Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
129. Kejutan untuk Laura!


__ADS_3

"Good morning, Laura!" Belen yang tiba-tiba saja datang, menepuk pundaknya. Gadis itu berhenti tepat di samping Laura.


Ketika memandang wajah Laura, Belen mendapati kalau gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Wajahnya murung seperti sesuatu baru saja terjadi padanya, meskipun bukan hal yang aneh lagi untuk Belen. Masalah Laura tidak kunjung surut.


"Biar aku tebak!" Belen berjalan mundur di depan Laura. "Pak Adam lagi-lagi mengecewakan dirimu?" tanyanya. "Jawabannya tidak sesuai dengan ekspektasimu atau ...."


"Aku tidak mau membahas dia." Laura mendorong tubuh Belen dari hadapannya. Iya benar-benar tidak ingin berbicara dengan siapa pun.


Belen adalah gadis yang keras kepala. Dia masih kokoh mengganggu diamnya Laura kali ini. "Katakan apa yang Pak Adam katakan?"


"Sudah aku bilang kalau aku tidak mau membalasnya," sahut Laura. Sekarang suaranya lebih ketus. Caranya berbicara menunjukkan ketidaksukaan.


Belen merangkul temannya itu. "Come on, Laura!" Dia berusaha untuk membawa atmosfer baik di antara mereka berdua. "Aku tahu kalau kamu sakit hati padanya, tetapi aku juga ingin tahu apa yang terjadi sama kamu dan Pak Adam." Dia memohon. "Kita sudah lama berteman."


Laura meliriknya dengan sinis. "Aku tidak peduli." Dia mempercepat langkah kaki, berusaha untuk meninggalkan temannya itu. Hanya dengan begitu Laura bisa meloloskan diri.


"Laura!" Belen merengek-rengek. "Jangan marah gitu!" Dia berusaha menyamakan langkah kaki dengan Laura. "Setidaknya singgung sedikit biar aku tidak seperti orang bodoh. Belakangan ini kamu terlalu banyak menyembunyikan sesuatu dariku."


Belen tiba-tiba merajuk. "Sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi."


Dari caranya berbicara, Belen emang tahu bagaimana menarik perhatian Laura. Laura hanya bisa menghela nafasnya kemudian. Dia kalah tanpa perlawanan.


"Ceritanya panjang." Laura akhirnya membuka pembicaraan, dia menoleh pada temannya itu. "Yang jelas Bu Wanda datang ke rumahku dan kemarin Nurwa mendatangiku."

__ADS_1


Belen berhenti. Dia menarik tangan Laura tiba-tiba. "Jangan bilang kalau mereka melabrak kamu?"


Laura tersenyum seringai sembari menaikan bahunya. "Aku tidak tahu apa sebutan untuk apa yang dilakukan mereka kemarin, aku hanya sakit hati saja."


Keduanya kembali melanjutkan langkah kaki. "Pak Adam katanya juga keluar dari rumah. Mirip minggat barang kali," tandas Laura. Dia menundukkan pandangan mata, sejauh ini dirinya masih baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kehamilan yang mengganggu aktivitasnya, Laura masih bekerja hingga larut datang.


"Semua masalah jadi tambah rumit," kata Laura. "Aku berpikir untuk ...." Dia mengulum ludahnya sendiri. "Untuk mengakhiri semuanya."


Belen menoleh. "Anak kamu?"


"Aku tahu kalau aku akan menjadi pembunuh untuk yang kedua kalinya, tapi mau bagaimana lagi?" Laura benar-benar basah dan menyerah. "Kamu punya jalan lain? Kamu punya solusi dari masalahku?"


Belen menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak menyangka kalau masalahnya jadi tambah rumit begini, Ra."


Laura tidak lagi memberi jawaban apapun. Dia hanya meneruskan langkah kakinya, tanpa tujuan yang pasti hari ini. Mau masuk sekolah atau tidak, sudah tidak ada yang peduli lagi. Laura hanya datang kemari sebab dia tidak punya kegiatan lain di rumah. Gadis itu berpikir mungkin saja bertemu dengan teman-temannya akan meringankan sedikit pikirannya, tetapi dia salah besar.


"Dia balik lagi?" Seseorang yang melintas di depan Laura sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang menarik. "Kamu yakin itu dia?"


Laura dan Belen saling memandang satu sama lain.


"Dia benar-benar melamar jadi guru lagi di sini?" Salah satu dari temannya menimpali. Pertanyaan yang mendapatkan anggukan yang begitu yakin. "Wah! Ini akan menjadi berita besar! Ini hanya sejuk untuk kita yang tidak menyukai guru sejarah yang lama."


Laura langsung mempercepat langkah kakinya. Dia menarik salah satu teman yang berdiri tak jauh darinya. Tentu saja aksinya itu membuat temannya terkejut.

__ADS_1


"Laura?" Dia menatap Laura dengan aneh. "Aku kaget! Kamu tiba-tiba menarik aku begitu."


"Katakan!" Laura jauh lebih tegas. Seperti dia tidak ingin kehilangan sesuatu. "Siapa yang sedang kamu bicarakan?"


Belen mendekati keduanya. Dia menepuk pundak Laura. "Kamu itu kenapa?" tanyanya.


"Katakan!" Laura mengabaikan Belen. Dia hanya fokus pada dua gadis yang berdiri di depannya. "Kalian tadi sedang membicarakan siapa?"


"Ada guru baru yang datang ke sekolah kita. Sayang sekali terlambat karena kita sudah tidak akan ada pelajaran lagi." Temannya itu menjelaskan sembari tertawa. "Memang lucu."


"Siapa?" Laura mendesak dengan begitu serius. "Siapa yang datang?"


"Kenapa kamu jadi peduli?" Temannya memandang Laura dengan aneh. "Memang dia tampan dan masih muda, tetapi kita tidak punya peluang untuk menjadi muridnya. Sebentar lagi kita akan lulus, jadi ...."


"Siapa?" Laura membentak lagi. Dia benci basa-basi.


Belen memandang Laura dengan jeli. Temannya ini aneh sekali.


"Aku." Suara seorang pria menjawab rasa penasaran Laura.


Laura begitu mengenal suaranya. Ketika dia menoleh, Adam berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu dengan santainya tersenyum dan melambai padanya. Seolah tidak pernah ada hal buruk terjadi di antara mereka berdua.


"Pak Adam?" Belen mengerutkan keningnya. "Dia melamar jadi guru di sekolah ini lagi?"

__ADS_1


Next.


__ADS_2