Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
70. Bukan Pelacur


__ADS_3

Jakarta mendung. Suasana sore yang khas, dengan aroma air hujan yang dibawa angin berhembus cukup kencang.


Food truck menjadi tujuan Adam sore ini. Mungkin satu cup kopi susu bisa menghangatkan tenggorokannya, ditambah lagi dia melihat Belen berdiri di samping food truck itu.


"Beli makan aja?" Adam menyapanya dengan cara yang aneh. Belen menoleh ketika menyadari kedatangan Adam.


Adam tersenyum sembari memandang penampilan gadis itu. "Baru pulang sekolah?" tanya Adam. "Terlalu sore untuk pulang sekolah jam segini," sanggahnya. Padahal Belen tidak menjawab apapun.


"Dari belajar kelompok." Belen berbicara seadanya. Senyuman dia berikan tidak berlebihan.


"Pak Adam sekarang kerja di mana?" Belen memandang pria itu dari dekat.


Adam hanya meliriknya, kembali pada lembar menu di depannya. "Aku sekarang jadi guru di bimbingan belajar swasta, hitung-hitung sembari cari tempat kerja yang pas."


Belen manggut-manggut. "Begitu rupanya."


"Satu kopi susu. Gulanya sedikit saja," ujar Adam sembari mengacungkan satu jari. Penjual di depannya mengangguk, mulai menyiapkan pesanan Adam.


"Gimana kabar kamu?" tanya Adam. Dia menoleh pada Belen. "Satu minggu kita tidak bertemu sama sekali, rasa-rasanya sudah lama sekali," kekehnya.


Belen tertawa kecil. "Begitulah."


"Karena Pak Adam mengundurkan diri, kelas kita jadi dapat guru galak lagi untuk sejarahnya." Belen menggerutu dalam posisinya. "Padahal sebelumnya kita bisa bersantai, Pak Adam tidak pernah memarahi kita kalau terlambat mengumpulkan tugas."


Belen mendesah panjang, resah. "Sekarang harus kembali pada rutinitas yang membosankan kalau pelajaran sejarah."


Adam tertawa ringan. Dia menepuk pundak Belen, mencoba untuk memberi semangat padanya.


Belen menatapnya. "Kenapa Pak Adam tidak kembali saja ke sekolah?" tanya Belen. "Pak Adam dan Laura sudah bercerai kan?"


"Kamu tahu?" Adam mengerutkan kening. "Aku kira hubunganmu dan Laura tidak baik-baik saja. Sepertinya kalian mulai berbicara lagi."


Adam mengangguk dengan mantap. "Syukurlah kalau memang kalian sudah baikan. Aku jadi lega."


"Kata siapa aku baikan dengannya?" Belen menyandarkan tubuhnya di sisi food truck. "Aku masih marah sama Laura karena dia tiba-tiba menamparku di depan orang banyak, harga diriku seakan diinjak-injak."

__ADS_1


Adam mulai memperhatikannya. Dia menyimak apapun yang dikatakan Belen.


"Kita hanya berbicara sebentar setelah kekacauan yang terjadi tadi," ucapnya. Belen melirik Adam. Pria itu tidak mengerti apapun.


"Laura diserang banyak orang, bisa dikatakan seluruh sekolah." Belen menghela napas. "Pak Adam tahu kalau orang tua Laura bangkrut?"


Adam diam. Laura mati-matian menutupi fakta itu sebelumnya.


Belen mendesah lirih. "Tentu saja Pak Adam tahu. Adam adalah suaminya kemarin."


"Aku tidak tahu kenapa Laura memilih untuk membohongi kita semua," kata Belen, menggerutu lagi. "Seharusnya dia tidak membohongiku begitu. Padahal aku adalah temannya sejak dulu."


"Dia punya alasan melakukan itu, Belen." Adam menyahut. Suaranya lirih, tetapi cukup untuk membuat Belen menoleh padanya. "Laura tidak sengaja membohongimu, begitulah kenyataannya."


Belen tersenyum miris. "Tetap saja. Dia berbohong. Sekarang seluruh sekolah menghakiminya, besok pagi dia akan benar-benar dirundung."


Adam menukas perlahan. "Di mana Laura sekarang?" tanyanya.


Belen menoleh. Dia menaikkan kedua bahunya. "Mana aku tahu? Dia tidak datang ke kelas sejak pagi, tetapi dia masih ada di sekolah."


Adam memahami Belen. Dia mengangguk pasti. "Mungkin dia sedang sedih di suatu tempat."


>>>><<<<


Dentuman musik jazz menggema di ruangan. Dis joki melompat di tempatnya, menikmati lagu yang dia ciptakan sendiri.


Gemerlap lampu diskotik menghibur Laura malam ini. Adam jelas salah jika mengira kalau Laura terpuruk dalam kesedihan, pada kenyataannya Laura memilih berakhir di tempat ini.


"Ada yang mau kenalan!" Agnes berteriak di samping Laura. Menyenggol bahu Laura. "Namanya Brian!"


Laura menoleh. Matanya berkeliling, mengikuti gerak ujung jari Agnes tertuju.


Seorang lelaki tampan berdiri di samping meja panjang, tempat barista menyajikan berbagai macam jenis bir dan alkohol.


"Samperin, tuh!" Agnes mendesaknya. "Lumayan buat tambah kantong!"

__ADS_1


Laura manggut-manggut. Dia keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang asyik bergoyang. Laura menghampiri lelaki yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Laura, ya?" Brian menyapa Laura dengan semangat. "Aku sudah memperhatikan kamu dari tadi," ucapnya, berbisik di telinga Laura.


Laura tersenyum manis. Dia meminta gelas dalam genggaman Brian. "Boleh buat aku?" tanyanya.


Brian mengangguk. "Tentu. Aku memang pesankan ini buat kamu."


Laura tersenyum manis. "Thanks."


"Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar?" tanya Brian.


Laura tidak perlu kaget jika seseorang langsung bertanya seperti ini padanya. Beginilah dunia malam Jakarta bekerja.


"Mau jadi pacarku?" Brian pergi pada poin pembicaraan. "Kita akan cocok."


Laura memandang Brian. "Kamu kaya?" tanyanya. Penampilan lelaki ini memang cukup mumpuni. Tubuhnya tinggi kekar, wajah tampan dan mempesona. Kulitnya putih susu, sedikit ada luka di sudut matanya.


"Sepertinya iya," kekeh Laura. Dia meminum bir dalam genggamannya.


Brian mengangguk lagi. "Gimana, mau jadi pacarku?" tanyanya. "Kamu cantik, aku tampan. Kita akan menjadi pasangan yang pas!"


Laura tertawa. Dia mengembalikan gelas bir yang sudah kosong. "Aku sudah punya suami."


Brian mengubah pandangan matanya. "Suami?" Dia tertawa. "Kamu sedang bercanda?"


Laura menggelengkan. "Sayangnya, aku bercerai atu minggu yang lalu."


Brian terdiam sembari berusaha membaca kebohongan dari raut wajah Laura. Sayangnya, tidak ada. Laura mengatakan semua itu dengan yakin.


"Kalau begitu kita bisa mengenal dulu." Brian mengimbuhkan. Dia mendekati Laura. "Mengenal di atas ranjang, bagaimana?" bisiknya.


Laura meliriknya. Sama-sama terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia manggut-manggut. "Aku yang pilih kamarnya."


Next.

__ADS_1


__ADS_2