
Laura tidak menyangka jika dia akan terjebak dalam situasi seperti ini. Kegigihannya untuk tetap bertahan tanpa Adam mungkin akan segera runtuh. Namun, Laura juga tidak mau menyerahkan dirinya begitu saja setelah harga dirinya dijatuhkan oleh lelaki itu. Dia hanya ingin membuat Adam mengemis di depannya.
"Kenapa tidak di makan?"
Laura dikejutkan dengan suara seorang perempuan yang datang dari balik punggungnya. Sebenarnya bukan hal yang aneh ketika dia bertemu dengan Nurwa di tempat ini. Lagian, taman kota bisa didatangi oleh siapa pun. Hanya saja, waktunya tidak tepat.
Nurwa duduk di samping Laura. Sedikit berjarak, takut kalau sama-sama tidak nyaman.
"Aku baru pulang dari kantorku." Nurwa tiba-tiba berbicara tanpa Laura memintanya. Nurwa menoleh pada Laura. "Hari Sabtu sekolah libur 'kan?"
Laura tidak mau menjawab. Dia terus diam, sembari memandang orang-orang berlalu-lalang di depannya. Hanya ada satu yang terbesit di dalam benaknya, Apakah hanya dia yang sedang merasakan kesedihan yang luar biasa sekarang? Orang-orang di depannya begitu menikmati sore mereka.
"Laura."
"Kenapa kamu nggak langsung pergi aja?" Laura menoleh pada wanita di sampingnya. "Aku tahu kalau ini tempat umum, tetapi kamu tidak bisa membaca situasi sekarang?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri. "Raut wajahku terlihat senang melihatmu di sini?"
Nurwa juga tidak menyukai Laura. Sejak kali pertemuan mereka sampai sekarang, tidak ada hal baik untuk dikenang.
"Aku hanya duduk di sini. Abaikan saja." Nurwa seakan pasrah dengan ketusnya Laura sore ini.
Laura hendak memprotesnya. Namun, Nurwa menyela lagi. "Ini adalah bangku taman. Bukan punyanya kamu atau mendiang orang tua kamu, bukan?" tanyanya. "Itu artinya semua orang boleh duduk di sini, Laura."
Laura menyerah. Dia akan terlihat egois jika mengusir Nurwa pergi. Orang-orang di sekitarnya tidak akan peduli tentang permasalahan mereka, siapa yang salah dan siapa yang benar sebelumnya. Mereka hanya peduli tentang gadis muda yang kurang ajar pada perempuan yang jauh lebih tua darinya.
"Kalau begitu aku yang pergi," jawab Laura pada akhirnya. Dia hendak bangun, tetapi Nurwa berbicara lagi.
Cobaan tidak berhenti untuk Laura.
"Adam memutuskan pernikahan kita," ucapnya pada Laura. Dia sukses membuat gadis itu menatapnya.
Laura menyunggingkan senyum. "Salahku?" Dia menunjuk dirinya sendiri. "Katakan di mana kesalahanku?"
"Tidak ada." Nurwa ikut berdiri. Menatapnya dengan intens. "Semuanya salah Adam."
__ADS_1
Laura tertawa renyah. "Bisa-bisanya kamu melempar kesalahan pada orang lain, jelas-jelas kamu yang mendesak dia untuk menikah denganmu tanpa cinta!"
"Salah Adam karena menghentikan pernikahan kita hanya untuk memperjuangkan gadis sepertimu." Nurwa melanjutkan kalimat.
Laura mengerutkan kening.
"Kamu belum paham apa yang aku maksudkan?" Nurwa semakin tegas. "Kamu memang tidak mengenal siapa itu Adam Dhanurendra! Kamu bertingkah seolah kamu paling mengenalnya."
"Kamu membanggakan posisimu sebagai teman kecilnya?" Laura kembali menyeringai. "Kalau begitu perjuangkan dia! Buat dia bertekuk lutut di hadapanmu lagi."
Laura melipat tangannya, bersedekap layaknya bos. "Kenapa malah mendatangiku dan merengek seperti bayi?"
"Apa gunanya aku memaksa Adam kalau dia tetap ingin bersamamu?" Nurwa hanya ingin Laura tahu, dia tidak seharusnya menyia-nyiakan Adam hanya karena keegoisannya.
Laura membentak. "Aku bertanya sekali lagi padamu, itu salahku?"
"Kamu bodoh, Laura!" Nurwa mulai geram. "Apa kurangnya seorang Adam bagimu? Kamu meminta pria kaya menikahimu layaknya seperti putri salju yang dibangunkan dari tidurnya?"
Laura terdiam seribu bahasa. Orang-orang di sekitarnya hanya memberikan tempat untuk menyanjung seorang Adam. Tidak ada satu pun yang membanggakan Laura di sini.
Laura memalingkan wajahnya. Dia memang salah, tetapi keegoisannya dipelihara lebih baik.
"Laura!"
"Aku bertanya apa itu keinginanku?" Laura menyela. Dia membentak Nurwa. "Menurutmu itu yang aku inginkan?"
"Pak Adam yang memaksa menikahiku dulu! Aku jelas-jelas menolak dan aku tidak membutuhkannya, tapi dia memaksaku." Laura mengintimidasi dengan pandangan matanya. "Semuanya terjadi begitu saja, semua berawal dari sana."
"Rinjani meneleponku baru saja," sahut Nurwa. "Dia bilang kalau Adam membentak ibunya untuk pertama kalinya. Dia bilang bahwa Adam keluar dari rumah secara tidak baik untuk pertama kalinya, Laura!"
Setiap kata yang terucap dari mulut Nurwa, hanya dipenuhi dengan kekecewaan. Hanya Laura yang tidak tahu betapa berharganya hubungan Adam dengan Wanda. Mungkin itulah yang ingin disampaikan Nurwa sore ini.
"Itu salahku?" Laura terus mengulang pertanyaan yang sama. Pada faktanya memang dia tidak punya sesuatu untuk membela dirinya sendiri. Laura hanya bergerak atas egonya sendiri.
__ADS_1
"Bukan salahmu!" Nurwa berteriak. Dia tidak peduli orang-orang di sekitarnya akan memandang dirinya aneh. "Itu salah Adam! Aku bilang itu salah Adam!"
"Lalu kenapa kamu mendatangiku?" Laura menyahut. "Datangi Pak Adam! Katakan semua ini padanya! Katakan kalau dia tidak seharusnya mencintai dan memperjuangkan aku!"
"Kamu egois Laura!"
"Aku tidak egois!" Laura membentak juga. Air matanya menetes dalam kemarahan. "Dia mengatakan hubungan kita hanya kesalahan! Dia bilang aku adalah kesalahan satu malam untuknya!"
Nurwa diam.
"Bukan hanya kamu yang datang dan menyalahkan aku begini, tetapi wanita itu juga," ucap Laura ketus. "Memang sudah seharusnya dia dibentak seperti itu, Nurwa!"
"Jaga bicara kamu, Laura!" Nurwa masih dengan kemarahan yang sama. "Kamu memang tidak tahu apa pun tentang keluarga itu! Kamu tidak berhak berkata seperti itu!"
"Kamu juga tidak tahu apa pun tentang aku!" teriak Laura marah. Emosinya tidak kunjung mereda.
"Kamu hanya gadis manja yang tidak pernah bisa dewasa! Bagimu kamu adalah korban yang paling tersiksa di dunia ini, bukan!"
"Katakan pada Pak Adam!" Laura membentak terus menerus. "Katakan padanya untuk kembali pada Bu Wanda dan berhenti mengganggu hidupku!"
"Kamu yang merusak hubungan ibu dan anak itu jadi kamu yang harus menyelesaikannya!" balas Nurwa. "Kamu takut?"
"Aku tidak akan bicara dengannya lagi!" Laura tersenyum gila. "Katakan padanya juga kalau tidak perlu menemuiku lagi! Aku akan menggugurkannya!"
Nurwa terkejut. Dia menatap perut Laura. "Apa yang ...." Dia tiba-tiba melirih.
"Benar! Aku hamil anak Pak Adam!" Laura masih dengan emosi yang sama, tetapi tidak untuk Nurwa. Dia menatap perut Laura dengan tenaga yang mulai hilang.
Kecewa? Pastinya. Dia mencintai Adam, sampai detik ini. Detik di mana Nurwa ditampar fakta bahwa Adam tidak akan pernah bisa dia miliki.
"Katakan padanya ...." Laura mengimbuhkan lagi. "Tidak perlu berpikir keras bagaimana caranya bertanggung jawab atas anak ini!"
Laura memandang Nurwa yang juga itu memandangnya. Nurwa terdiam tanda kalah berbicara.
__ADS_1
"Katakan pada laki-laki brengsek itu, aku akan menggugurkan kandungan ini!" pungkas Laura. Dia pergi meninggalkan Nurwa kemudian.
Next