Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
63. Orang Tersayang


__ADS_3

"Laura!" Daffa menghentikan langkah kakinya. "Tunggu aku!"


Laura menoleh. Tanpa alasan yang jelas dia menunggu Daffa datang padanya.


Pemuda itu ngos-ngosan. Berusaha mengatur napas, padahal dia baru berlari beberapa meter saja.


"Kamu ini kenapa?" tanya Laura sedikit ketus. Perasaannya tidak baik-baik saja hari ini, bukan tentang Daffa. Adam yang membuat perasaan Laura begitu kalut.


"Aku sudah dengar semuanya," kata Daffa kemudian. Pandangan matanya tertuju pada wajah Laura dengan luka asing di sisi pelipisnya.


"Kamu beneran berantem sama Belen?" Daffa meraih luka Laura dan mengusapnya. "Ck, wajah cantik kamu jadi terluka."


Laura tersenyum simpul. "Kamu pasti kecewa sama aku, kan?" tanyanya. Dia menunduk, padahal Laura tak salah apapun. "Maafkan aku."


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Daffa. Dia mendekati Laura, meraih kedua bahunya. "Kamu nggak salah apapun, jangan minta maaf."


Laura memandang Daffa. Senyumannya terkesan dipaksakan. "Hariku buruk sekali hari ini," keluhnya. Laura tahu, seharusnya dia tidak begini. Namun, mau sama siapa lagi jika itu bukan Daffa?


Daffa tersenyum manis. "Bagaimana kalau mampir ke rumahku?" tawarnya. "Aku punya sesuatu untuk mengembalikan mood kamu," imbuhnya.


Laura manggut-manggut. "Sepertinya aku tahu apa itu," gumamnya. "Aku ikut!" katanya dengan mantap.


>>>><<<<


"Mas Adam?" Nurwa menepuk pundak Adam. Memastikan jika pria di depannya benar-benar Adam. Asing bagi Nurwa melihat Adam di tempat seperti ini, sendirian.

__ADS_1


Adam menoleh. Untung Nurwa tak salah orang. Dia tersenyum ketika Adam memandangnya.


"Tumben Mas Adam sendirian di sini?" tanya Nurwa sembari celingukan. Tentunya dia mencari Laura, barang kali gadis itu mengekori Adam.


Adam hanya manggut-manggut. Tidak menjawab sepatah katapun.


Nurwa menendang rokok di sela jari jemari Adam, kemudian mengarahkan pandangan mata pada segelas kopi hitam di sisi kepalan tangannya.


"Mas Adam sedang ada masalah?" Nurwa pandai membaca situasi jika itu berhubungan dengan Adam. "Bisa cerita sama aku kalau menang ada masalah."


Adam tersenyum, menghela napas panjang. "Aku harus mengundurkan diri dari jadi guru, Nur."


Nurwa nampak terkejut. "Guru adalah mimpinya Mas Adam sejak dulu," kata Nurwa yakin. "Kenapa tiba-tiba mundur?"


Nurwa tak percaya mengatakan ini. "Kamu juga ada tanggungan Laura. Dia mau diberi makan apa kalau Mas Adam berhenti kerja?"


"Orang di sekolah tahu tenaga pernikahan aku dan Laura, Nur. Guru dan kepala sekolah meminta aku memilih antara tetap lanjut jadi guru, tapi Laura yang pergi atau Laura tetap sekolah di sana dan aku yang mengundurkan diri." Adam mempersingkat.


Nurwa manggut-manggut, cukup mengerti.


"Laura masa depannya masih panjang," tutur Adam penuh pengertian. "Aku nggak bisa egois, Nur."


Nurwa seakan ikut merasakan kesedihan Adam. Dia mengusap punggung pria itu dengan lembut. "Mas Adam yang sabar. Cobaan memang terus datang untuk membuat pohon semakin kuat, kan?"


Adam manggut-manggut ringan. Itu yang diajarkan pada Nurwa dan Rinjani dulu. Sayangnya, bius kalimat itu tidak mempan untuk Adam.

__ADS_1


Adam menoleh. "Gimana sama Abah?" tanyanya lembut. "Keadaannya membaik?


Nurwa kembali pada kesedihannya. Kepalanya menggeleng tak rela. "Semakin parah. Abah terus menanyakan kapan kamu datang melamarku," ucapnya.


"Abah berat sebelum pergi meninggalkan kami, Mas Adam." Nurwa memandang Adam dengan cermat. "Abah hanya ingin melihat kita menikah."


Adam menghela napas panjang. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Tuan Darya menemui ibu lagi," imbuh Nurwa. Nama yang disebut Nurwa menarik perhatian Adam. "Dia mau menikahiku, melunasi hutang abah, bahkan membiayai semua biaya rumah sakit, atau kemungkinan terburuk juga seluruh pemakaman abah ... asalkan aku menikah dengan dia."


Adam dilanda frustasi yang besar. Sejak kecil Nurwa dan Adam memang tak pernah berpisah. Mereka selalu bersama, wajar jika benih cinta tertanam begitu kuat di dalam hati Nurwa untuk Adam.


"Kamu mau jadi istri ketiganya, Nur?" Adam berandai-andai. "Gimana kamu bisa bahagia?"


Nurwa menggelengkan kepalanya. "Aku menolaknya untuk sekarang, Mas Adam." Nurwa menatap Adam dengan saksama. "Namun, aku tidak tahu sampai kapan."


"Abah semakin parah, biaya rumah sakit semakin membengkak san hutan juga semakin menumpuk," ucap Nurwa mulai pasrah.


Adam mengulum ludah. Perkara hidupnya saja sudah berat, ditambah lagi Nurwa merengek begini padanya.


"Aku akan bantu pikirkan caranya, Nur." Adam manggut-manggut. Mencoba meyakinkan. "Aku janji."


Nurwa memandang Adam lagi. "Biar abah lega, bisakah Mas Adam menikah denganku pura-pura saja?" tanyanya. "Aku yakin, Laura juga akan memahaminya."


Adam terdiam.

__ADS_1


"Aku mohon, Mas Adam," pinta Nurwa lagi. "Sampai abah bisa lega dan pulang dengan tenang."


Next.


__ADS_2