
Bel sekolah berbunyi. Jam istirahat mengizinkan semuanya untuk sejenak melepas penat yang ada.
Laura mengikuti Belen. Tujuannya adalah kantin sekolah untuk mengisi perut mereka. Belakangan ini, Laura terus saja merasa lapar. Mungkin sebab janin di dalam perutnya mulai menagih makanan pada Laura.
"Aku penasaran, kemana Pak Adam?" Belen melirik Laura yang tak kenal peduli jika menyangkut tentang Adam Dhanurendra.
Belen menyenggol bahunya. "Ra!" panggilnya. "Kamu tidak mendengarkan apa yang aku katakan?"
Laura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak peduli di mana Pak Adam," balas Laura. "Bukannya senang, kamu malah gelisah."
"Senang karena apa?" Belen menggerutu. "Kemarin Pak Adam hujan-hujanan untuk sampai ke halte bus, aku yakin sampai di rumah dia juga harus hujan-hujanan lagi."
"Dia bisa aja sakit kan?" Belen mulai berandai-andai. "Bagaimana kalau dia demam dan flu?"
Belen menghentikan langkah Laura. "Dia bujangan jadi, tidak ada yang mengurus dia."
Laura tersenyum aneh. "Kalau begitu pergi ke rumahnya, ketuk pintunya, dan rawat dia," ucap Laura. "Kamu bisa menikahinya juga. Lamar dia sekalian."
Laura melanjutkan langkah kaki sembari bergumam. "Sakit apanya."
Belen menyusul Laura. "Kamu punya masalah apa sama Pak Adam?" tanya Belen sembari menarik bahu Laura. "Sejak kalian bertemu sampai sekarang, kalian tidak pernah akur."
"Sepertinya kamu menyimpan dendam tersendiri," ucap Belen menyimpulkan. "Kamu memang tidak banyak menyukai orang, tetapi Pak Adam sedikit lain.
"Lain bagaimana?" Laura menggerutu lagi. "Sama saja."
Laura kembali melanjutkan langkah kakinya. Belen mengikuti. "Aku merasa kamu ...." Kalimat Belen terhenti ketika ponsel Laura berbunyi. Seseorang menghubunginya.
"Agnes?" Laura mengerutkan dahi setelah tahu siapa yang meneleponnya siang-siang begini. "Tumben sekali."
"Agnes yang centil itu?" Belen mencoba menebak. "Aku nggak suka sama dia."
Laura memandang Belen dengan senyuman di atas bibir merah delimanya. "Aku angkat dulu, kamu duluan aja ke kantin. Nanti aku susul," katanya. Laura beranjak dari tempatnya tanpa menunggu balasan dari Belen.
Setelah mencari tempat sepi, Laura mengangkat panggilannya.
__ADS_1
"Laura!" Suara Agnes tiba-tiba menyeru di pembukaan pembicaraan. "Kenapa lama banget?" tanyanya sembari menggerutu.
Laura malah tertawa, tentu saja dia belum bisa memahami situasi yang ada.
"Kenapa malah ketawa?" gerutu Agnes. "Ada masalah besar, Ra!"
Laura langsung mengubah raut wajahnya. Sekarang dia bisa merasakan kecemasan lewat nada bicara Agnes yang terkesan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Laura.
"Ini tentang SPACE'S!" ucap Agnes. Tiba-tiba Laura mendengar suara gaduh di sekitar Agnes.
"SPACE'S kenapa?" tanya Laura menimpali. "Kamu ada di mana sekarang?" Laura ikut panik. "Kenapa ramai sekali?"
"Datanglah ke SPACE'S sekarang juga!" perintah Agnes. "Aku gak mau tahu, kamu harus datang sekarang!"
Laura menggelengkan kepalanya. "Gimana aku bisa datang? Sebentar lagi aku ada ulangan matematika," jawab Laura. "Aku juga tidak bisa membolos lagi karena kemarin aku banyak tidak masuk."
Agnes mendesah panjang. "Ini tempatmu juga, Ra. Kamu investor terbesar di tempat ini."
"Nanti setelah pulang aku akan langsung ke sana. Aku janji aku akan berlari datang ke sana," tandas Laura dengan yakin. "Aku janji!"
"Sekarang, Ra!" Agnes merengek. "Ini gawat sekali."
"Gawat apanya?" Laura jadi ikut merengek. "Ada pelanggan yang mengamuk lagi? Siang-siang begini?"
"Kamu tinggal meniru apa yang aku lakukan dua bulan lalu. Pukul kepalanya dan tendang ***********!" seloroh Laura. "Siram wajahnya dengan bir paling murah, itu baunya tidak enak."
"Kamu mau aku melakukan itu ke polisi?" tanya Agnes menyahut.
Laura terdiam. Tiba-tiba dia berubah menjadi bisu.
"Polisi yang datang!" teriak Agnes. "Ada pria gila yang melaporkan kita!"
Agnes mendesah panjang. "Semua barang-barang di SPACE'S disita polisi dan anak-anak mulai dibawa ke kantor untuk diperiksa."
__ADS_1
Laura lemas seketika. Tubuhnya merinding hebat. "Polisi?"
"Kita gak tau harus gimana lagi," sambung Agnes semakin cemas. "Kamu bisa panggil papa kamu, Ra?"
Laura tak menjawab.
"Aku tahu ini sama gilanya, tetapi aku yakin papa kamu akan bantu kita," imbuh Agnes memohon. "Aku gak mau dipenjara."
"Siapa yang melaporkan?" Laura memberanikan diri untuk berbicara. "Kamu kenal orangnya?"
Agnes diam sejenak, tak langsung menjawab.
"Agnes!" Laura tidak sabar. "Siapa orangnya? Kamu kenal?"
Agnes menghela napas panjang. "Pria yang datang sama kamu malam itu," jawabnya lirih. "Sudah aku bilang kamu tidak seharusnya bawa dia ke sini."
"Dia tidak cocok dengan kita," tukas Agnes menutup kalimatnya.
"Maksudmu ... Pak Adam?"
"Aku tidak tahu namanya, dia hanya berdiri di depan bangunan sambil tersenyum seperti orang gila!" tambah Agnes lagi. "Sepertinya dia dendam sama kamu atau salah satu dari kita, Ra."
Laura menutup panggilannya tiba-tiba, tanpa mau menghiraukan Agnes lagi.
"Adam Dhanurendra sialan!" umpat Laura. "Aku akan membunuhmu hari ini!"
Next.
note :
Rekomendasi novel keren lainnya untuk kalian ^^
selamat membaca, Xoxo.
__ADS_1