Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
105. Tolong Jaga Laura, Adam.


__ADS_3

Laura memandang papan pengumuman di depannya. Sepasang matanya beberapa kali berkedip, memastikan kalau dia sedang tak salah baca.


"Sebentar lagi ujian?" Laura menghela napasnya panjang. "Itu artinya aku harus menambah waktu belajarku, padahal aku juga harus bekerja paruh waktu." Dia mendesis kemudian. "Ah, kenapa hidupku jadi begini?"


Laura mengacak-acak rambutnya. "Harusnya aku ikut mati saja!"


"Hush! Nggak boleh ngomong gitu!" Belen tiba-tiba berdiri di belakang Laura, menepuk pundak gadis itu dengan kasar.


Laura menoleh padanya. "Bisa tidak lain kali kalau datang tidak mengejutkan aku?" gerutunya. "Kamu ini kebiasaan lama-lama."


Belen hanya tertawa mendengar Laura mendengus kesal. Gadis itu ikut memandang papan pengumuman di depannya. "Setelah ujian, kita akan libur panjang sampai masuk kuliah lagi, bukan?"


"Aku nggak akan kuliah." Laura tiba-tiba menyahut. Tentu saja dia tidak perlu menjelaskan alasannya.


Dulu Laura punya banyak mimpi. Dia ingin jadi ini dan itu, terakhir mimpinya adalah sebagai dokter anak. Dia ingin dipandang hormat dengan pakaian jas putih yang membuatnya terlihat menawan. Namun, semesta mengubur mimpinya dalam-dalam. Sekarang Laura bisa apa?


"Kamu menyerah?" Belen memandang Laura dari atas sampai bawah, kembali pada sepasang manik mata Laura lagi. "Baru begini saja kamu sudah menyerah?"


"Baru begini?" Laura memprotes kalimat temannya itu. "Hidupku sudah begitu sulit. Ditambah lagi aku harus menanggung biaya masuk kampus, aku nggak bisa."


Laura bergidik ngeri sembari menggelengkan kepalanya. "Lebih baik aku cari pekerjaan dengan ijazah SMA. Ini aku juga cukup baik, masih ada tempat yang mau menerimaku."


Belen tertawa. "Kamu itu aneh," gumamnya. "Kenapa tidak menggunakan itu untuk cari beasiswa? Kamu pasti bisa mendapatkannya."


Laura melirik sahabatnya itu. "Aku berniat untuk kembali ke Malaysia. Ada saudara Papa yang di sana, aku berpikir untuk minta kerja sama dia nanti."


"Meninggalkan Jakarta?" Belen menyahut tegas. Ditatapnya Laura dalam diam. Gadis di depannya manggut-manggut, tak yakin. "Meninggalkan Pak Adam?"


"Kenapa tiba-tiba bahas dia?" Laura menggerutu. Dia berpaling dari hadapan Belen tiba-tiba. Apapun kondisinya, Laura akan menghindari pembahasan tentang Adam.

__ADS_1


Belen mengikuti langkah kakinya. "Kenapa tidak? Aku yakin kamu pasti merindukan dia," kekeh Laura.


"Berhenti untuk menggodaku." Laura ketus. Dia menghela napas kasar. "Aku tidak mau lagi mendengar pembahasan apapun tentang dia. Harusnya kamu sebagai temanku bisa memahaminya."


Gadis itu hanya memandang Laura yang terus menggerutu.


"Pak Adam segera menikah minggu depan." Laura mendesah ringan. "Aku tidak seharusnya mengganggunya lagi. Itu juga untuk kebaikan ku sendiri."


"Laura," panggil Belen. Suaranya terdengar begitu yakin. "Aku membaca maksud yang berbeda dari raut wajahmu sekarang. Tidak sesuai dengan kata-kata yang kamu lontarkan barusan," ucapnya.


Laura menggerutu. "Aku bilang berhenti," sambungnya. "Aku tidak mau membahasnya lagi. Aku benar-benar berniat untuk melupakan Pak Adam!"


Laura mempercepat langkah kakinya. Namun, Belen tidak akan melepaskan temannya itu. Dia menyamakan langka kakinya.


"Ngomong-ngomong, tadi pagi kamu bilang kalau kemarin kamu tertidur di halte bus dekat kantor polisi lalu kamu terbangun di rumahmu, kamu tidak berpikir kalau itu adalah ulahnya Pak Adam?" tanya Belen.


Laura tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Dia menyipitkan kedua matanya, siap-siap melontarkan umpatan pada temannya ini.


Laura terdiam. Logikanya tak sampai di sana. Dia hanya bersyukur kalau dirinya baik-baik saja kemarin.


"Kamu tidak merasa lelah karena berjalan selama itu, bukan?" tanyanya. Belen mendekati Laura. Matanya berusaha menggali isi kepala temannya itu. "Lihatlah, kamu juga berpikir hal yang sama denganku kan?" kekeh Belen puas.


>>>><<<<


Adam harus buru-buru keluar dari tempat kerjanya ketika mendapat pesan dari Danira. Wanita itu hanya mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan Adam, ada pembicaraan penting yang ingin dia katakan.


"Tante Danira?" Adam memanggilnya. Langkah kakinya jelas mendekati Danira. "Maaf menunggu lama. Aku harus menyelesaikan beberapa tugas dulu untuk anak-anak."


Danira tersenyum. "Aku yang seharusnya minta maaf karena mengganggu jam kerja kamu," jawabnya. "Aku juga ingin berterima kasih atas kebaikan kamu tadi pagi."

__ADS_1


Adam manggut-manggut. "Sama-sama, Tante Danira."


"Aku akan langsung pergi pada poin pembicaraan, Dam," tutur Danira lembut.


Adam menatap mobil yang tak jauh dari mereka. Itu adalah suami Tante Danira, ada putrinya juga.


"Tante mau pergi ke suatu tempat?" Adam berusaha menebak. "Jalan-jalan?" Adam berusaha mencairkan suasana agar menjadi lebih akrab, mengingat pertemuan terakhir mereka tidak baik.


Danira menghela napas. "Aku dan suamiku akan kembali ke kampung halaman. Tidak ada cara lain selain menjual rumah," ucapnya.


Adam langsung mengubah raut wajahnya. "Aku turut sedih, Tan."


"Adam. Aku datang ke sini bukan meminta doa darimu, tetapi aku ingin meminta tolong padamu." Danira meraih tangan Adam. "Ini tentang Laura."


Adam hampir berbicara, tetapi Danira menghentikannya.


"Aku tahu kalau kamu dan Laura sudah tidak bersama lagi. Kamu akan menikah," ucapnya. Danira menghela napas. "Namun, aku tidak tahu harus minta tolong sama siapa lagi."


"Faishal dan Desi memilih kamu untuk menjaga Laura. Mereka percaya kamu bisa menjaganya, maka begitu juga dengan aku," tutur Danira lagi.


"Tante, aku minta maaf. Aku tidak bisa ...."


"Adam. Aku mohon sama kamu." Danira memohon. "Jika aku harus berlutut sekarang, aku akan melakukannya."


"Aku akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu sama Laura karena aku tidak bisa menjaganya," imbuh Danira. Dia terus menerus meminta belas kasih. "Namun, di sisi lain aku harus mengikuti suamiku. Aku hanya seorang istri dan seorang ibu, aku harap kamu bisa memahamiku."


Adam menundukkan pandangan.


"Tolong jaga Laura, Dam." Danira memperkuat genggaman tangan. "Aku mohon."

__ADS_1


Next.


__ADS_2