Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
123. Laura Dan Adam.


__ADS_3

Adam menunggunya di depan pagar rumah. Lelaki itu sengaja tak mengetuk pintu, atau paling tidak memberi tanda pada Laura bahwa dia datang pagi ini.


Entah sejak kapan dia ada di sana, Laura keluar dengan keterkejutan ketika melihat punggung Adam bersandar di tiang lampu jalanan.


Laura tidak menyapanya. Dia melalui Adam begitu saja. Sesekali dia hanya melirik, memastikan kalau Adam juga melihatnya.


Gadis itu berjalan untuk sampai ke halte bus. Meskipun sudah tidak ada pembelajaran formal, tetapi Laura harus tetap masuk sekolah. Paling tidak dia menampakan diri sebelum kelulusan datang.


"Jangan mengikuti aku!" Laura tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, tetapi dia tidak mau menoleh dan menatap ke arah Adam.


Adam ikut berhenti, menjaga jarak dari Laura.


"Aku bisa berangkat sekolah sendiri!" ujar Laura ketus. "Jadi jangan menguntit seperti ini!"


Laura kembali melanjutkan langkah kaki, tentu saja dengan harapan Adam berhenti mengikutinya. Akan tetapi, lelaki itu masih saja keras kepala. Langkah kakinya mengikuti jejak Laura dengan jarak yang dipastikan. Adam tidak mau membuat Laura terganggu, meskipun dia tahu aksinya kali ini cukup mengganggu.


"Pak Adam!" Naura terpaksa menoleh. Ditatapnya Adam dalam diam. Meskipun Laura bisa merasakan penyesalan ditunjukkan lewat raut wajah Adam dan caranya menata, tetapi dia tidak bisa menerimanya begitu saja.


Gadis itu mendesah panjang. "Aku tidak butuh rasa kasihan dari Pak Adam. Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri."


Adam hanya menganggukkan kepalanya. "Aku tahu itu." Dia tersenyum seadanya. "Kamu adalah gadis paling mandiri yang pernah aku temui."


Laura menyeringai. "Pak Adam pikir ... Pak Adam bisa merayuku hanya dengan kalimat itu?"


"Aku tidak berusaha merayumu." Adam satu langkah lebih dekat dengan Laura. "Aku tahu, tanpa merayu sekalipun kamu sudah terpesona denganku," celetuknya. "Aku tampan ... itu yang kamu katakan malam itu."


Laura langsung memalingkan pandangan mata. Dia menghela napas panjang. "Pria sialan ini," gumam Laura lirih. Dia kembali menatap Adam, memandangnya dengan teliti. "Pokoknya! Jangan ikuti aku! Aku nggak nyaman!"


Laura tidak memberi kesempatan pada Adam untuk menjawab, di situ memalingkan tubuhnya dan kembali melanjutkan langkah kakinya.


Sayang sekali, keras kepala Adam dijunjung tinggi saat ini. Pria itu terus mengekori Laura. Tentu saja, tetap menjaga jarak agar tidak membuat Laura lebih risih dari ini.

__ADS_1


"Pak Adam masih ngeyel juga?" tanya Laura dengan ketus. "Aku akan teriak cabul gila, nanti orang-orang akan datang dan memukuli Pak Adam."


"Lakukan saja." Adam menjawab dengan enteng.


Laura mengerutkan kening. Jawaban Adam menunjukkan ketidakpeduliannya.


"Aku tidak yakin kalau kamu tega melihat aku dipukuli banyak orang," ucapnya lagi.


Adam benar-benar membuat Laura diam. Lelaki ini tahu banyak tentang Laura Mentari.


Laura menghela napasnya panjang. Dia pasrah dan menyerah pada akhirnya. "Terserahlah. Aku akan naik taksi saja."


Laura mempercepat langkah kaki, begitu juga Adam yang ada di belakangnya. Halte bus sudah ada di depan mata, tetapi Laura hendak berbelok ke pangkalan taksi. Adam yang menyadari hal itu, langsung mencegah dengan suaranya. "Laura!"


Laura berhenti sejenak. "Aku tidak mau bernegosiasi. Aku tidak akan kembali sama Pak Adam," jawab Laura tiba-tiba. Dia mencegah dirinya sendiri untuk jatuh terlalu mudah dalam pelukan Adam lagi.


Laura tahu, jika dia mendengarkan semua penjelasan Adam mungkin saja gadis itu akan luluh hanya dalam hitungan detik. Semua perkataan Adam, dengan mudah membius dan menghipnotis Laura.


Meskipun Adam tidak bisa melihat wajahnya sebab Laura memunggungi dia, tetapi lelaki itu tahu jika kalimatnya berpengaruh pada Laura saat ini.


Adam mendekatinya perlahan-lahan. "Aku tahu, kamu tidak pernah kecelakaan waktu itu."


Laura terkejut mendengar pengakuan Adam.


"Malam itu kamu dengan sengaja melakukannya," ucap Adam lagi. "Itu hanya skenario licik Daffa, Laura."


Laura mengulum ludahnya dengan berat.


Adam berhenti tepat di belakang Laura. Suaranya semakin jelas. "Aku tidak mau kamu melakukan hal yang sama."


"Bukan hanya tentang anak kita, tetapi ini juga tentang dirimu sendiri." Adam berusaha meraih bahu Laura. "Aku akan bertanggung jawab. Sebisanya."

__ADS_1


Laura langsung memutar tubuhnya. Dia tidak tahu kalau Adam sedekat ini dengannya. Pandangan mata Laura menggebu-gebu. "Pak Adam hanya memikirkan tentang tanggung jawab?"


Adam mengangguk.


"Sesederhana itukah pikiran Pak Adam?" Laura tiba-tiba memprotes. "Berat untukku," kata Laura sembari menepuk dadanya. "Aku masih ingin kuliah. Keluarga mama yang ada di Malaysia sudah setuju untuk membiayai kuliahku. Aku hanya ingin kau pergi ke sana dan bekerja di perusahaan mereka, aku dibayar dengan gaji yang cukup untuk hidup dan kuliah di sana."


Adam terdiam.


Laura memejamkan mata, menyesap hawa dingin di pagi yang mendung ini. "Lalu aku tiba-tiba mendapati kalau aku hamil lagi. Pak Adam pikir itu mudah?"


Adam tidak bisa berbuat banyak.


"Kata-kata Pak Adam waktu itu saja masih membekas di dalam hatiku, bagaimana bisa Pak Adam datang kembali dan bersikap seolah tidak ada apa-apa diantara kita?" Laura memicingkan mata. "Pak Adam menganggap aku ini apa?"


Adam hendak meraih bahu Laura, tetapi gadis itu menghindarinya.


"Tolong baikan aku berpikir ini matang-matang dulu!" tandas Laura dengan tegas. "Hamil tidak mudah bagiku."


"Laura, aku bukannya mau memaksa kamu ...."


"Aku juga tidak butuh tanggung jawab dari Pak Adam." Laura menyela lagi. "Pak Adam sejauh ini selalu saja plin-plian!"


Adam mengerutkan kening.


"Pak Adam benar-benar menganggap remeh perasaanku. Pak Adam mengajariku tentang ketulusan, tetapi Pak Adam tidak menerapkan itu sendiri pada diri Pak Adam sendiri." Laura terus memojokan pria ini. Entah mengapa, semakin banyak dia melontarkan hinaan dan kata-kata kasar untuk Adam, malah hatinya sendiri yang terluka.


Adam menunduk. Laura mengenai hatinya.


"Jadi, kalau Pak Adam datang hanya karena rasa ingin tanggung jawab ... aku tidak butuh itu." Laura menegaskan lagi. "Ini tubuhku! Ini anakku! Ini rahimku!" Terus menerus Laura memberi tembakan lewat kata-katanya. "Jadi ... biarkan aku yang memutuskan!"


Laura tidak memberi kesempatan pada Adam untuk berbicara, dia pergi begitu saja. Adam pun hanya bisa menatap kepergian Laura. Semua yang dikatakan oleh gadis itu, membuat semangatnya hilang begitu saja.

__ADS_1


Next.


__ADS_2