
Malam semakin larut. Keheningan menenggelamkan segalanya. Adam menunggu di serambi rumah, nyatanya Laura benar-benar menghiraukan kata-kata Adam. Gadis itu pergi secara diam-diam ketika Adam membereskan dapur.
"Kenapa belum pulang juga?" gumam Adam sembari melirik jam tangannya. "Sudah hampir pukul 12 malam."
Kekhawatiran semakin menjadi-jadi, Laura tidak menampakkan batang hidungnya juga. Ponselnya tidak aktif, entah sengaja dimatikan atau Laura memang ceroboh dengan tidak memperhatikan ponselnya.
Adam memutuskan untuk mengunci pintu rumah, dia akan mencari Laura. Kemanapun.
Gang demi gang Adam telusuri, celingukan ke sana kemari sebab ada banyak jalan tikus di sini. Adam hanya takut dia melewatkan Laura tanpa dirinya sadari.
"Laura, kamu yakin ini tempat tinggal baru kamu?" Suara bisikan seseorang menghentikan langkah Adam.
Adam menoleh, dia yakin itu Laura.
"Perumahan kumuh begini tidak cocok dengan gaun kamu yang cantik," katanya lagi. Dia tertawa, begitu juga dengan Laura.
Adam menemukannya. Dia melihat Laura dituntun oleh seseorang. Beruntungnya, orang itu adalah perempuan sebaya dengan Laura.
"Laura!" Adam berlari. Langkah kakinya membawa kecemasan luar biasa.
"Kamu kemana saja?" Adam langsung meraih bahu Laura. Wajah gadis itu memerah, seperti flu tiba-tiba menyerang.
"Maaf, tapi Om ini siapa?" Teman Laura mencoba menarik Laura, menyembunyikan Laura di belakang punggungnya. "Teman saya sedang mabuk jadi, jangan mengganggu."
"Mabuk?" Adam terkejut bukan main. Dia menatap Laura lagi. Penampilannya amburadul, tak seperti Laura yang dia lihat beberapa jam yang lalu.
Adam memperkenalkan diri. "Adam," katanya dengan singkat.
"Aku adalah ...." Adam berhenti. Laura meliriknya setengah sadar, tetapi Adam tahu apa maksud dari lirikan itu.
"Aku kakak keponakannya," ucap Adam dengan santai. "Kamu bisa memberikan Laura padaku. Aku akan merawatnya."
"Namaku Agnes," kata gadis itu. "Aku teman dekatnya Laura." Agnes menaruh curiga pada Adam.
__ADS_1
Agnes menatap penampilan Adam dari atas ke bawah. "Kamu yakin, kamu kakaknya Laura?" Agnes memicingkan mata. "Aku tidak pernah bertemu denganmu dan Laura juga tidak pernah bercerita tentangmu."
Adam menyunggingkan senyum. "Aku dari desa, baru sampai ke kota kemarin. Jadi, pasti asing melihatku," ucap Adam.
"Laura punya saudara dari desa?" Agnes semakin asing. Sesekali dia menatap Adam, lalu kembali pada Laura. "Ra? Kamu punya saudara dari desa?"
Laura bergumam di tempatnya. Dosis alkohol menguasai dirinya. Laura hanya setengah sadar, setidaknya dia tahu kalau yang di depannya benar-benar Adam.
"Tidak perlu khawatir!" Laura tiba-tiba membentak.
Laura mendorong tubuh Agnes dan berdiri sempoyongan. "Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa pulang sendiri." Laura menepuk-nepuk dadanya.
Agnes menggelengkan kepala. "Tidak! Tidak!"
"Kamu punya kebiasaan mabuk yang buruk, Ra!" Agnes menarik tubuh Laura lagi. "Aku tidak yakin kamu sampai ke rumah."
"Ada Pak Adam!" Laura tiba-tiba merangkul lengan Adam. "Aku bisa pulang dengan suamiku yang tampan!"
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan memastikan Laura menelepon kamu setelah sadar, Agnes." Adam berpamitan. "Kami pergi dulu. Laura butuh istirahat."
Agnes tidak bisa menolak. Dia membiarkan Adam pergi membawa Laura.
"Aneh sekali," gumam Agnes. "Sejak tadi Laura terus menyinggung tentang pernikahan, lalu tiba-tiba ada pria aneh yang mengaku kakak keponakannya?"
>>>>><<<<
Adam membaringkan tubuh Laura di atas ranjang secara perlahan, takut melukai tubuh ramping gadis itu.
Dipandangnya gaun cantik yang dikenakan Laura. "Pantas saja tubuhmu dingin semua," gerutu Adam. Dia mengambil selimut. "Bajumu terlalu terbuka."
Adam menyelimuti tubuh Laura perlahan-lahan. Namun, gadis itu menolaknya.
"Tubuhmu dingin semua!" tandas Adam sedikit ketus. "Tidak mau pakai selimut?"
__ADS_1
Laura tersenyum aneh. Matanya setengah terbuka, menerima cahaya lampu dari langit-langit ruangan. "Aku kepanasan," gumam Laura lirih.
Adam mengerutkan dahi. "Kamu bilang apa?" tanyanya. Jarak mereka cukup jauh, Adam sulit menjangkau suara Laura.
"Aku mau air," kata Laura lagi. Suaranya semakin habis dan serak.
Adam terpaksa mendekatkan wajahnya pada Laura. "Katakan lagi, kamu mau apa?" tanyanya. Adam tak suka aroma alkohol dari tubuh Laura, itu sangat menyengat.
Laura tiba-tiba tersenyum picik. Dia menarik leher Adam dan membawa wajahnya semakin dekat.
Adam membulatkan mata sempurna. "La-Laura ...." Adam melirih. "Kamu mabuk berat."
Laura tiba-tiba bertingkah manja. Mengalungkan tangannya di leher Adam. "Aku kepanasan," katanya lagi.
Adam akhirnya bisa mendengar suara Laura. "Panas?" Dahi Adam mengkerut heran. "Di luar sangat dingin. Ditambah lagi tubuhmu ...."
Ucapan Adam terhenti ketika Laura mengecup bibirnya. Seketika waktu terasa berhenti begitu saja. Adam membeku tak bergerak. Matanya tertuju pada wajah cantik Laura dari dekat.
Laura melepaskan ciuman itu. Dia tersenyum manis. "Suamiku tampan sekali!"
Mendengar kalimat Laura, Adam perlahan-lahan menyunggingkan senyum.
"Sayang, dia miskin!" gerutu Laura sembari menepuk-nepuk pipi Adam. "Dia tidak punya mobil, dia tidak punya rumah bagus, dan dia bahkan hanya punya satu payung butut."
Adam memudarkan senyum. Dia tidak berhak marah. Laura sedang kehilangan akal sekarang.
"Pak Adam!" bentak Laura. "Bisakah Pak Adam membelikan aku mobil? Aku nggak mau desak-desakan lagi di bus! Aku takut!"
"Takut?" tanya Adam memastikan. "Takut apa?"
"Ada pria tua yang terus melihat kakiku, dia orang cabul!" Laura tersenyum lagi. "Sepertinya lebih cabul dari kamu!"
Next.
__ADS_1