Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
27. Baju Suamiku


__ADS_3

Adam memandang Laura dengan sinar mata penuh amarah. Tidak ada lagi kata lunak untuk gadis keras kepala ini.


"Kamu itu istriku, Ra." Adam mencoba memahami Laura. Gadis itu terkejut ketika dia membentaknya tadi. "Bagiamana bisa kamu meminta mantan kekasihmu untuk datang sedangkan aku ada di depanmu?"


Laura menatap Adam. Tidak peduli sebanyak apapun langit menghujani dirinya, Laura mengabaikan rasa dingin yang menggigit itu.


"Siapa yang minta Pak Adam datang ke sini?" Laura masih keras kepala. "Aku tidak pernah memintanya!"


"Lalu kamu yang aku diam saja?" tanya Adam, sebenarnya dia hampir menyerah untuk membuat Laura tetap menggenggam pernikahan ini.


Sayang sekali, Adam masih punya hati nurani.


Laura kembali diam. Hujan malam ini menutup air matanya. Kesedihan bisa dia sembunyikan di balik hujan itu.


"Laura," panggil Adam dengan lirih. "Mari buat perjanjian." Pada akhirnya, inilah jalan alternatif yang Adam punya.


Adam mendekatinya perlahan-lahan, takut Laura tak nyaman. Dia mulai meraih bahu Laura dan menggenggamnya.


"Sampai anak ini lahir." Dia pada poin utama. "Sampai anak ini lahir, kita bisa bercerai."


"Kamu bisa pergi dari aku dan aku janji aku tidak akan pernah mengganggu kamu lagi," imbuh Adam. Lelaki itu membujuk bagaimana pun caranya.


Laura menggelengkan kepalanya.


"Jika tidak mau, apa yang kamu inginkan dengan hidup bersama Daffa?" Adam berusaha menyadarkan. "Kalian hanya akan menjadi parasit satu sama lain."


Aliran air mata Laura semakin deras. Isak tangis tak bisa disembunyikan.


"Aku tidak akan membebani kamu," tutur Adam lembut. "Aku tidak akan membatasi kamu dan kamu masih bisa menjadi Laura yang biasanya."


Adam menatap Laura, seakan tahu, dia mengusap air matanya. "Berhenti menangis dan mari kembali pada dunia nyata yang hampir kamu tinggalkan."


"Besok kamu akan kembali ke sekolah, seperti biasanya." Adam berusaha membujuk Laura sebisanya. "Tidak ada yang berubah."


Laura seakan dihipnotis dengan kata-katanya, keras kepalanya menguap bersama dingin malam yang menggigit.

__ADS_1


Adam menarik tubuh Laura dan memeluknya, meskipun dia tidak bisa memberikan kehangatan. Tubuh jangkung dan kekarnya pun tidak kalah dilahap habis oleh hujan malam ini.


>>>><<<<


Rumah Adam.


Perjalanan cukup jauh membawa Laura dalam sebuah tempat yang sedikit hangat. Atap ruangan dengan satu lampu gantung cukup besar melindungi dia dari hujan yang semakin menggila.


Adam masuk lebih dulu, sepertinya mengambil sesuatu untuk Laura yang masih celingukan layaknya itik kehilangan arah.


Tak berselang lama, Adam kembali datang membawa handuk untuk Laura.


"Keringkan dulu badan kamu. Aku merasakan mie rebus untuk menghangatkan tubuhmu." Adam tersenyum seadanya sembari menyodorkan handuk pada Laura.


Laura bergeming, seakan berpikir sesuatu.


"Oh, iya." Adam menyadarinya. "Ini handuk baru. Aku punya beberapa memang."


Mendengar penjelasan itu, Laura lega. Dia meraih pemberian Adam.


Laura meninggalkan Adam, bersusah payah menarik koper miliknya setelah mengetahui di mana dia akan tidur.


Adam tersenyum tipis, paling tidak dia bisa membawa Laura tanpa paksaan.


Laura membuka pintu kamar ruang tamu. Rumah ini tidak terlalu luas, seperti yang dikatakan oleh Adam sebelumnya. Hanya butuh waktu beberapa detik Laura bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sangat berbeda dari rumah mewahnya.


"Ah, aku berakhir di tempat ini?" gumam Laura.


Sekarang Laura memandang dirinya sendiri dari pantulan cermin di depan. "Aku kacau sekali." Ujung rambut yang masih basah, meneteskan air hujan di sisi kaki jenjangnya.


Laura menatap perutnya sendiri. Dia hampir lupa kalau ada kehidupan di dalam sana. Mungkin Adam ada benarnya, ketimbang keras kepala menolak apa yang sudah terjadi lebih baik Laura mencari jalan keluarnya.


"Aku harus mandi." Laura beranjak dari tempatnya, mulai mengambil pakaian yang diharapakan masih kering tak terkena hujan.


Laura membuka kopernya. Salah satu celah kecil menjadi fokus perhatiannya saat ini.

__ADS_1


"Koperku rusak?" gumam Laura mulai panik. "Aku membelinya di London!" Dia menggerutu hebat. Pakaian yang ada di dalam koper terasa dingin dan beberapa basah oleh air hujan.


"Ck, rentenir sialan itu!" Laura yakin mereka adalah pelakunya. Kopernya sudah tergeletak di depan pintu dalam keadaan begini. Hanya saja, Laura terlambat menyadari.


Laura mengobrak-abrik pakaian di dalam kopernya, mengeluarkan ke atas ranjang.


"Tidak ada yang kering?" Laura monolog. Dia mengusap wajahnya frustasi. "Sekarang bagaimana? Aku gak bisa tidur dengan pakaian basah begini?"


"Ada masalah?" Adam tiba-tiba datang. Mengejutkan Laura.


Laura berbalik, menyembunyikan kekacauan di atas ranjang. Dia menggelengkan kepalanya. "En--enggak."


"Sepertinya kamu cari sesuatu," tukas Adam.


Laura diam tak menjawab.


"Oh, pintunya kebuka jadi aku pikir kamu butuh bantuan. Aku tadi mau ambil gunting," kata Adam menjelaskan singkat, takut Laura salah paham.


Laura manggut-manggut tak yakin. "Pak Adam ... bisa pergi," balas Laura terbata-bata.


Namun, ada mendeteksi ada sesuatu yang disembunyikan Laura. "Ada masalah?"


"Aku bilang ngga ada," jawab Laura mulai ketus.


Adam keras kepala, dia menerobos masuk ke dalam kamar. Mendekati Laura yang berusaha menyembunyikan pakaian di balik punggungnya.


"Pakaian kamu basah semua?" tanya Adam. Dia menyentuh beberapa pakaian Laura. "Sebagian hanya dingin."


"Pak Adam tidak perlu khawatir." Laura mendorong tubuh Adam. "Aku terbiasa pakai pakaian dingin. Jadi—"


"Mau aku pinjamkan bajuku?" tanya Adam tiba-tiba. "Kamu bisa datang ke kamar jika mau."


Adam berpaling setelah menyelesaikan kalimatnya. Tak menunggu persetujuan dari Laura, dia pergi begitu saja.


Next.

__ADS_1


__ADS_2