Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
109. Kencan Buta?


__ADS_3

"Laura! Mau main bareng kita?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Mungkin lain kali," ucapnya. "Aku harus kerja."


Lama-kelamaan itu bukan hal yang asing untuk Laura. Pada akhirnya dia mulai terbiasa, mengakui keadaannya yang biasa-biasa saja. Dia bukan lagi dewi di sekolah ini. Laura sama seperti yang lain.


"Begitukah?" tanyanya. Dia menatap ke arah lain. Tangannya menunjuk ke sisi gerbang besar sebagai akses utama keluar masuk sekolah ini. "Katanya kalian sudah cerai," ucapnya.


Laura ikut menoleh. Begitu juga dengan Belen yang ada di sampingnya.


"Sepertinya aku kenal?" Belen menggosok-gosok dagunya. "Bukankah itu Pak Adam? Lama banget aku nggak melihat dia datang ke sekolah ini."


Laura mengenalinya tanpa harus basa-basi. Dia langsung berpamitan pada teman-teman. "Aku duluan. Maaf ya, lain kali aku gabung."


Laura langsung pergi begitu saja. Dia tidak menghiraukan teman-temannya yang tentu saja kebingungan, penuh tanda tanya akan kehadiran Adam kali ini.


"Ah, mereka rujuk lagi?" Seseorang bertanya pada Belen. "Aku kira Pak Adam mau menikah sama yang lain."


Belen menoleh. Ditatapnya dengan sinis. "Tanya sendiri. Kenapa malah tanya sama aku?" Dia menggerutu. "Aku pun tidak tahu."


Belen pergi setelahnya.

__ADS_1


"Pak Adam!" Laura memanggil pria yang sudah menunggunya entah sejak kapan. Dia saja tidak tahu kenapa Adam tiba-tiba datang hari ini.


Setelah pertemuan mereka malam itu, Laura mengira kalau Adam akan terus mendatanginya. Ternyata dia salah. Adam seolah-olah menghilang dari dirinya, lalu tiba-tiba datang tanpa mengabarinya.


"Kamu sudah pulang?" Adam menyambutnya dengan senyum. "Aku kira akan terlambat."


Laura menggelengkan kepalanya. "Pak Adam kenapa datang ke sini?" tanyanya. Dia melihat ke arah lain. Memastikan sesuatu. "Teman-temanku pada bingung."


Adam malah tertawa.


"Ini lucu?" Laura memprotesnya. Dia tidak tahu harus apa. Adam memberinya kejutan tak terduga.


"Kamu ada waktu senggang?" tanyanya. Adam memandangnya. Entah sejak kapan, Laura jadi semakin cantik di matanya.


"Tidak bisa membolos?" tanyanya pada Laura. Adam jelas-jelas Berharap penuh. "Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat, tetapi sepertinya kamu tidak bisa."


"Mengajakku?" Laura menunjuk dirinya sendiri. "Ke mana?"


Adam menaikkan kedua bahunya. "Lain kali saja. Aku mau pulang dulu kalau begitu."


Adam hendak pergi, tetapi Laura mencegahnya. Dia menarik tangan Adam dengan yakin. "Aku belum menjawabnya."

__ADS_1


Adam terdiam.


"Aku belum menolak atau menyetujuinya. Seingatku aku hanya bilang kalau aku harus kerja setelah ini." Laura tersenyum tipis. "Sejak kapan Pak Adam jadi mudah menyimpulkan?" kekehnya.


Adam ikut tertawa. "Kamu harus kerja. Jadi aku harus menghargainya. Kamu tidak boleh membolos."


"Aku akan membolos." Laura tidak mau melepaskan Adam begitu saja. "Satu hari tidak masalah," katanya lagi.


"Nanti bosmu marah?"


"Aku tinggal bilang kalau aku ada ekstrakurikuler, sekolahku sibuk hari ini." Laura meraih tangan Adam, bergelayut manja. "Kita mau ke mana?" tanyanya lagi.


Adam tersenyum. "Benarkah kamu mau ikut?" tanyanya. "Kamu tidak akan menyesal?"


Laura mengerutkan kening. "Memangnya mau ke mana?" tanyanya. "Jangan bilang ...." Laura menggodanya lagi. "Pak Adam mau tidur denganku?" bisiknya. Berharap tidak ada yang mendengarkannya.


Adam tersenyum geli. "Hanya ada itu di dalam kepalamu?" tanyanya.


"Lebih indah dari ranjang hotel murahan." Adam menarik Laura. Membawa gadis itu ke tempat tujuannya sore ini.


Laura hanya bisa mengikutinya. Entahlah, tidak ada alasan. Dia hanya merasakan bahagia yang tak terkira. Seharusnya dia mengakui perasaannya lebih cepat.

__ADS_1


Next.


__ADS_2