Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
87| Rumah Hantu


__ADS_3

"Ini rumah?" Laura bergumam di tempatnya. Dia melepaskan koper dari genggamannya. Laura tak bisa berhenti waspada, keadaan sekitarnya lebih mirip rumah hantu.


Laura menghela napas panjang. "Aku tidak tahu, aku harus mulai dari mana?" Dia mengeluh. "Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri."


Laura mulai mendekati sofa besar yang ditutupi kain putih di tengah ruangan. Dia membukanya. Debu berterbangan, sukses membuat Laura bersin-bersin.


"Ck," decaknya kasar. Dia menutup hidung, melangkah mundur jauh. Aroma tak sedap mulai membuat perutnya mual.


Laura hendak berjalan, tetapi dia dikejutkan dengan tikus yang muncul dari kolong meja. Ukurannya besar, sedikit menjijikan.


"Tikus setan!" gerutu Laura. Dia melompat, mencoba untuk menghindarinya. Tidak berhenti sampai di sana. Saat Laura menginjak salah satu bantal di atas lantai, kecoa muncul dari dalam lubangnya.


Laura kalang kabut. Sebisanya dia mengusir kecoa itu pergi dari hadapannya.


"Sialan," gumam Laura. Dia berjongkok di tempatnya, mengusap dadanya kemudian.


Laura mulai merasakan pedih di kelopak matanya. "Kenapa aku bisa berakhir di sini?" Laura mendesah lagi. "Inikah akhir hidupku?"


Laura meneteskan air matanya. Rasa sesak begitu nyata di dalam dadanya. Dia tidak seharusnya menahan isak tangis, tetapi Laura tidak terbiasa menangis dengan suara keras. Meskipun dia ingin sekali melakukan hal itu. Laura ingin melegakan hatinya.


Di tengah isak tangisnya, Laura mulai mendengar suara langkah kaki seseorang mendekatinya. Namun, Laura enggan menggubrisnya. Dia muak.


"Laura?" Suaranya lembut memanggil Laura.


Bukannya menoleh, isak tangis gadis itu menjadi-jadi. "Aku ... hiks—" Laura menyela tangisnya sendiri. "Aku bahkan mendengar malaikat maut memanggil namaku!"


Laura merengek-rengek lagi. Dia kembali menangis sembari membenamkan wajahnya di sela lututnya.


Adam adalah orang yang ada di belakangnya. Dia tersenyum tipis mendapati tingkah lucu Laura hari ini. Adam langsung berlari ke sini, meskipun jaraknya sangat jauh dari mal, tempat dia berada tadi.


"Laura." Adam kembali memanggilnya. Dia menyentuh pundak Laura. "Ini aku, Adam."


Laura langsung mendongak. Dia memutar tubuhnya, menatap kedatangan Adam. Lebih tepatnya, Laura memastikan jika itu benar-benar Adam. Bukan hanya sekadar halusinasinya saja.


"Ini benar Pak Adam?" Laura mengusap air matanya dengan kasar. Ditatapnya Adam sayup-sayup. "Aku enggak sedang berhalusinasi?"


Adam tertawa kecil. Dia menggelengkan kepalanya. Adam meraih tangan Laura, membuat gadis itu menyentuh dadanya. "Kamu boleh memukulku untuk memastikan ini aku benar atau tidak."

__ADS_1


Laura terdiam.


"Ini benar aku," ucap Adam pada akhirnya. "Tante Danira bilang kalau kamu ...."


Adam belum selesai berbicara, tetapi Laura menghentikannya dengan memeluk Adam secara tiba-tiba. Sebenarnya, ini adalah kali pertama mereka berpelukan secara sadar.


"Aku takut sekali," gumam Laura. Dia kembali menangis. "Untung Pak Adam datang ... hiks—"


Adam mengusap puncak kepalanya. Dia manggut-manggut ringan. "Hm, aku tahu."


"Kenapa ini terjadi sama aku?" Laura merengek di tengah isak tangisnya. "Aku ... aku enggak bisa melewati semuanya lagi, Pak Adam."


Adam manggut-manggut. Seakan dia bisa merasakan kesedihan Laura, matanya mulai merasa pedih. Air mata tertahan sebab dia keras kepala untuk tidak menangis kali ini.


"Kamu boleh menangis sepuasnya, Laura," bisik Adam lagi. "Kamu juga boleh mengeluh."


Adam memang tak salah. Dari awal dia hanya ingin membebaskan Laura saja dari pernikahan mereka. Namun, entah mengapa, saat ini Adam begitu dungu. Rasa bersalah, seakan-akan dialah yang menyebabkan Laura hidup seperti ini mulai menghantui ketenangannya.


"Maafkan aku, Ra," ucap Adam menutup kalimatnya. "Maafin aku."


>>>><<<<


"Kita bisa membersihkannya besok pagi saja," kata Adam memulai pembicaraan. Dia tahu, Laura tidak akan mau membuka mulutnya terlebih dahulu.


"Malam ini, kita cari penginapan dulu buat kamu tidur." Adam menawarkannya. "Aku yang akan membayar biaya sewanya."


Laura malah tertawa kecil. "Sekarang aku jadi tahu rasanya," gumam Laura.


Adam menoleh. Dia menatapnya penuh tanya.


"Rasanya dikasihani." Laura menoleh pada Adam. "Ternyata begini rasanya."


Adam ikut tersenyum tipis. "Memangnya bagaimana rasanya?"


"Memuakkan," ucap Laura. "Aku benci orang-orang iba padaku."


Adam menghela napas. "Laura, kamu harus menurunkan gengsi itu." Dia mencoba memberi pengertian pada Laura. "Keadaan sudah beberapa, Laura. Kamu harus belajar menerima."

__ADS_1


"Aku penasaran satu hal," balas Laura. Dia menatap langit gelap di atasnya. Udara dingin, gerimis pasti akan datang. "Mama dan papa pasti sedang tidur nyaman di atas sana. Mungkin tertawa melihat aku begini."


"Laura?" Adam langsung menyahut. "Kamu tidak boleh bilang begitu."


Laura menatap Adam. "Mereka itu pengecut," ucap Laura. "Terutama mama."


"Laura!" Adam sedikit membentak. "Kali ini aku tidak setuju dengan ucapanmu."


"Mama kabur begitu saja setelah meninggalkan banyak masalah dan membuangku begitu saja!" Laura kembali meneteskan air mata. Padahal tadi, dia cukup tenang.


Laura mengusap tetesan air matanya. "Aku pontang-panting ke sana kemari, tetapi mereka?"


Adam hampir menyela. Namun, Laura menambah lagi. "Mereka menyaksikan semuanya dan tidak berbuat apapun!" Dia membentak Adam.


"Hentikan, Laura," gumam Adam.


"Aku menyumpahi mereka berdua!" Laura menandaskan. "Jika mereka terlahir kembali, mereka akan berumur panjang. Namun, dalam umur panjang itu ... mereka akan menderita, tidak pernah bahagia!"


"Laura!" Adam benar-benar membentaknya. Dia berdiri, memandang Laura dengan marah. "Kamu masih belum paham juga?"


"Pak Adam yang tidak paham!" Laura ketus. "Pak Adam hanya berceramah ini itu, tetapi tidak bisa merasakan penderitaanku dan tidak bisa membantuku!"


Adam mengusap wajah, frustasi. "Aku akan membantumu! Namun, kamu tidak boleh bilang begitu sama mendiang orang tuamu!"


"Kalau begitu bantu aku bebas dari keadaan ini!" ketus Laura. Dia bersunggut-sunggut.


Adam manggut-manggut. "Aku akan membantumu. Aku akan membuatmu bebas! Aku yakin dengan hal itu!"


"Kita pikirkan caranya sama-sama!" ucap Adam lagi.


"Nikahi aku lagi!" jawab Laura tiba-tiba. Adam langsung terdiam. Memandang Laura tak percaya.


"Kenapa diam saja?" Laura mendekatinya. "Katanya Pak Adam akan membantuku."


"Laura, bukan begini caranya." Adam melirih. Dia memandang tempat lain.


Laura menyeringai. "Tidak bisa? Maka pergi dari sini!" Laura berpaling. Dia pergi meninggalkan Adam kemudian.

__ADS_1


Next.


__ADS_2