Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
110. Minta Restu


__ADS_3

Kencan buta? Mustahil. Adam malah membawa Laura ke tempat yang begitu asing untuknya. Jajaran batu nisan menjadi pemandangan yang mulai familiar sejak mereka datang beberapa menit yang lalu.


"Mereka adalah orang tuaku, Ra." Adam tersenyum tipis. Dia melirik Laura, lalu kembali menatap nisan yang ada di depannya.


Laura mengangguk. Meskipun hatinya kecewa karena diajak kemari, alih-alih jalan-jalan di pasar malam atau semacamnya, tetapi gadis itu enggan untuk memprotes. Adam pasti punya alasan membawanya datang ke sini.


"Kamu masih ingat janjiku dulu, Ra?" Adam menoleh padanya. "Tentang aku ingin membawamu ke tempat yang ingin aku ingin kunjungi bersama kamu."


Ah, Adam sedang menepati janjinya rupanya. Laura kira itu sudah dia lupakan.


"Makam kedua orang tuaku adalah tempatnya." Adam menutup kalimatnya.


Laura tersenyum. "Kenapa Pak Adam ingin membawaku kemari?" tanyanya. "Aku tidak mengerti."


"Kamu tidak suka?" Adam menyahut. "Aku tahu ini membosankan untuk ...."


"Kapan aku bilang gitu?" Laura menggerutu pelan. "Aku hanya tanya apa alasannya."


Adam tersenyum tipis. Dia menunduk, menatap gundukan tanah di depannya. "Aku merasa bersalah."


Laura menatapnya lagi. Pernyataan yang aneh. Bersalah? Tentu jika membahas pernikahan mereka yang gagal di masa lalu, kesalahan Lauralah yang paling besar.


"Kamu pasti merencanakan pernikahan yang megah, mewah, dan super keren, bukan?" tanya Adam. Keduanya saling pandang. "Kamu masih menginginkan menjadi ratu satu hari dalam pernikahan kamu."


Laura menggelengkan kepalanya kemudian. "Siapa bilang?"


Adam mengerutkan kening.


"Jujur saja, aku sama sekali tidak berharap menikah dengan siapa pun." Laura memicingkan mata. "Aku berniat untuk tidak menikah. Aku ingin hidup bebas."

__ADS_1


Kalimat yang cukup mengejutkan.


"Intinya ... tidak ada harapan untuk aku menikah dengan siapa pun dalam waktu dekat," ucap Laura lagi. "Aku hanya ingin menikmati masa mudaku."


Adam menghela napas. "Kalau begitu aku ingin menembus rasa bersalah yang lain," ucapnya lagi. Adam tak berhenti sampai di sana. "Tentang aku belum memperkenalkan dirimu pada orang tuaku."


"Jadi, aku berniat untuk memperkenalkan dirimu sekarang." Adam meraih tangan Laura, menggenggamnya. "Kamu harus menyapa mereka, Laura."


Bagi Laura, ini kuno dan aneh. Tidak akan mengubah apapun meskipun Adam membawa Laura kemari. Singkatnya, orang tuanya sudah tidak ada. Tidak ada yang bisa dilakukan.


Namun, anehnya, Laura merasa bahagia.


"Sapalah. Mereka pasti senang melihat kamu sudah besar," ucap Adam lagi. "Mereka pasti bangga."


Laura manggut-manggut. "Hm. Tentu saja."


>>>><<<<


"Daffa?" Kirana menyipitkan mata ketika melihat siapa yang baru saja terlibat keributan. "Kamu bertengkar?"


Daffa tidak menjawab sepatah kata pun. Dia hanya melirik Kirana, lalu beranjak dari tempatnya.


"Daffa! Tunggu dulu!" Kirana menarik tangannya. Wajah Daffa benar-benar kacau dan babak belur. "Kamu harus diobati." Dia menunjuk wajah Daffa.


Daffa melepaskan genggaman Kirana. "Jangan sok perhatian! Ini semua karena kamu!"


Kirana mengerutkan keningnya. Sudah lama tak bertemu Daffa, sekalinya bertemu dia jadi kambing hitam.


"Salahku?" Kirana menunjuk dirinya sendiri. "Apa-apaan ini?" Dia tertawa terbahak-bahak. "Kita lama tidak bertemu setelah kejadian itu. Aku membantumu, tetapi ...."

__ADS_1


"Kamu mengadu pada Pak Adam!" Daffa membentak. "Kamu pikir aku tidak tahu?" Daffa menyeringai. "Kamu cuma mau uangnya saja 'kan?"


Kirana membuang wajahnya. Helaan napas memberi tanda penyesalan setelah menyapa Daffa di sini. Seharusnya dia mengabaikan Daffa tadi.


"Terserah kamu saja! Tau gitu aku nggak akan peduli sama kamu!" ketusnya kemudian. Kirana beranjak dari tempatnya.


"Laura dan Adam kembali bersama!" Daffa berteriak. Dia seperti orang gila, tentu saja, Daffa baru saja selesai menghabiskan tiga botol bir lokal. Kewarasannya perlu dipertanyakan.


Kirana menoleh. "Salahku?" Dia menunjuk dirinya sendiri. Sekarang, langkah kakinya kembali pada Daffa. "Kamu menyalahkan aku?"


"Jika saja kamu tidak membeberkan rahasia kita pada Pak Adam, maka mereka ...."


"Jika saja kamu tidak mengkhianati Laura ... maka, dia tidak akan pergi dari kamu!" Kirana mendorong dada bidang Daffa. "Kamu itu yang salah! Kenapa melempar kesalahan pada orang lain?"


Daffa bersungut-sungut.


"Lagian, mereka itu jodoh. Tuhan yang membuat mereka kembali bersama, kenapa kamu marah-marah begini?" tanya Kirana sembari terkekeh. "Kalah saja! Mengaku kalah!"


Daffa menarik kerah baju Kirana, hampir menonjok wajahnya, jika saja ini bukan tempat umum. "Jaga bicara kamu!" ketusnya. "Aku akan membuat Laura kembali padaku! Aku akan membuat hubungan mereka hancur begitu saja!"


Kirana tertawa. "Dengan cara apa?" tanyanya. Kirana mendorong tubuh Daffa menjauh darinya. "Mereka sudah tidak bisa dipisahkan lagi."


Daffa menyeringai tajam. "Laura masih bisa hamil lagi bukan?" kekehnya. "Aku yakin dia masih mencintaiku juga," imbuh Daffa lagi.


Kirana menyipitkan matanya. "Kamu gila, Daffa!"


Tidak ada jawaban, Daffa hanya tertawa terbahak-bahak, seperti orang gila. Dia pergi setelah mengacungkan jari tengah pada Kirana.


"Wah! Monster satu itu!"

__ADS_1


Next.


__ADS_2