
"Laura! Tunggu!"
Laura tidak mau menggubris Daffa, dia tetap melanjutkan langkah kakinya. Namun, pemuda itu gigih untuk membuat Laura berhenti dan berbicara dengannya.
"Laura! Tunggu dulu. Jangan main pergi begitu saja," ucap Daffa. Pemuda itu berhasil menarik tangan Laura, membuat keduanya saling tatap.
Laura mendengus kesal. "Enggak perlu ngikutin aku! Aku bisa sendiri," ketusnya.
Daffa mengangguk sekali. Perlahan-lahan dia melepaskan genggaman tangannya. Fokusnya hanya tertuju pada Laura. "Kuenya," tandas Daffa sembari menyodorkan kantong plastik pada Laura.
"Buat kamu aja. Lagian juga kamu yang bayar."
Daffa hanya melihat sikap kekanak-kanakan Laura. Mereka telah mengenal lebih dari tiga tahun, dihitung sampai detik ini. Bukan melebihkan fakta, tetapi bisa dibilang Daffa lebih mengenal Laura dengan baik ketimbang orang tuanya sendiri. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama dulunya.
Daffa menarik tangan Laura. "Aku nggak suka kue basah. Kamu juga tahu itu." Dia menatap Laura sekali lagi. "Pulang dan makan itu. Nanti anak kamu ngiler," ucapnya lagi. "Aku pergi dulu."
"Aku serius!" Laura mencegah Daffa yang hendak pergi. Dia melangkah ke arahnya. "Tentang aku ingin nikah sama kamu."
"Laura sudah gila rupanya," batin Daffa sembari menatapnya sendu.
Laura mendengus. "Aku tidak butuh pendapat mama dan papa. Aku tidak butuh pendapat siapa pun, aku hidup sendiri."
Daffa hanya melihat sisi Laura yang sedang menyerah sekarang, selebihnya dia tidak melihat keseriusan. Daffa bisa memahami perasaannya, dia juga pernah menyerah seperti Laura. Menganggap keadaan semakin menekannya jika dia tidak segera mengambil keputusan.
Daffa mendekati Laura lagi. "Bicarakan dengan Pak Adam jika memang dia ayah dari anak kamu," ucap Daffa. Setan apa yang merasukinya, Daffa berubah menjadi bijak. "Aku tidak akan ikut campur."
"Kamu tidak menyukai aku lagi?" Laura langsung menyimpulkan. "Terakhir kali kamu meminta untuk kita kembali, bukankah sekarang aku sedang memberi lampu hijau untuk kamu?"
Tatapan mata Laura tidak pernah memberi keseriusan pada Daffa. Dia hanya ingin diakui, tidak ada tujuan lain selain itu.
"Daffa ...." Laura memohon. "Kita pernah melakukan kesalahan sebelumnya, aku yakin kita bisa memperbaikinya sama-sama."
"Kenapa kamu tiba-tiba meminta seperti ini padaku?" Daffa menyahut. Dia melepaskan genggaman tangan Laura. "Aku tidak bisa melakukannya, Ra."
"Daffa?"
"Jujur saja, aku sedang kesulitan tentang ekonomi. Kamu pun begitu," ucap Daffa dengan yakin. "Aku tidak yakin bisa menghidupi kamu dan anak itu."
__ADS_1
Daffa melipat keningnya. "Itu bukan anak aku," ucapnya lagi. "Sebenarnya aku ingin memperbaiki hubungan dengan kamu, tetapi setelah aku tahu kalau kamu hamil anaknya Pak Adam ... aku jadi mengurungkan niatku."
"Kamu jijik denganku?" Laura menyimpulkan semuanya terlalu dini. Apa yang terjadi padanya belakangan ini, membuat Laura sedikit sensitif. Tidak ada yang salah dari perkataan Daffa, jika melihat dari sisi yang positif.
Daffa sedikit ragu, pandangan matanya tak tenang tiba-tiba.
"Aku membantu kamu dalam kesusahan kamu, tetapi kamu tidak mau membalas budi atas bantuanku?" Laura mendesak lagi. "Bukankah kamu curang?"
"Laura, sekarang keadaannya sudah berbeda. Kamu bukan milikku lagi." Daffa dengan tegas menolak. "Aku bisa menjadi temanmu. Bisa katakan padaku apa yang bisa aku bantu, tetapi aku tidak bisa bersamamu."
Laura hampir saja meneteskan air matanya. Lekas gadis itu mengedipkan mata dan memalingkan wajahnya.
"Daffa, kamu ...."
"Bicarakan saja ini dengan Pak Adam, dia pasti punya jalan keluarnya." Daffa hendak pergi meninggalkan Laura. Namun, dia terhenti. Ada satu kalimat yang masih mengganjal di dalam hatinya. "Aku yakin dia akan bertanggung jawab, dia selalu melakukan itu bukan?"
Daffa mengakhiri kalimatnya dengan senyum seringai. Dia pergi meninggalkan Laura kemudian.
Laura mengusap wajahnya dengan kasar. Frustasi dia rasakan kemudian. Entah harus marah atau bagaimana, dia tidak seharusnya melibatkan Daffa dalam masalah ini.
"Dasar pengecut!" gerutu Laura di tempatnya.
>>>><<<<
"Bu Wanda!" Adam berteriak-teriak. "Bu Wanda di mana?" Pria itu menerobos masuk ke dalam rumah, mengabaikan Rinjani yang menatapnya dengan aneh. Tidak biasanya Adam pulang dengan keadaan seperti ini.
"Bu Wanda! Aku ingin bicara!"
"Mas Adam ini kenapa?" Rinjani menyahut dari balik punggung lebarnya. Tatapan penuh tanya diberikan pada Adam. "Kenapa teriak-teriak? Nggak malu sama tetangga? Dikira ada masalah besar!"
"Mana ibu, Rin?" Adam menyahut. Langsung menatap sekitarnya. "Aku ingin bicara."
"Ada di sini," sahut Wanda dari bilik dapur. Dia membawa makanan dari dapur, niat hati ingin diberi pada Adam kalau dia pulang. Wanda tahu jam kedatangan putranya.
Adam mendekati Wanda. Marah menggebu-gebu seakan ingin menghakimi ibunya. "Apa yang Ibu katakan sama Laura?"
Wanda mengerutkan keningnya. Dia melirik Rinjani yang menaikkan bahunya, menggelengkan kepalanya kemudian.
__ADS_1
"Katakan, Bu! Ibu menemui Laura untuk apa?" Adam mendesak. "Apa yang Ibu katakan sama Laura kemarin?"
Wanda menyuruh Rinjani untuk masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya Adam salah paham. Setelah menjadi menutup pintu kamarnya, Wanda mulai berbicara.
"Aku mendatanginya untuk memberikan sup daging padanya ketika tahu dia sedang hamil anakmu, Dam." Wanda tetap santai menghadapi putranya. Dia meletakkan nampan di atas meja, lalu duduk di atas sofa.
Adam terus memandangnya. Tatapan mata elang ada menembak seluruh aktivitas Wanda di depannya.
"Apa yang membuatmu begitu marah ketika tahu kalau aku mendatanginya?" tanya Wanda dengan lembut. "Salahkah kalau aku mendatanginya?"
"Salah tentang perkataan Ibu padanya." Adam menjawab tegas. "Apa yang Ibu katakan pada Laura?"
Wanda menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau membahas. Itu pembicaraan pribadiku," kekeh Wanda. "Sebagai lelaki, kamu tidak akan paham."
"Bu Wanda!" Adam duduk di atas sofa. Menatap dengan jeli. "Laura marah padaku! Dia bilang sakit hati dengan Bu Wanda! Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Syukurlah kalau dia sakit hati," ucap Wanda tiba-tiba. "Itu artinya dia masih punya hati."
"Bu Wanda!" Adam merengek. "Tolong katakan apa ...."
Wanda malah menyodorkan irisan mangga di depan mulut Adam. "Makan ini, aku beli yang paling manis. Aku tahu kalau kamu ...."
"Aku aku pergi dari rumah ini kalau Bu Wanda tidak mau berbicara!" ketus Adam lagi. "Aku tidak mengancam. Aku serius!"
Wanda menghela napas. Dia meletakkan kembali irisan mangganya. Ditatapnya Adam kemudian. "Kenapa tidak tanya langsung?"
Adam mengerutkan kening.
"Tanyakan langsung padanya! Bagian mana yang aku membuat dia sakit hati?" Wanda tersenyum manis. "Baru laporkan padaku, sepertinya aku harus minta maaf. Padahal aku tidak yakin kalau aku sudah menyakiti hatinya," pungkas Wanda.
Adam menghela napas panjang. Beginilah Wanda. Ya, dia harus mengerti hal itu.
"Terserah Bu Wanda saja! Aku mau pulang ke rumahku," jawab Adam dengan ketus. Dia bangkit dari tempatnya.
"Kamu benar mau minggat hanya karena Laura?" Wanda mencoba mencegah. Namun, Adam mengabaikannya. Pria itu melenggang pergi dari hadapan Wanda.
Next.
__ADS_1