekanan. Berharap Adam mulai tersentak dan sadar.


Adam diam, masih seperti orang linglung.


"Dam! Nurwa sudah terlanjur cinta sama kamu," ucap Wanda merengek-rengek. "Bagaimana bisa kamu mengecewakan dia?"

__ADS_1


"Aku tidak pernah memberi harapan untuk Nurwa, Bu." Adam menyahut. Raut wajahnya datar, tak ada emosi apapun. "Nurwa yang datang dan kukuh untukku."


Wanda menepuk pundak Adam dengan kasar. "Kamu ini laki-laki, Dam!" ketusnya. "Mendiang ayah kamu pasti kecewa kalau kamu jadi laki-laki tidak ada pendiriannya begini!"


"Kalau memang tidak suka pada Nurwa, katakan sejak awal!" Wanda menyeru. "Katakan padanya kalau kamu tidak akan pernah bisa membalas perasaannya. Maka dia tidak akan pernah mendatangimu hampir setiap hari, membawakan makanan enak untuk kita, dan membelikan baju baru untuk adikmu."


"Aku tidak pernah meminta itu semua darinya." Adam masih berpikir kalau dia berada di posisi yang benar. "Aku tidak pernah meminta semua pemberian darinya."


Wanda memutar tubuhnya. Dia memunggungi putra angkatnya itu. "Dam! Kenapa kamu jadi begini?"


"Aku hanya menuruti wasiat mendiang ayah dan ibu, Bu Wanda." Adam menjawab dengan tegas. "Aku mencoba jadi anak berbakti."


Wanda menatap Adam lagi. Dia sampai tidak bisa berkata-kata kalau Adam sudah membawa-bawa nama kedua mendiang orang tuanya. Wanda akan kalah!


"Lalu bagaimana dengan Nurwa?" Wanda kembali mengulang pertanyaannya. "Bagaimana kamu bisa menjelaskan padanya kalau tiba-tiba saja kamu menikah dengan gadis asing seperti itu?"


"Memangnya kita harus menjelaskan semuanya pada Nurwa, Bu?" tanya Adam.


Wanda mengerutkan kening. "Dam! Kamu masih tidak mengerti juga bagaimana perasaan seorang perempuan ketika dikecewakan?"


Adam manggut-manggut. "Biarkan aku yang berbicara dengannya, Bu," ucapnya. "Biarkan aku yang menjelaskan situasi ini pada Nurwa. "


Wanda memalingkan pandangan mata. "Ibu sudah tidak percaya padamu lagi. Kamu bahkan menyetujui semua ini tanpa berdiskusi dulu."


"Laura ...." Adam menyebut namanya. "Keadaannya memprihatinkan. Aku tidak bisa mengabaikannya."


Wanda mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu itu putra laki-laki di keluarga kita, tapi kamu malah bertindak seenaknya sendiri?"


"Kamu yakin kamu bisa mengubah Laura?" tanya Wanda. "Di situ tidak seperti Nurwa!"


"Laura itu gadis yang bebas! Buktinya saja dia bisa hamil di luar nikah, tanpa kita tahu siapa ayah dari anak yang dia kandung," tandas Wanda.


Adam tersenyum. "Aku tahu, Bu. Ibu jangan khawatir."


"Aku juga akan menemui ayah dari anak yang dikandung Laura, percayakan ini semua padaku, Bu." Adam meminta. "Aku mohon."


Next.

__ADS_1


__ADS_2