
Nurwa menunggu di depan gerbang bangunan besar ini. Sudah hampir tiga puluh menit, tetapi yang dicari tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Jujur, jika bukan anak bosnya, Nurwa pasti sudah menyerah sejak tadi. Ditambah lagi langit mendung membentang di atasnya.
"Nurwa?" Seseorang memangil namanya. Nurwa menoleh ketika suara berat seorang pria tak asing terdengar begitu jelas.
Adam datang, layaknya seperti superhero yang akan menyelesaikan dirinya dadi kebosanan luar biasanya.
"Mas Adam ada di sini?" Nurwa tersenyum tak percaya. Takdir memang begitu lucu untuk dirinya. Jika dipertemukan seperti ini terus, kenapa tidak menikah saja?
Adam menganggukkan kepala. "Kamu masih ingat kalau aku sekarang mengajar di lembaga pendidikan privat swasta?"
Nurwa manggut-manggut. "Ternyata di sini?" Dia memandang bangunan di belakangnya. "Syukurlah. Katanya gaji di sini setara dengan guru tetap."
Adam tersenyum ringan. "Begitulah. Aku bersyukur masih ada yang mau menerimaku."
"Mas Adam emang pantas mendapat tempat kerja yang bagus. Mas Adam orang pintar," jawab Nurwa lagi. Dia memuji selagi masih ada kesempatan. "Mas Adam juga guru yang mumpuni."
Adam tersipu-sipu.
"Namun, tetap cari kerja di sekolah resmi. Mumpung Mas Adam belum terlalu lama menganggur." Nurwa menyarankan. "Itu demi karier Mas Adam."
Adam mengangguk paham. "Kamu ngapain di sini?" tanyanya. Sedari tadi mereka hanya membicarakan tentang Adam saja. "Ada urusan?"
"Aku menjemput anak bosku. Kebetulan dia baru masuk les hari ini." Nurwa memandang lagi bangunan di belakangnya. "Anehnya dia tidak datang dari tadi. Padahal aku yang terlambat menjemputnya."
Adam ikut menatap masuk ke dalam. "Kelas berapa?"
"Satu SMP." Nurwa menjawab seadanya. "Jurusan IPA. Katanya dia kelas biologi tadi. Papanya tidak bisa menjemput dan ...."
__ADS_1
Kalimat Nurwa terhenti ketika ponselnya berdering. Dia merogoh tas dan mengambilnya. Sebuah pesan masuk dari bosnya.
Adam melihat perubahan raut wajah Nurwa ketika membaca pesan itu. "Ada apa?" tanya Adam. Nurwa jelas-jelas kecewa setelah membacanya.
"Ternyata dia sudah pulang." Nurwa bergumam. "Dia nebeng temannya." Perempuan itu menatap Adam. "Aku sia-sia saja," gumamnya.
Adam tersenyum. Dia mengusap pundak Nurwa. "Kalau begitu mau makan sore denganku dulu? Kebetulan aku tidak ada jam lagi."
Nurwa sedikit terhibur mendengarnya. "Mas Adam juga mau pulang?" tanyanya.
Adam manggut-manggut. "Rencananya begitu." Adam menyahut. "Namun, bertemu dengan kamu di sini, sepertinya kita bisa menghabiskan sore bersama."
Nurwa manggut-manggut. "Kebetulan aku belum malam. Mas Adam bisa pilih tempat makannya."
Keduanya berjalan menyusuri trotoar jalanan. Lalu lalang kendaraan di sekitar mereka, menjadi pemecah keheningan antara keduanya. Hingga akhirnya, Adam berbicara.
"Nurwa," panggilnya. Dia menoleh pada Nurwa. "Soal apa yang dikatakan oleh abah waktu itu ...."
"Aku tidak mau kalau itu menjadi beban untuk Mas Adam." Nurwa menambahkan lagi. "Aku ingin hubungan kita tetap baik-baik saja, tanpa ada rasa canggung apapun."
"Aku sudah memikirkannya." Adam menyahut. Dia menoleh pada Nurwa lagi. "Aku juga sudah memutuskannya selama beberapa hari terakhir ini."
Nurwa tersenyum. Anehnya, dia merasa takut akan jawaban yang mungkin saja mengecewakan dirinya. Adam tidak pernah tertarik padanya sebagai seorang perempuan.
"Mas Adam tidak perlu buru-buru." Nurwa berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia belum ingin mendengar apapun dari Adam. Nurwa masih memilih untuk berandai-andai dan berimajinasi tentang hubungan mereka di masa depan.
Dia takut menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan fantasinya.
__ADS_1
"Aku akan menikahimu." Adam membuat pernyataan. Kalimatnya cukup untuk membuat Nurwa berhenti di tempatnya.
Adam juga ikut berhenti. Dia menoleh pada Nurwa, yang memandangnya seperti orang kikuk. "Kamu sepertinya tidak percaya," ucap Adam tertawa. "Aku serius."
"Mas Adam ... benar-benar akan melamarku dan menikahiku?" Nurwa menatapnya dengan ketidakpercayaan. "Aku tidak salah dengar kan?"
Adam tersenyum. Kepalanya mengangguk dengan yakin. "Aku sudah membicarakan ini dengan Bu Wanda. Dia setuju aku menikah lagi."
Nurwa tersipu. Dia tidak bisa mengontrol raut wajahnya sekarang. Memerah seperti kepiting rebus. Adam mungkin sedang menangkap basah dirinya.
"Mungkin tidak dalam waktu dekat ini," ucap Adam memberikan kelembutan dengan senyuman. "Aku butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya. Aku juga yakin kamu pun begitu."
Nurwa manggut-manggut. "Aku bisa paham." Dia tersenyum sumringah. "Yang terpenting aku sudah mendapatkan kejelasan. Mas Adam akan menikahiku."
Adam tersenyum juga. Dia melanjutkan langkah kaki, diikuti perempuan itu di sampingnya. Nurwa memandang Adam. Entah bagaimana, tetapi sebelumnya Adam begitu menyayangi Laura. Perasaannya berubah begitu saja?
"Mas Adam, aku ingin tanya sesuatu." Nurwa menyela langkah kaki. Adam menoleh padanya. "Laura?" tanya Nurwa dengan ragu.
Adam mengerutkan kening. "Kenapa dengan Laura?"
"Mas Adam sudah tidak mencintainya lagi?" Nurwa mencoba mencari informasi, mungkin ada sisa rasa di dalam hati Adam.
Adam menggelengkan kepalanya. "Aku harus melupakan Laura, karena Laura juga melakukan itu."
"Kita sudah membuat keputusan masing-masing, kita tidak boleh menyesali apapun yang sudah kita putuskan." Adam menandaskan. "Kita harus bahagia dengan pilihan masing-masing," pungkasnya.
Nurwa memang mendapat kejelasan dari Adam, tetapi dia tidak mendapatkan kelegaan dari jawaban itu. Entah mengapa, Nurwa mencium aroma kebohongan dari Adam.
__ADS_1
Nurwa hanya percaya jika Adam tidak benar-benar melupakan Laura.
Nex.t