
"Kamu bisa mulai kerja besok." Kalimat itu membuat Laura tersenyum sumringah. "Jangan telat di hari pertama kerja, ya? Nanti kamu kena omel sama supervisor."
Laura mengangguk. Dia menatap Belen yang juga tersenyum bahagia untuk dirinya.
"Kalau begitu kita permisi dulu." Belen mewakili Laura. Mereka keluar dari ruko setelahnya.
Laura lebih lega dari sebelumnya. Dia bahkan tidak tahu caranya untuk melamar pekerjaan, tetapi Belen benar-benar membantunya.
"Thanks, Belen." Laura memandangnya. "Kalau nggak ada kamu, aku nggak akan diterima kerja secepat ini. Aku berhutang budi sama kamu jadi ini."
Belen menggelengkan kepala. "Sudah sewajarnya. Aku ini teman kamu."
"Sekarang mau ke mana?" tanya Laura. Dia tidak punya tujuan. Pulang ke rumah juga tidak senyaman dulu lagi. Nia pasti mengomeli dirinya. Perempuan itu membencinya sampai ke akar-akarnya.
Belen menaikkan bahu. "Aku harus pergi kerja sekarang, Ra. Kamu bisa pulang sendiri kan? Kamu tahu jalannya kalau dari sini kan?"
Laura terpaksa menganggukkan kepalanya. Dia juga tidak bisa memaksa Belen untuk menemaninya hari ini. Laura sudah bisa merasakan seperti apa rasanya tidak punya uang.
"Kalau begitu aku pulang dulu," ucap Laura tiba-tiba. Nada bicaranya mengisyaratkan kegelisahan. Laura tidak suka suasana rumah.
Belen bisa mengerti itu. Bahkan, tanpa Laura berbicara dan mengaku. "Ada yang salah di rumah tante kamu?" tanyanya. Dia meneliti raut wajah Laura.
"Kalau ada apa-apa kamu harus langsung cerita sama aku. Berhenti untuk membohongi diriku, Ra." Belen memprotes. "Kita ini sudah berteman sejak lama, seharusnya kamu lebih terbuka."
"Aku tidak suka tinggal sama tanteku," ucap Laura. "Aku tidak nyaman. Anaknya tanteku, membenciku." Laura menandaskan. "Aku tidak betah dengan omelan dia."
Belen tersenyum tipis. "Memangnya kamu melakukan kesalahan?" tanya Belen. "Kalau iya, pantas jika kamu dimarahi."
__ADS_1
Laura mendesah panjang. "Dia membenciku sejak awal. "
Laura memandang langit yang ada di atasnya. Sedikit mendung, mungkin hujan akan turun jika dia tak salah kira.
"Aku rindu papa dan mama." Laura menghela nafas panjang. Ditatapnya kembali suasana kota yang ramai sore ini.
Kehidupan Laura berubah drastis. Dia bahkan harus belajar untuk menghemat uangnya mulai saat ini. Sebelumnya Laura adalah putri raja yang bisa mendapatkan semua hanya dalam jentikan jari. Sekarang, mau makan enak saja dia harus berpikir dua kali.
"Laura?" Seseorang memanggil namanya.
Laura dan Belen menoleh secara bersamaan. Seorang gadis keluar dari toko kue. Kebetulan yang tidak terduga. Laura tak menyangka akan bertemu dengan Kirana lagi.
Kirana mendekatinya. "Kebetulan kita bertemu di sini. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Dia tersenyum aneh pada Laura, sedangkan Laura memicingkan mata heran.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Kirana. Gadis itu menoleh pada Belen. "Namun, hanya kita berdua saja. Aku tidak mau ada orang lain."
Belen menyungging senyum. "Kalian berdua mirip agen rahasia."
Laura tersenyum tipis. "Kamu bisa langsung bicara di sini. Tidak apa-apa kalau dia mendengarkan kita."
Kirana tidak mau menuruti Laura. Dia hanya terdiam di tempatnya, memandangi gadis asing yang ada di samping Laura. Kirana berharap penuh Belen mau memahami situasi.
Belen mendesah panjang. "Oke! Aku pamit dulu!" Dia sedikit kesal. "Aku juga harus pergi kerja," tuturnya lagi.
"Kita bertemu besok Senin di sekolah, Ra," ucap Belen dengan mantap. Dia menepuk pundak, tersenyum seadanya, dan meninggalkan sahabatnya itu pergi.
Sekarang hanya tinggal Laura dan Kirana saja.
__ADS_1
"Sekarang katakan padaku, kamu mau ngomong apa?" Laura sedikit mendesak. "Aku tidak punya banyak waktu. Aku tidak boleh pulang terlambat." Gadis itu berdusta.
Kirana menghela napas panjang. "Bisa kita bicara di tempat yang lebih nyaman? Aku rasa akan lebih enak kalau kita bisa mencari tempat yang sepi."
Laura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak punya urusan sama kamu. Aku sudah berjanji akan menghindari semua orang yang berhubungan dengan Daffa, termasuk kamu."
Dari cara Laura berbicara, hubungan gadis ini dengan Daffa pasti sedang tidak baik-baik saja. Ingin rasanya bertanya, tetapi itu bukan urusan Kirana.
"Ini tentang Pak Adam," ucap Kirana lagi. "Aku ingin ...."
"Kalau bayaran kamu kurang dan kamu akan jujur pada Pak Adam, kamu bisa meminta tambahan uangnya dan memeras Daffa, bukan aku." Laura ketus. "Kita sama sekali tidak ada hubungan apapun, Kirana."
Laura mendengus kesal. "Jadi jangan coba-coba menggunakan itu untuk memerasku. Kamu bisa makan itu pada Dafa, aku tidak peduli."
Laura hendak berpaling dari hadapan Kirana. Namun, gadis itu mencegahnya.
"Pak Adam sudah tahu," ucap Kirana dengan mantap. Kalimat itu membuat Laura menoleh padanya.
Laura memicingkan mata. Dia menatap Kirana penuh kecurigaan. "Apa maksudmu? Kamu mendatangi dia dan mengatakan yang sebenarnya?"
Kirana mendekatinya dan tersenyum miring. "Sudah aku bilang, kita perlu berbicara." Kirana enggan menjawabnya begitu saja. "Kamu yang pilih tempatnya. Aku yakin informasi menarik untuk didengar, Laura."
Laura tertawa mendengarnya. "Aku tidak peduli lagi dengan mereka. Kamu mendatangi orang yang salah jika kamu mau memeras uang."
"Dengarkan dulu, baru memutuskan untuk peduli atau tidak," jawab Kirana. "Tidak akan lama. Aku juga sedang sibuk," katanya subari memamerkan kue dalam kantong plastik.
Laura mendesah panjang. "Memangnya apa yang aku dapat dari mendengarkan kamu, huh?"
__ADS_1
"Penyesalan." Kirana menjawab mantap. Senyumnya jelas menghina Laura saat ini.
Next.