Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
136. Minta bantuan


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Awalnya menjadi sesuatu yang asing bagi Laura ketika dia membuka mata dan melihat meja makan penuh dengan berbagai macam menu makanan, tetapi lama-kelamaan dia mulai terbiasa.


Adam melakukan semua ini selama dua minggu penuh. Laura tidak pernah mau melarangnya, atau memarahinya. Laura tahu kalau itu akan sia-sia saja. Adam adalah pria yang keras kepala.


"Laura!" Suara Belen datang dari lambang pintu yang secara cepat dibuka ketika gadis itu menerobos masuk.


"Kamu ini kenapa?" tanya Laura dengan santai. Dia duduk di depan meja makan, mulai mengambil menu sarapan yang dia inginkan.


Belen menatap meja makan di depannya. Laura tinggal sendiri, tetapi menu makanan jauh lebih lengkap daripada di rumahnya.


"Pak Adam yang menyiapkan semua ini." Laura seakan tahu isi kepala Belen. "Kamu mau makan juga?" tanyanya lagi.


Laura mengetuk sisi meja di depannya. "Duduklah. Nanti kita berangkat ke sekolah bersama-sama."


"Ada yang aku katakan sama kamu." Belen menarik kursi di depannya. Duduk berhadapan dengan Laura. "Ini tentang Daffa."


Laura menganggukkan kepalanya. "Katanya dia mau pergi ke luar kota. Tidak mau melanjutkan kuliah di Jakarta."


"Bukan itu!" Belen menggebrak meja makan di depannya. "Ini benar-benar hot news!"


Laura yang hendak memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya, membeku begitu saja. Belen menjadi biang gosip belakangan ini. Dia terus saja membawa gosip demi gosip yang datang dari teman-temannya.


"Katakan," titah Laura. "Kalau nggak hot news, awas saja."


"Daffa dilaporkan ke polisi." Belen meringkas penjelasannya. Dia memandang Laura yang terkejut setelah mendengar kalimat darinya.


Laura meletakkan sendok dalam genggamannya. "Jangan ngawur, kenapa dia tiba-tiba ditangkap polisi?"

__ADS_1


"Aku tahu kalau Daffa itu bajingan. Namun, dia tidak akan melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri." Laura mencoba untuk memberi pembenaran, padahal dia tidak tahu apapun tentang Daffa belakangan ini.


Laura hanya fokus pada hidupnya sendiri, memikirkan bagaimana cara menangani kehamilan ini agar dia tetap pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Laura tidak ingin mimpinya berhenti di Jakarta, dia tidak mau menyia-nyiakan kepandaiannya dan menghancurkan hidupnya lebih dari ini.


"Daffa ketahuan melakukan transaksi narkoba." Belen terdiam sesaat, sebelum akhirnya kembali melanjutkan. "Aku tidak mendapat beritanya secara utuh, tetapi itu cukup menggemparkan beberapa orang di sekolah."


Laura menanggapinya dengan santai, sebelum akhirnya dia tersenyum manis. "Biarkan saja kalau begitu. Dia harus menanggung konsekuensinya sendiri."


Belen tidak menuruti kata-kata Laura, dia meneruskan kalimatnya. "Namamu juga terlibat."


Laura memuntahkan kembali air dalam mulutnya. Dia tersedak mendengar itu.


"Apa maksudmu?" tanya Laura mulai panik. "Namaku terlibat?" tanyanya lagi. Laura memastikan apa yang baru saja dia dengar. "Jangan ngawur!"


"Aku nggak ngawur!" Belen menggerutu. "Kamu kira aku jauh-jauh datang ke sini pagi-pagi begini hanya untuk bicara ngawur?" tanya Belen kesal. "Atau aku datang ke sini hanya untuk mengabarkan keadaan Daffa?"


Belen tertawa seringai. "Aku bahkan tidak peduli kalau dia mati tertabrak truk sekali pun. Kenapa aku peduli dia dipenjara atau tidak," gumam Belen.


"Itulah kenapa sejak awal aku nggak setuju kamu pacaran sama dia!" Belen memprotesnya. "Dia itu iblis!"


Laura tidak menjawab. Dia hanya diam, menghela napasnya beberapa kali. Napsu makannya telah hilang.


"Bagaimana bisa aku terlibat?" tanya Laura lagi. "Aku bahkan nggak pernah ...." Laura terdiam saat dia menyadari sesuatu.


Belen dan Laura saling memandang satu sama lain. Keduanya terdiam cukup lama, kiranya saling menebak pemikiran di antara mereka.


"Daffa tahu pin ATM ku dan dia memegang kartu ATM-ku yang lama." Laura menyimpulkan. "Dia masih menggunakan itu untuk transaksinya?"


Belen berdecak sembari mengusap wajahnya. Dia menunjuk wajah Laura dengan ujung garpu. "Itulah kenapa kamu jadi bodoh kalau sudah mencintai!" pekik Belen.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa membayangkan ini terjadi?" Laura ikut berteriak. "Kartu itu sudah lama tidak aku gunakan. Jadi aku berpikir untuk meminjamkan pada Daffa untuk kebutuhannya."


"Kamu bodoh, Laura!" Belen terus mendesak. "Benar-benar bodoh!"


Laura berdecak kasar. "Ck, tikus sialan satu itu!"


Belum sempat mereka menyelesaikan pembicaraan, dering ponsel Laura berbunyi. Gadis itu menoleh dan melihat ke arah layar ponselnya. Kombinasi nomor tak dikenali membuat dia sedikit was-was, tetapi tidak ada pilihan lain untuk menjawab panggilan itu.


"Halo?" Laura memulai pembicaraan.


"Benar ini dengan Nona Laura Mentari?" Suara seorang pria menyahut dari seberang ponsel. Laura tidak langsung menjawab, dia melirik Belen yang juga ikut terdiam.


"Ini dari kepolisian." Pria itu kembali mengimbuhkan. Pernyataannya membuat kepanikan memburu Laura.


"Gimana ini?" bisik Laura pada Belen sembari menjauhkan ponsel darinya. "Aku gak mau ketemu polisi."


"Nona Laura Mentari, Anda masih bisa mendengar saya?"


Laura menghela napas, mengigit bibirnya karena takut. Dia tak pernah berhubungan dengan pihak kepolisian seumur hidupnya.


"Anda dipanggil ke kantor polisi sebagai saksi atas kasus transaksi ilegal dari saudara Daffa. Silakan datang ke kantor. Kami tunggu dua jam dari sekarang." Pria itu sedikit memberi desakan. "Jika anda tidak datang dalam waktu yang ditentukan, kami terpaksa menjemput anda, Nona Laura Mentari."


Laura mengusap wajahnya frustasi ketika panggilan ditutup begitu saja. Dia memandang ke arah Belen yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Gimana ini?" tanya Laura. "Aku nggak mau ketemu polisi."


Belen berpikir cukup keras, sebelum akhirnya dia menjentikkan jari. "Kita harus minta bantuan."


"Sama siapa?" Laura menyahut ketus. "Orang tua kamu pasti menolak membantu. Bibiku? Suaminya pasti akan marah besar. Mereka pindah ke kampung karena menghindari aku."

__ADS_1


Belen menggelengkan kepalanya. "Pak Adam!"


Next.


__ADS_2