
Laura duduk di depan Rey. Gadis itu berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya, juga rasa bersalah di dalam dirinya.
Laura menunduk, tidak sanggup bertatap mata dengan Rey. "Seharusnya aku tidak membawanya datang ke tempat kita. Maka, semua permasalahannya tidak akan pernah terjadi."
Rey tersenyum tipis mendengar kalimat Laura. Kalau ditanya marah atau tidak, tentu saja semua orang yang kehilangan akan merasa marah dan kecewa. Kesedihan juga datang padanya hari ini.
"Kamu tidak salah." Rey berusaha bijak. "Ini semua di luar kendalimu."
Laura perlahan-lahan menatap Rey. "Mas Rey jadi begini," kata Laura dengan tetesan air mata membasahi pipinya. "Mas Rey dipenjara dan ...." Dia tidak sanggup berbicara lagi.
Laura mengusap air matanya. "Maaf karena aku tidak bisa membantu."
Rey manggut-manggut. "Hanya untuk beberapa bulan," katanya. "Setelah itu aku bebas."
"Berdoa saja semoga hakim tidak menjatuhi hukuman berat dan denda yang banyak, kita sama-sama berdoa untuk itu." Rey berusaha menenangkan Laura. "Kamu tidak boleh menangis di depanku."
Laura memandang wajahnya. Rey sudah seperti kakak laki-laki untuknya sendiri. Laura mendapatkan banyak bantuan darinya. Bahkan ketika Laura bertengkar dengan papa mamanya dan dia memutuskan untuk pergi dari rumah, pria inilah yang memberikan tempat tinggal untuknya.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak menyeret namamu, tetapi dengan balasan mungkin kamu juga akan kehilangan beberapa uang yang kamu tanamkan di bangunan itu, Ra." Rey menggenggam tangan Laura. "Atau sama sekali kamu tidak bisa mendapatkan modalmu kembali."
Rey menghela napasnya pasrah. "Aku harus berusaha menutupi kerugian, jadi aku harap kamu mau mengerti."
Laura tidak mau munafik, tentu saja dia membutuhkan uangnya kembali. Jika diperhitungkan semuanya, mungkin Laura bisa membeli satu mobil bekas dengan uang itu.
Sayangnya, Laura tidak bisa egois saat ini. Kekacauan ini juga disebabkan oleh dirinya sendiri. Seharusnya malam itu dia tidak pernah membawa Adam datang.
"Mas Rey tidak usah memusingkan itu." Laura berdusta, dia berusaha menutupi kesedihannya akan kehilangan uang sebanyak itu. "Aku ini anaknya orang kaya, jadi uang segitu tidak ada artinya bagiku."
__ADS_1
Laura berusaha tertawa, meskipun hatinya terombang-ambing tak karuan saat ini.
Rey melepaskan genggaman tangannya. "Kamu jangan berbohong padaku, Ra."
Laura mengerutkan dahinya. "Aku tidak pernah berbohong," katanya. "Kebohongan apa yang aku katakan?"
"Kamu bukan lagi anaknya orang kaya," jawab Rey.
Laura membisu kemudian. Jawaban Rey membuatnya terkejut. "Mas Rey ta--tahu dari mana?"
"Perusahaan papa kamu sudah dialihkan ke orang lain, rumah kamu dijual, kemarin Agnes bilang mengantarkan kamu pulang ke perumahan biasa." Rey merunut semua yang dia ketahui tentang Laura tanpa gadis itu sadari.
Rey tersenyum tipis. "Aku juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha setidaknya memberikan 50% dari modal yang pernah kamu berikan padaku."
"Mas Rey meremehkan aku?" Laura paling tidak suka jika dirinya dikasihani. "Aku tidak semiskin itu."
"Mereka juga pasti sedang berjuang untuk mencari ganti modal mendirikan perusahaan yang baru bukan?" tanya Rey. Lelaki itu meraih tangannya lagi. "Aku sudah menduga kamu akan tetap baik-baik saja."
"Akan tetapi aku akan tetap berusaha untuk mengembalikan uangmu, Ra." Rey bersikeras. "Karena itu memang tanggung jawabku dan perjanjian kita sejak awal."
Rey memang tidak tahu apapun tentang Laura. Papa dan mamanya tidak sedang mencari pekerjaan baru untuk menghidupinya, tetapi Laura lah yang berjuang untuk dirinya sendiri.
"Terserah Mas Rey saja," jawab Laura menyerah. "Aku tunggu kabar baiknya."
Laura mengemasi barang-barang. "Aku harus kembali ke SPACE'S. Teman-teman pasti menungguku."
Rey manggut-manggut. "Sampaikan salamku dan katakan pada mereka aku baik-baik saja."
__ADS_1
Laura manggut-manggut. "Tentu" Dia berpamitan setelahnya.
>>>><<<<
"Sudah selesai menemui temanmu?" Daffa menghentikan langkah kaki Laura.
Laura menoleh. Ditatapnya Daffa yang masih setia menunggunya.
Daffa tersenyum simpul. "Harimu pasti berat kan?" tanya Daffa.
Laura mengangguk ragu. "Makasih sudah mengantarkan aku kemari." Laura tersenyum seadanya. "Kamu bisa pulang."
"Aku ingin menemani kamu!" Daffa menarik tangan Laura lagi. "Seharian ini," ucapnya.
Laura enggan berdebat. Dia sudah kehilangan banyak tenaga, mungkin Daffa bisa menjadi pemulihnya.
"Kamu mau ke mana? Biar aku antar." Daffa berusaha baik, mencuri kembali hati Laura yang kecewa.
"Menemui teman-teman di SPACE'S." Laura menjawab tegas. "Aku harus bicara sama mereka, aku harus bertanggung jawab."
"Biar aku yang antar," ucap Daffa dengan mantap. Dia menggandeng tangan Laura. "Kita pergi sekarang."
Next.
Note :
Rekomendasi novel keren lainnya untuk kalian, Xoxo. Happy reading.
__ADS_1